Bagaimana Jika Eksekusi Gembong Narkoba Hanya Isapan Jempol?

image

Menurut berita, dini hari tadi, konon kabarnya, para terpidana narkoba itu telah dieksekusi. Kabar besar. Dan harusnya melegakan.

Tapi entah kenapa, terlintas di benak saya sebuah pertanyaan yang sebenarnya membuat saya sendiri geleng-geleng kepala, “Bagaimana jika semua itu hanya sandiwara?”

Bagaimana kalau sebenarnya mereka tidak dieksekusi. Hanya beritanya saja dibuat besar, namun para terpidana disembunyikan di suatu tempat yang hanya “mereka” yang tahu.

Mengapa saya sampai berpikir begitu?
Karena kita sudah terbiasa menyaksikan berita yang intinya cuma blunder semata.
Pemerintah terlalu banyak main sandiwara.
Dan kita sudah terbiasa. Bahkan berpikir negatif dan sarkastik jadi makanan sehari-hari. Setiap berita berada diposisi abu-abu. Haaaa..

Ngomong-ngomong, mereka yang berteriak lantang tentang HAM dan menuntut terpidana narkoba dilepaskan sungguh tidak masuk akal.
HAM yang mana yang mereka bicarakan?

– Masyarakat kita sendiri banyak yang mendapat hukuman mati di luar sana. Demi alasan apapun setiap kejahatan harus mendapat balasan yang setimpal. Apalagi pengedar narkoba ini, bukti dan saksi jelas, sepanas matahari.

– Toh di negara-negara barat yang konon katanya menjunjung tinggi HAM, memberlakukan hukum mati terpidana narkoba tanpa pikir panjang.

– Dari pada memperjuangkan HAM bagi 1 (seorang) terpidana, pengedar narkoba, yang kesalahan mereka jelas telah melanggar HAM itu sendiri, tentu lebih baik kita mengkhawatirkan tentang HAM kita sebagai orang tua. Hak kita untuk menyaksikan anak-anak tumbuh gilang gemilang tanpa narkoba.

– Ada komentar sinis semacam ini:  “Mengkonsumsi Narkoba atau tidaknya seorang anak tergantung pengawasan orang tuanya”.
Hellloooo… sebagai orang tua apa iya ente bisa mengawasi anak anak hingga 24 jam?
Mereka bergaul, mereka punya kehidupan sendiri di luar sana. Teman-teman sepergaulan yang entah seperti apa. Atau bisa jadi tiba-tiba mereka dijebak hingga kemudian mereka jadi pecandu dan akhirnya diam-diam jadi pengedar. Jangan tutup mata. Yang begini banyak terjadi.

So, masih mau mikirin HAM untuk para perusak anak bangsa-gembong narkoba? Pikir lagi!!

Dan kalau seandainya pemerintah memilih menyelamatkan para pengedar narkoba ini, saya yakin bukan karena alasan HAM. Tapi something bussines. Bisa jadi kesepakatan bisnis pada para gembong narkoba, atau negara asal sang pengedar. Tentu dengan deal-deal yang menguntungkan.
Seelah deal-deal disepakati, lalu dibuatlah berita atau membuat situasi seakan-akan telah dilakukan eksekusi, gembar-gembor telah dimakamkan, ternyataaa zooonk. Desing peluru yang gaduh ternyata yang ditembak cuma seonggok boneka.
Yang dikubur cuma gedebong pisang.

Jangan terlalu serius dengan tulisan ini. Judulnya saja “Bagaimana Jika..”:mrgreen:

About azzuralhi

Ketika Anda tidak percaya tentang keindahan, selama itu pula Anda tidak akan pernah menemukan keindahan.

Posted on 29 April 2015, in Catatan. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: