Menyusuri Eksotisme Gunung Prau – Dieng

Postingan ini merupakan inti dari perjalanan ke Dieng, pada tanggal 19-21 September 2014 lalu.

Setelah menjelajahi komplek candi arjuna yang bertabur bunga, menikmati kemilau hijau telaga warna dan pantulan coklat telaga pingilon dari ketinggian, dan yang terakhir menyusuri kemegahan kawah sikidang. Maka tujuan terakhir dan utama kami adalah pendakian gunung prau. Yahhaa…

Karena cuaca mendung, kami bergegas meninggalkan kawasan kawah sikidang. Tak berapa lama kami sampai di Dieng Kulon. Mampir ke Indomart, menambah persedian logistik, minuman dan keperluan tambahan lainnya.

Awalnya kami berencana mendaki via jalur Pathak Banteng. Tapi berdasarkan berbagai pertimbangan akhirnya kami memutuskan naik lewat jalur dieng. Tapi bukan jalur resmi Dieng kulon. Eeuunngg.. apa yaaa.. pokoknya pas naik itu ngelewatin sekolah (SMP) dan pemakaman di samping kirinya.

Waktu itu kebetulan sekolahan sudah masuk jam pulang sekolah jadi sudah mulai sepi. Jadi kami sempat numpang sholat dan packing ulang. Sempat bertegur sapa juga dengan salah seorang gurunya.

***

Jalur ini terbilang landai. Ahhaa.. pertimbangannya adalah karena diantara kami ada pendaki pemula. Dan berdasarkan saran dari guide, menurutnya jalur pathak banteng terlalu berbahaya untuk pendaki pemula. Cari aman, itulah yang kami putuskan.

Seperti biasa, diawal pendakian kami masih bisa jalan beriringan, satu kelompok. Menikmati suguhan alam yang bak lukisan. Ladang terasering terusun rapi, meliuk-liuk memgikuti kemiringan lahan, indah sekali melihatnya. Tanaman tumbuh baik dan subur. Bebungaan juga masih mendominasi, bahkan hingga puncak prau.

Eksotisme Gunung Prau. Berbunga-bungaaaa

Eksotisme Gunung Prau. Berbunga-bungaaaa

Belum genap setengah perjalan, kelompok sudah terbagi tiga.

Kelompok pertama, ada kris, lilah dan abang guide kite. Mereka duluan membawa tenda. Keputusan baguslah. Supaya setidaknya pas di atas udah dapat lapak atau kalau mereka tidak keberatan, tenda sudah siap huni. Haha

Lilah? Dia cewek sendiri diantara kedua cowok itu. Salut aja sih. Mengingat pendakian pertamanya di cikuray pada bulan mei lalu terbilang tidak terlalu mulus. Dan saya sempat khawatir dia bakal kapok dan ga mau dekat-dekat lagi sama yang namanya gunung. Ternyataa… dia malah addict, ketagihan. Haha.

Sedangkan saya dan tiga teman lainnya tertinggal di belakang. Alibinya sih, “Perjalan itu harus dinikmati.” Dengan alasan tersebut, maka kami berhenti setiap kami ingin. Haha.

Naahh… perkara berjalan paling belakang ini bukan hanya tentang menikmati, melainkan salah satu solusi yang berhubungan pada ketangguhan badan. Kesiapan fisik. Sebab tidak semua pendaki memiliki stamina yang prima. Maka siasatnya ya jangan ngoyo. Sesuaikan dengan kemampuan diri. Dan yang paling memahami kemampuan fisik seseorang tentu dirinya sendiri.

Setelah melewati hamparan ladang penduduk dengan sayur mayur yang tumbuh subur, kami disambut hutan pinus. Pertumbuhan pohon pinusnya tidak terlalu rapat. Tapi setidaknya jauh lebih baik dibanding gunung guntur, yang pohon pinusnya rata-rata masih kecil, yang jarak antar pohonnya sejauh mata memandang..huhu.

Sunset. Mahakarya Sang Pencipta. Foto dijepret oleh mpok Atik :-*

Sunset. Mahakarya Sang Pencipta.
Foto dijepret oleh mpok Atik :-*

Medan pendakian juga mulai menanjak. Harus mulai serius.

Mendaki gunung bukanlah tentang menaklukkan gunung, melainkan menaklukkan diri sendiri. Bagaimana kita tetap peduli dengan teman seperjalanan. Menaklukkan ego yang bisa jadi ada saja yang membuatnya tak terkontrol. Menekan rasa pessimis, keinginan menyerah karena puncak tak kunjung terinjak. Sungguh ini pelajaran yang takkan didapat di bangku sekolah di tingkat manapun. Dan jujur, saya masih dalam tahap belajar.

Di 1/3 perjalan akhirnya kami berempat dapat menyamakan langkah dengan kelompok kedua. Menikmati sunset bersama. Mengagumi pertumbuhan bunga daisy yang tersebar subur. Dan melintasi tower sutet yang berdiri gagah diketinggian Prau.

Tower di gunung Prau. lengkap dengan bunga daisy

Tower di gunung Prau. lengkap dengan bunga daisy

Sempat terasa mencekam ketika menjelang magrib. Jalan setapak tertutup kabut, jarak pandang sangat terbatas. Udara mendadak terasa sangat dingin, angin juga berhembus tak ramah.

Disinilah mengapa tetap berjalan bersama rombongan itu harus. Agar kita tetap bisa saling menjaga. Sebab ditengah suasana mencekam itu kami bertemu seorang perempuan yang terpisah dari rombongannya. Sendiri. Banyangiiiiin. Haha. Kalau saya jadi dia, pasti saya udah panik dan teriak-teriak gak jelas.

Dia nggak tau rombongannya ngecamp dimana. Naahh… kami pun bingung kelompok pertama yang membawa tenda ada dimana. Jadilah kami mengikuti insting, tetap jalan beriringan sesuai jalur.

Beruntung kemudian salah seorang penanggungjawab rombongan tersebut menyusul dan mengarahkan pesertanya. Sedang kami masih saja bingung dan tetap berjalan. Woww.. ini seru. Lumayan memacu adrenalin.

Tidak lama kemudian terlihat bayangan seseorang. Setelah memastikan, ternyata Kris.

Kami sampai di lokasi tenda tak jauh dari tempat pertemuan itu. Dua Tenda sudah berdiri.

**** 

Belum jam 7 malam namun suhu udara terasa membekukan. Tadinya saya kira sanggup bertahan, masak diluar tenda. Namun baru selesai memanaskan satu nesting air untuk membuat minuman hangat, saya sudah tak sanggup. Bahkan kaki sempat kram. Haha.

Maka kami siasati masak di dalam tenda yang kebetulan lumayan lebar ( muat 10 orang).

Sesuai rencana, untuk makan malam kami hanya masak mie (yang ini jangan ditiru. Mendaki bukanlah kegiatan ringan. Kita butuh asupan makanan yang lebih bergizi dari sebungkus mie instan). Hemat waktu dan tenaga, itu alasannya. Sekedar mengganjal perut. Namun walau hanya makan mie, tetap terasa nikmat karena dibumbui oleh kebersamaan.

****

Seperti biasa, dan lazim bagi para pendaki – hal yang paling ditunggu setelah bermalam di gunung adalah menyaksikan matahari terbit. Bahasa kerennya sunrise.. :p

Maka setelah sholat subuh kami bergegas menuju bukit. Kebetulan tidak jauh dari lokasi tenda. Jadi tidak perlu bangun jam 3 pagi, apalagi ditambah tracking. Heeuuhh… bangun sepagi itu, ditambah suhu yang teramat dingin, dan harus ngetrack itu PR binggoww taauu.. :mtgreen:

Dan..taraaaaa…

Sunrise Prau

Sunrise Prau

Beginilah suasana pagi kala itu..

Mungkin karena badan saya tipis, atau memang saya tak kuat dingin, beberapa kali tangan saya terasa kaku, hidung meler, mata bengkak. Untungnya di dekat sebuah tenda ada bekas api unggun. Disanalah saya numpang menghangatkan diri. Tapi seiring bertambah tingginya matahari, suhu dinginpun perlahan menghangat.

Setelah puas menikmati indahnya goresan tangan sang pencipta, kami bergegas kembali ke tenda. Ada yang langsung berbenah, ada yang berbaik hati mengambil tugas memasak. Kegiatan seperti ini merupakan hal indah lain yang bisa memperkaya khazanah karakter para petualang.

Bersiap turun gunung..^_^

Bersiap turun gunung..^_^

Selanjutnya mari melantai kembali. Menyusuri tapak-demi tapak, menuju episode lain kehidupan yang tak kalah penting.

Begitulah cerita singkat dari perjalanan hidup, perjalanan ke daerah Dataran Tinggi Dieng – Wonosobo. Ada banyak alasan bagi saya untuk kembali menjejakkan kaki ke tanah ini. Salah satunya adalah bunga Lily.

White Calla / Lily yang sudah lama saya cari. Yang karena tak yakin bunga ini ada/tumbuh di Indonesia, jadilah saya menyandarkan satu-satunya  harapan – semoga dapat berkunjung ke Taiwan. Jauh banget..hahah.

Dan saya beruntung menemukannya di Dieng, tanpa sengaja. Sebuah kehutan yang manis.

Oya, selanjutnya saya akan post mengenai Itinerary-nya. Bukan sesuatu yang istimewa. Tapi semoga dapat membantu teman-teman yang berencana berkunjung ke Dieng. Supaya tahu perkiraan waktu dan biayanya. So, see yaaa. (Itinerary bisa dilihat disini).

About azzuralhi

Ketika Anda tidak percaya tentang keindahan, selama itu pula Anda tidak akan pernah menemukan keindahan.

Posted on 18 Januari 2015, in Journey and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Hemmmm….. Makasih ya u review trip nya, jangan ngaku pecinta alam lo blm ke dieng.. Hehe. Jadi makin bangga jadi anak asli Wonosobo. Jangan kapok ya….
    Btw…. Lo ada rekan yang mau ke Dieng kami siap bantu, mulai dari jasa tour, sewa peralatan camping, guide, booking home stay , paket 2 hari 1 malam mulai 420.000. Yang berminat bisa hub 085697574894 Tolong share ya…. Happy holiday

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: