Elegi April

Selamat pagi, dan selamat datang padamu, May. Aku akan mencoba menerimamu, yahh.. Aku memang harus menerimamu, mau atau tidak. Harus! Sekuat apapun usahaku untuk menolakmu, itu tidak akan berhasil. Kau tahu dengan baik, sebab bumi ini berputar, waktu terus berjalan.

Dan inilah kita, berhadapan dan bersinggungan, akan berlangsung selama satu bulan. Bahkan tanpa sadar mungkin kita akan saling membutuhkan. Haha. Begitu banyak hal konyol di dunia ini. Kita akan saling membutuhkan, padahal awalnya hati dan pikiranku masih penuh oleh April. Hahaha.

Upsss… Aku tidak sedang menertawakanmu, santai saja.

Hmmm..?? Kenapa? Apa aku harus mengedipkan mata untuk merayumu dan membuatmu percaya?

“…”

Silahkan bermimpi!! Aku tidak akan pernah melakukan hal-hal memalukan sekaligus menjijikkan seperti itu hanya untuk memenangkan hati siapapun, termasuk kamu. Konyol.

Dengar, aku tidak keberatan padamu, tidak sama sekali. Aku hanya merasa kau datang terlalu cepat, aku belum siap. Jadi, jangan terlalu berkecil hati. Kita jajaki jalan ini perlahan.

Kamu percaya pada waktukan? Dia bisa merubah segalanya, membuat hal tak mungkin menjadi hal sepele baginya. Dia bisa melakukan hal-hal yang tak pernah kamu bayangkan. Bukankah dia hebat?

***

april (1)

April, puaskah kamu membuatku begini? Kau datang dan pergi sesukamu tapi aku tidak pernah bisa menghapusmu dari angan-angan ini, membayangi bagai hantu.

Jelas aku keberatan kau pergi karena ada banyak hal yang belum terselesaikan diantara kita. Bahkan aku ingin kau memberiku kesempatan jikapun itu hanya satu hari. Ya, satu hari. Setidaknya aku akan menyelesaikan semua tanggunganku. Tapi kini semua harapku sirna, kau melaju tanpa pernah mencoba mengimbangi keinginanku.

Bagaimanapun usahaku untuk membencimu tidak pernah ada hasilnya. Nyatanya aku selalu menantimu dengan tak sabar. Bahkan berharap Maret tak pernah ada. Dan jika aku bersikeras seperti itu, bukankah artinya aku menyalahi aturan? Akan ada tatanan yang tidak sesuai dengan apa yang telah dibakukan!!

Aku menggilaimu sedemikian rupa. Kalau dipikir apa bagusnya sih, kamu?

Setiap kamu datang justru akan menambahkan satu angka pada bilangan umurku. Sialan! Setiap kau datang aku akan semakin tua. Dan setiap kau datang, kau menohokku dengan sekumpulan tanya.

“Apa saja yang telah kau  lakukan? Di angka tersebut apa saja yang telah kau capai? Apa kau sudah menikah? Bagaimana anak-anakmu, mereka pasti akan terlihat lucu?” kau mengejekku dengan pertanyaan-pertanyaan sakral, yang tak pernah ingin kudengar dari siapapun. Tapi kau! Dengan lancang, menanyakannya dengan santai. Tanpa beban, benar-benar tak bisa mengertiku.

Sial!! Sialan!! Kenapa aku tak pernah bisa membalasmu, yang ada wajahku justru bersemu ungu, menunduk malu, lalu jemariku memintal ujung kemeja biruku. Persis anak yang baru menginjak masa remaja.

Ah sudahlah, April. Yang jelas kau telah berlalu sejak angka yang tertera pada jam dinding yang kaku karena kesendiriannya, menunjukkan angka 00:00. Kebersamaan kita telah usai. Dipisah paksa oleh sang waktu.

Lagi-lagi waktu. Aku benci dengan waktu yang dengan kejam mampu mengubah segalanya. Merampas semua hal berharga bagiku. Saking bencinya aku pada waktu, pernah terbersit harap semoga waktu tak lagi punya eksistensi.

Tapi apa yang terjadi jika waktu tak lagi ada? Aku pasti gila!  Sebab jika waktu tak lagi ada berarti kematian bagiku. Dan munafik jika kau kira aku siap untuk mati. Aku masih banyak hutang, masih banyak dosa yang belum terampuni, Ril. Itulah mengapa aku belum siap untuk mati.

Baiklah, malam tak lagi muda dan tak baik bicara tentang mati. Kecuali jika itu membuat kita memperbaiki diri dan menyiapkan bekal yang mumpuni. Aku mungkin bukan orang baik-baik, namun biar bagaimanapun, aku berharap mati dalam keadaan yang baik. Tidak salahkan jika aku berharap demikian?

Seseorang pernah bilang,
Bermimpilah, setidaknya kamu punya tujuan untuk dicapai. Setidaknya ada yang kau pelajari jikapun gagal.

Selamat tinggal April. Jika beruntung mungkin kita bisa bertemu kembali tahun depan. Dengan cerita yang berbeda, tentunya.

#Seseorang yang mengerti kwalitas belum tentu mampu menghasilkan karya yang berkwalitas-pasti

waf_April_Showers

About azzuralhi

Ketika Anda tidak percaya tentang keindahan, selama itu pula Anda tidak akan pernah menemukan keindahan.

Posted on 1 Mei 2014, in Fiksi, Personal. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: