Bromo I’m In Love #4 [On The Way]

Late post nih sodara.. ngelanjutin cerita yang terpotong. Hahha.. Karena belum tuntas, saya merasa punya hutang. Sebenarnya masih banyak hutang-hutang yang lain. Seperti perjalanan ke Jogja bersama #BN2013, perjalanan ke pulau seribu-sudut lain kota jakarta, dan kegiatan-kegiatan lainnya yang tidak kalah menarik. Hahha

Jadi singkat ceritanya begini :

Perjalalan kereta api dari stasiun senen ke stasiun malang itu menghabiskan waktu kurang lebih 17-18 jam. Giliiiing itu pantat udah kayak apa tau rasanya. Berbagai pose sudah dicoba selama perjalanan itu. Ditambah saya nggak bisa tidur. Sumpah rempong banget. Entah kenapa kalau naik kereta saya nggak bisa tidur sambil duduk, sengantuk dan secapek apapun itu. Beda kalau naik bus, ngedemplak bentar juga udah molor.

Jadi selama perjalanan itu dari pada saya hanya bengong nggak ngapa-ngapain, jadi saya berselancar di watti. Nggak tau apa itu watti? Hareeee genieee gitu loh??!! Wkwk

Wattpad (dipanggil Watti)😛 itu semacam forum tulis menulis fiksi. Seperti FFN. Karena biasanya kalau udah capek baca saya bisa tidur. Tapi nyatanya sampai jam 3 pagi saya masih nggak bisa tidur.

Dan mungkin karena tuhan kasian sama saya, sekitar jam 3:30 segerombolan penumpang turun karena sudah samapi ditujuannya. Segerombolan. Tau artinya? Ada banyak bangku kosoooong. Tanpa pikir panjang saya langsung meluncur menduduki bangku-bangku kosong itu, merebahkan diri. Ternyata selain saya masih ada teman serombongan yang belum bisa tidur seperti saya. Mendapati bangku kosong itu kami serasa mendapat durian runtuh. “Fiiiuuhh.. akhirnya bisa tidur juga..”, gumamku. Tidak peduli kalau teman yang tidur didepanku itu cowok. Peduli amat. Mungkin tadinya dia agak risih. Tapi bodo amat. Saya capeeekkk dan butuh tidur. Tidak lama kemudian saya sudah terlelap.

===

Kami sampai di stasiun Malang sekitar jam 8:30. Setelah membiasakan diri kemudian rombongan menuju alun-alun kota malang. Menikmati kolam teratai yang berada tepat didepan Balai Kota Malang. Setelah puas menikmati keindahan dan berphoto-photo ria di taman tersebut kami segera melanjutkan perjalanan menuju Candi Jago.

Candi Jago berasal dari kata “Jajaghu”, didirikan pada masa Kerajaan Singhasari pada abad ke-13. Berlokasi di Kecamatan Tumpang,Kabupaten Malang, atau sekitar 22 km dari Kota Malang. Lebih lengkap mengenai candi jago bisa dibaca di wikipedia.

Jadi candi jago itu sebuah candi yang terletak di tengah permukiman penduduk, tidak terlalu luas. Saya lupa jarak tempuhnya berapa jam dari stasiun.. hahha.. 1 – 1,5 jam kali ya.. lupa..😛

Perjalanan selanjutnya menuju Desa Wisata Gubug Klakah, sebagai basecamp. Karena di desa inilah kami akan menginap di homestay yang telah disediakan. Di desa ini hawa pegunungan sudah mulai terasa, dingin. Berbeda dengan candi jago dan kota Malang.

Namanya juga Desa Wisata. Jadi selain menyediakan homestay, desa ini menyediakan guide yang handal, bertanggung jawab – intinya mereka baik-baiklah. Selain itu ada pengrajin yang menyediakan oleh-oleh, tapi sepertinya nggak terlalu banyak.

Oya, ngomong-ngomong tentang Malang tentu tau dong yang khas dari daerah ini? Yapss.. Apel Malang. Di desa ini juga banyak pohon Apelnya. Di halaman depan rumah penduduk, di halaman belakang rumahnya juga ada. Pokoknya dimana-mana ada pohon Apel. Tapi berhubung trip kami kali ini tidak termasuk wisata petik Apel, jadi kami hanya bisa menikmati pemandangan perkebunan apel di sepanjang jalan yang kami lalui. Tapi saya dan seorang teman iseng kehalaman belakang rumah seorang penduduk. Yah dari pada duduk nganggur dipinggir jalan, nunggu teman-teman serombongan yang belum nyampe,homestay masing-masing juga belum dibagi.

Niatnya Cuma mau menikmati pemandangan  indah disana, ternyata disana juga ada kebun Apel, ya walaupun dibatasi pagar dan kami tidak bisa masuk. Hehee.. tapi tetap bisa menikmati melihat apel di pohonnya.

===

Singkat kata kami sudah dibagi homestay, mungkin kelompok saya yang pertama mendapat homestay. Beruntung kami dari kalangan “bawah” semua, jadi nggak ada yang rewel masalah homestay dan tempat tidur, yang penting bisa merebahkankan badan itu sudah cukup. Hahhaa..

Homestay Bapak Bagong, itu yang tertulis di palang depan rumah tersebut, yang menandakan bahwa rumah tersebut milik keluarga Bapak Bagong. Sampai dirumah tersebut kami langsung disambut ramah oleh Ibu Bagong. Dipersilahkan ke kamar, bersih dan nyaman. Lalu dipersilahkan makan atau mandi terlebih dahulu.

Homestay Bapak Bagong  - Desa Wisata Gubug Klakah - Bromo - Malang

Homestay Bapak Bagong – Desa Wisata Gubug Klakah – Bromo – Malang

Untuk menghemat waktu, kami menyiasatinya dengan berbagi kegiatan. Ada yang mandi duluan dan ada yang makan duluan. Kami harus cepat karena selanjutnya kami akan mengunjungi Coban Trisula dan Coban Pelangi.

Beruntung homestay kami ada air hangat buat mandi. Berhubung kami agak katrok, jadi agak bingung cara menyalakan shower air hangat tersebut. Dan si ibu hanya tersenyum simpul memaklumi.

Dulu sebelum punya mesin penghangat air, si ibu biasanya sengaja menjerang air buat mandi para tamunya, khususnya untuk tamu cewek. Karena menurut si ibu, cewek lebih nggak tahan dingin. Pelayanan tersebut ditiadakan untuk tamu cowok. Biarin mandi air dingin, atau kalau mau air hangat silahkan panasin sendiri.. hahha, jahat juga si ibu.

Mesin penghangat air tersebut agak berisik, jadi muncul sedikit kekepoan dalam diri saya. Saya perhatikan secara seksama mesin yang menempel didinding kamar mandi tersebut. Glek… ada api…!! saya bingung, takut api, takut kebakaran. Langsung saya matikan stop kontaknya. Lalu saya perhatikan lagi, kok apinya juga hilang? Kemudian saya nyalakan lagi, dan ada api lagi. Kemudian saya matikan lagi, apinya hilang.. huufffhhh… ternyata memang begitu cara kerjanya. Ya sudah saya nyalakan lagi. Tapi kok tiba-tiba air yang mengalir malah dingin. Karena airnya memang benar-benar sangat dingin, saya keluar mencari si ibu. “Ibu, maaf, airnya kok dingin ya?” tanyaku. “Stop kontaknya udah dinyalain?”, tanya si ibu sembari menuju kamar mandi. “owh, gasnya habis. Maaf ya, ibu ganti dulu”, lanjutnya.

“Owh pake gas ya bu..?”, mungkin tidak terdengar oleh si ibu. Kok aneh, kan terhubung ke listrik, kenapa mesti pake gas lagi ya. Jadi api yang tadi itu sumbernya dari gas.. ya ya ya,  saya bergumam dalam hati. Tapi ya sudahlah, yang penting nggak mandi pake air dingin.

“Nah, gasnya udah diganti. Silahkan dilanjutkan mandinya, nak.”  Ibu Bagong menghampiri saya lengkap dengan senyum hangatnya. “Owh, oke, makasih ya bu”, saya menjawab sambil tersenyum.

Rumah Ibu Bagong agak sepi, tidak ada orang selain beliau sendiri membuat kami bertanya-tanya. Padahal diruang keluarga terpajang photo keluarga, bapak dan ibu Bagong serta anak-anaknya. Setelah kami menyampaikan kekepoan kami, terjawablah pertanyaan itu. Anak perempuannya sudah menikah dan ikut suaminya. Bapak Bagong dan anak lelakinya sedang narik.

Narik disini maksudnya, ya narik.😛 .

Narik mobil jeep. Mengantarkan pengunjung ke Bromo atau Ranu Pane. Maklum medan yang harus dilalui disana cukup terjal, ditambah musim hujan yang menyebabkan jalanan licin dan genangan air dimana-mana.

=== TBC ===

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

About azzuralhi

Ketika Anda tidak percaya tentang keindahan, selama itu pula Anda tidak akan pernah menemukan keindahan.

Posted on 24 Maret 2014, in Journey, Personal and tagged , , , . Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. Serunyaaaa. Saya yang orang Jawa Timur malah belom pernah ke Bromo. huehehehe. Selalu pengen deh kalo baca cerita temen yang ke sana.

    Suka

  1. Ping-balik: Bromo I’m In Love #5 [Dua Coban] | A SHORT JOURNEY

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: