Berburu Gerhana Berdarah di Planetarium Jakarta

Tidak terasa tahun 2014 ini sudah menginjak bulan Oktober. Bulan yang istimewa.
Istimewa karena adik dan beberapa kerabat lahir di bulan ini. Bulan bahasa juga jatuh bulan ini. Dan hari sumpah pemuda (28 Oktober).

Lebih dari semua itu, bulan ini banyak fenomena astronomi yang terjadi. Salah satunya terjadi pada tanggal 8 lalu terjadi gerhana bulanberdarah. Wow.. istimewa sekali.
Karena fenomena tersebut, saya dan seorang teman sengaja mengunjungi Planetarium, tempat yang tepat untuk turut menyaksikan – seperti apa sih penampakan bulan berdarah itu. Karena pastinya di Planetarium memiliki peralatan canggih yang dapat memaksimalkan pengamatan.

Awalnya kami janjian ketemu jam 3. See?? Bukankah jam 3 itu masih terang? Haha
Saking bersemangatnya, kami berencana datang lebih awal karena takut tidak kebagian tempat, lalu kehilangan momen. Namun pada akhirnya, bukan saya kalau janjian tidak telat datangnya. Saya sampai sekitar jam 4 sore.😀

Sampai di lokasi, dia sudah mengantongi tiket pertunjukan. Menyambutku dengan wajah sumringah dan nampak exited, sama bersemangatnya sepertiku. Kami tidak bisa menebak pertunjukan macam apa yang akan kami saksikan. Yang ada di benak kami hanya tentang “Bulan Gerhana Berdarah” atau bahasa kerennya Blood Moon.

20141008_160843

Planetarium terletak di Taman Ismail Marzuki (TIM). Tak pernah ada kata sepi di tempat ini. Berbagai komunitas selalu datang untuk meramaikan tempat tersebut. Komunitas pencinta seni, sastra, astronomi, film hingga komunitas pendaki. Ada saja. Karena disana memang memiliki fasilitas untuk itu semua. Panggung kesenian, teater, bioskop dan planetarium.

Seperti anak kecil yang menemukan mainan baru, kami berbaris riang diantara anak-anak sekolah yang kebetulan juga berkunjung kesana.

20141008_160952

Tidak ada pengaturan kursi berdasarkan nomor tiket seperti ketika kita nonton bioskop. Disini pengunjung bebas duduk di mana mereka suka. Seperti nonton di bioskop, sebaiknya tidak duduk terlalu depan supaya dapat menikmati pertunjukan. Sebab media/layarnya berupa langit-langit ruangan yang melengkung ke atas. Yang apabila dilihat dari luar seperti bulatan telur, seperti bumi juga.

20141008_161809

Akhirnya kami menemukan tempat duduk yang pas. Tidak seru jika harus berebut dengan anak-anak sekolah. Aduh, please, kami tak lagi muda lagi – meski yaaa… banyak yang menyangka kami ini anak-anak yang baru lulus SMA.. haha
Setelah semua pengunjung mendapat tempat duduk, kami diarahkan untuk tidak berisik, tidak menyalakan hp atau mengambil gambar (karena itu super duper percuma). Maka dimatikanlah lampu dan segala sumber cahaya yang dapat mengganggu kekhusyukan pertunjukan tersebut.

Dan saya masih tidak dapat menebak apa yang akan kami saksikan bahkan hingga 15 menit berjalan. Saya masih berpikir kami akan menyaksikan Gerhana Berdarah.
Tapi ternyataaa… Hahaha. Sebuah pertunjukan yang pernah saya saksikan beberapa tahun yang lalu.

Disana diputarkan mengenai tata surya. Keindahan angkasa ketika malam hari, langit bertabur bintang. Indah sekali. Rasanya seperti sedang pulang kampung atau sedang ngecamp di puncak gunung. Sederhananya karena tempat-tempat yang jauh dari perkotaan masih memiliki langit yang jernih. Tidak terhalang gedung yang menjulang tinggi, atau jelaga polusi.
Kita juga dapat melihat berbagai rasi/bintang yang memiliki bentuk-bentuk yang aneh bahkan familiar. Seperti ikan, kambing, ular dst. Lalu diterangkan pula mengenai matahari dan planet yang mengelilinginya.
Planetarium tentu tempat yang cocok sekali untuk mengenalkan tata surya dan astronomi pada anak-anak.

"otak" pertunjukan

“otak” pertunjukan

***

Tidak ada yang salah, tetap indah. Namun efeknya tidak seseru ketika pertama menyaksikannya dulu – beberapa tahun silam, ditambah pikiran tentang gerhana mengganggu pikiran.
Aduhai, kalau kami didalam ruangan ini, bagaimana kami bisa menyaksikan gerhananya. Sementara, berdarkan informasi yang beredar, seharusnya proses gerhana sudah dimulai.

Pertunjukan berlangsung kurang dari satu jam. Setelah pengunjung mulai sepi, kami menyempatkan diri untuk bernarsis ria dalam ruang pertunjukan. Lalu setelah bercakap-cakap dengan beberapa petugas,akhirnya kami mendapat pencerahan. Bahwa untuk ikut mengamati gerhana secara langsung ada tempat khusus. Yaitu di atas atap gedung. Wow… ini terdengar keren. Haha.

Maka kami berdua segera bergerilya mencari jalan menuju atap gedung. Tidak ada penunjuk jalan. Tapi melihat beberapa orang di atas atap, berdasarkan insting kami berdua menyusuri sebuah lorong. Dan, yaappp.. ketemu. Dan…masih sepi.

Belum ada pengunjung selain kami berdua. Yang lainnya merupakan para petugas yang akan memandu dan memimpin acara pengamatan tersebut. Tadinya, sebelum naik kami diajak seorang pengunjung untuk mengisi perut, masih lama – katanya. Dan kami memang lapar. Namun apalah daya, rasa ingin tahu mengalahkan rasa lapar kami.

Setelah menginjakkan kaki di lokasi pengamatan, mumpung masih sepi, masih terang, dan bulan belum terlihat, mari bernarsis ria.

20141008_172236

20141008_173009

Tidak lama kemudian atap gedung mulai dipadati pengunjung. Awalnya yang datang kebanyakan merupakan awak media yang bertugas meliput fenomana yang cukup fenomenal ini.

Bagaimana tidak, setelah terjadi bulan April lalu, Indonesia tidak punya akses untuk menyaksikan. Maka kali inilah kesempatan bagusnya, sebab hampir seluruh wilayah Indonesia dapat menyaksikannya. Setelah tahun ini, masih ada tahun depan. Dalam dua tahun ini, akan ada empat gerhana yang disebut tetrad yang terjadi hanya tiga kali dalam 500 tahun terakhir. Benar-benar langka dan merugi jika sampai terlewatkan.

sumber : kaskus

sumber : kaskus

Dan semua khalayak tentu sudah mafhum. Bahwa malam itu, langit Jakarta dan sekitarnya tertutup mendung. Memang, mendung tak berarti hujan, tapi berkat mendung itu, fenomena langka ini tak bisa dinikmati. Malam itu langit Jakarta benar-benar sehitam jelaga. Mendung bercampur asap, polusi, tentu saja.

Hingga menjelang jam 8 malam kami masih bertahan di atas atap. Masih berharap. Namun mendung tak ingin beranjak. Justru kami yang teerpaksa beranjak, mengingat letak rumah teman ini lumayan jauh. Ditambah perut yang mulai meraung minta diisi.

20141008_174614

Setting Teleskop sembari nunggu

20141008_175727

20141008_175837

Dikelilingi Awak Media

Maka kami beranjak dengan rasa kecewa. sama kecewanya dengan pengunjung yang lain, dan sebagian warga.

Tapi, setidaknya kunjungan ini tidak benar-benar tanpa hasil. Masih ada pengalaman, informasi dan obrolan menarik yang bisa disimpan sebagai pengetahuan yang tak kalah bagusnya.

Next post.😉

About azzuralhi

Ketika Anda tidak percaya tentang keindahan, selama itu pula Anda tidak akan pernah menemukan keindahan.

Posted on 13 Oktober 2014, in Catatan and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: