Dear April

 

Dear April,

Tak perlu ku ungkap bagaimana perasaan ku pada mu.
Kau tahu itu.

Kebersamaan kita bukan sesuatu yang baru dimulai kemarin sore, sebab hampir seluruh hidup ku telah ku lalui bersamamu. Kehangatan cinta dan segala moment indah yang kita ukir bersama, sungguh tak mungkin terlupakan.

Bagaimana pun usaha ku untuk lepas dari bayang mu, tetap tak bisa.

Aku ingin tetap bersama mu, meski takdir menentukan aku untuk bersama Desember. Tapi aku sungguh tak bisa bersamanya, aku takut menyakitinya sebab aku takkan pernah bisa menerimanya. Bukan karena dia tak pantas, namun aku yang tak pantas untuknya. Aku tak pantas bersamanya karena hati ku hanya untuk mu, ini akan menyakitinya.

Desember sudah berusaha membangun momen antara kami, agar aku membuka hati ini untuknya. Dan dia tidak tahu yang sebenarnya. Dia terus saja berusaha dan berusaha, tetap percuma.

Sampai kemudian dia tahu yang sebenarnya, dia memaksa dan mengancam ku. Ancamannya sungguh mengerikan, membuat ku menurut bak kerbau yang dicocol hidungnya.

Desember adalah seseorang yang sudah dipilihkan orang tua ku sejak kecil,sejak hari pertama aku menghirup udara udara bebas dunia ini.

Semula aku tak tahu mengenai perjodohan ini, sampai suatu ketika ayah ku jatuh sakit dan tidak lama kemudian ayah meninggal. Terpukul, tentu saja.

Tak banyak kenangan tentang kebersamaan kami, sebab sejak kecil aku ikut saudara ku, pulang hanya sesekali saja.

Sempat aku merasa bagai anak tak berguna, tak berbakti dan semua hal buruk lainnya.

Disaat keterpurukan karena rasa kehilangan dan rasa bersalah ini memuncak, aku mencoba mengais kenangan yang mungkin masih tersisa dalam berkas-berkas yang tersusun rapi diatas mejanya.

Ku bolak-balik album keluarga kami, membersihkan koper usang miliknya dan tanpa sengaja aku melihat selembar kertas kramat itu.

Kertas keramat yang membuat ku linglung sesaat. Aku tidak tahu harus bicara apa, menangis-campur aduk.

Semuanya sudah terbongkar,dan jujur aku kecewa kenapa dulu ayah tidak pernah memberi tahu aku. Kenapa.? Sesulit itukah untuk bicara.?

Dan terhadap keluarga ku, aku sudah berusaha menjelaskan dan menolak hal bodoh ini, tapi mereka memelas. Entah apa yang membuat mereka sebegitu takutnya. Mereka bilang inilah takdir ku, dan aku tidak boleh melawan takdir. Lalu ibu, dia bersimpuh, memohon agar aku menuruti perjodohan itu. Aku memang tidak pernah sanggup melihat air mata ibu, apalagi beliau sampai bersimpuh seperti ini, aku tidak sanggup membantahnya dan akhirnya aku menurut. Tidak lama kemudian, aku dan Desember dipertemukan.

Rupanya Desember tidak keberatan sama sekali dengan perjodohan yang tidak masuk akal ini, dia berusaha mendekatiku, berusaha membuat ku senang dan membangunkan ku dari keterpurukan atas kepergian ayah.

Sejak saat itu aku berusaha menjauh dari mu. Sulit.

Kau berbeda dari Desember, tentu saja. Aku mencintai mu sedangkan terhadap dia tidak.

Aku tetap menemui mu ketika dia sedang sibuk. Toh aku harus tetap melanjutkan kuliah-bersama mu. Dan dia sendiri sibuk dengan segudang aktifitas yang selama ini dia banggakan.

Owh..sebagaimana kata pepatah -sepandai pandai tupai melompat sesekali pasti akan terjatuh, atau -sebaik-baik menyimpan bangkai pasti baunya akan tercium.

Sore itu, sepulang dari kampus-atau lebih tepatnya setelah menghabiskan hari bersama mu, ku lihat Desember duduk dengan wajah ditekuk disudut teras rumah ku.

Benar saja, belum sempat ku sapa dia sudah meledak-ledak duluan, membuat ku bingung. Dan untungnya waktu itu sedang tidak ada orang dirumah.

Dia tahu aku jalan sama kamu, katanya, akhir-akhir ini dia melihat kita sering bersama, terlebih karena aku mulai acuh padanya.

Aku berusaha menjelaskan seperti apa hubungan diantara kita,dan tidak seharusnya dia memaksa masuk begitu saja. Tapi dasar laki-laki, dikatakan demikian dia merasa dipermalukan dan tidak dihargai.

Saat itulah dia mengeluarkan kata-kata yang mengerikan itu. Dia akan melakukan apa saja asal kita bisa berpisah, bila perlu dia akan melenyapkan mu tanpa bekas. Rasanya dunia ku runtuh untuk kedua kalinya.

Cukup satu kali aku kehilangan orang yang aku sayangi, dan aku tidak mau itu terulang, meski itu harus ku bayar dengan kata-kata pahit yang saat itu membuat mu sangat terluka, aku bisa merasakannya karena aku tahu kamu. Aku menurutinya untuk tak lagi menemui mu,sebaliknya aku selalu bersamanya. Hampir tidak ada celah untuk lepas dari pengawasannya.

Aku sudah berusaha bertahan, membesarkan hati dan terlihat sebahagia mungkin, baik didepannya maupun didepan keluarga besar kami ketika kami bersama. Aku bertahan -mencoba. Akhirnya aku tak lagi kuat berpura-pura. Seharusnya dia sadar, percuma memiliki jasad ku, tapi tidak dengan hati ku, tidak,dia tidak pernah mendapatkan hati ku.

Ketika dia sudah mulai mempercayai ku, pengawasannya tak lagi terlalu ketat. Apa lagi kegiatannya semakin menggunung, belum lagi pekerjaannya yang mengharuskannya keluar kota bahkan kadang keluar negeri.

Kesempatan itu aku gunakan untuk mendekati mu lagi,dan kau ternyata tidak pernah benar-benar marah. Aku mencintai mu, dulu,kemarin,sekarang bahkan seterusnya. Aku akan selalu mencintai mu. Aku tak lagi takut dengan ancamannya. Surat perjanjian itu sudah ku terbangkan bersama dinginnya angin malam. Surat itu sudah ku bakar hingga jadi abu.

Hari ini, tanggal 5 April, hari ulang tahun kita. Dan aku berjanji untuk selalu bersama mu, seberat apapun rintangan yang akan menghadang kita didepan sana -meski sebenarnya aku terlahir bulan Desember.

Aku mencintai April, sebagaimana aku mencintai mu. Meski april bukan bulan kelahiran ku yang sebenarnya, karena dulu waktu pendaftaran sekolah terjadi suatu keliruan, sebuah kekeliruan yang sekarang sangat aku nikmati.

Dan aku berjanji untuk menghilangkan semua jejak yang berhubungan dengan Desember, aku akan mengganti akte kalahiran ku dan juga KTP, sebab sejauh ini pembuatan KTP selalu berdasarkan Akte Kelahiran.

Aku akan menggantinya, meski resikonya aku harus menerima kenyataan bahwa umur ku akan jadi lebih tua dari yang seharusnya.

Seharusnya hari ini aku masih berusia 23 tahun, tapi karena cinta ku pada mu -April, aku harus rela menuliskan angka 24 disetiap isian yang menanyakan umur.

5 April 1988 – 5 April 2012, April Aku benar-benar mencintai mu. Ada banyak moment yang begitu manis dan tak terlupakan dalam bulan April. Dia April, bulan kelahiran ku:mrgreen:

 

About azzuralhi

Ketika Anda tidak percaya tentang keindahan, selama itu pula Anda tidak akan pernah menemukan keindahan.

Posted on 5 April 2012, in Kelana kata. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: