Kebebasan Yang Tertahan

120px-Montage_of_Manila

Sebagai sesama negara Asean, Filipina hampir serupa dengan Indonesia, sebagai negara kepulauan dan memiliki banyak suku etnis dan bahasa. Banyak sektor yang bisa dijadikan sebagai pilar perekonomian, seperti perindustrian, perdagangan dan pariwisata serta sosial budaya.

Nama resmi : Republika Philipinas

Ibukota : Manila

Luas wilayah : ± 400.440 km²

Jumlah penduduk : 87.857.473 (2005)

Kepadatan : ± 220 jiwa/km²

Agama : Katolik (85%), Kristen (5%), Islam (4%), dan agama lainnya (6%).

Suku bangsa : Filipina, Melayu, Spanyol, campuran antara Melayu-Spanyol, dan Moro Negrito.

Mata uang : Peso

Bahasa : Tagalog, Inggris, dan Spanyol

Lagu kebangsaan : Lupang Hinirang (Tanah Air yang Dicintai)

Kemerdekaan : 12 Juni 1946 (bekas jajahan Spanyol dan Amerika Serikat) dan diakui secara de facto oleh Amerika Serikat pada tanggal 4 Juli 1946.

Filipina merupakan negara republik yang merdeka “dua kali” yaitu pertama dari pendudukan Spanyol sedangkan kedua mendapatkan kemerdekaan dari Amerika Serikat. Negara yang berpenduduk sekitar 90 juta jiwa ini merupakan negara kepulauan yang terdiri dari 7.107 pulau dan memiliki luas total daratan sekitar 300.000 km².

Jadi tidak heran jika kehidupan sehari-hari masyarakatnya sangat kebarat-baratan, mulai dari budaya hingga bahasanya. Filipina merupakan salah satu negara Asean yang paling banyak menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa sehari-harinya. Mulai dari anak-anak kecil hingga orang tua, tak terbatas umur maupun profesi.

Dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara, Filipina berbeda dalam hal kebebasan/demokrasinya. Boleh dibilang bahwa Filipina adalah negara yang paling bebas, mungkin dalam segala hal.

Namun berdasarkan Indeks Kebebasan Pers 2013 yang dirilis oleh Reporters Without Borders (RSF), Filipina menepati  ke-172 dari 179 negara. Di Asean kebebasan pers di Vietnam menduduki peringkat ke-10.

Di Filipina banyak terjadi pembunuhan terhadap pekerja pers, pegiat blog pun tidak luput dari incaran pemerintahnya. Setiap konten difilter untuk keperluan politik dan apabila tida berkenan maka mereka akan dijadikan sasaran. Hal in tentu sangat disayangkan, padahal berdasar informasi yang terdapat di Wikipedia, Filipina merupakan negara Asia tenggara yang memiliki tingkat kebebasan demokrasi yang tinggi.

Hal ini menjadikan Filipina sebagai negara paling berbahaya bagi wartawan di urutan ke-3 dan telah disandang Filipina selama 4 kali berturut-turut

Pada 23 November 2009 silam, 34 wartawan dibantai di Ampatuan, Filipina oleh seorang politisi setempat. Untuk mengenang para korban, dibangunlah Press Freedom Monument. Tapi sebenarnya monumen ini dibangun untuk mengenang pembunuhan wartawan yang lain. Sungguh tragis memang, betapa banyak wartawan yang meregang nyawa di Filipina. Monumen ini dimaksudkan agar rakyat Filipina menghargai kebebasan pers, terutama pada Hari Kebebasan Pers Sedunia setiap tanggal 3 Mei. Ironisnya, hanya 3 bulan berselang sejak peresmian, 34 wartawan kembali dibantai.

Tak hanya wartawan yang diawasi oleh pemerintah, namun juga kebebasan para blogger juga dibatasi. Mereka bisa bicara blak-blakkan tentang apa saja, namun ketika bicara tentang politik mereka tak mampu berkutik terlalu banyak.

Padahal blogger merupakan salah satu alternatif dalam penyebaran informasi atau jurnalis warga. Blogger dan jurnalisme seharusnya digandeng oleh pemerintahnya untuk bersama-sama memajukan negaranya, bukan malah sebaliknya, dibatasi, dikurung dan dibantai tanpa perturan hukum yang jelas.

Untuk itu, memasuki Easean Community 2015, semoga pemerintah Filipina segera berbenah. Dunia sudah sedemikian canggih dan terbuka, tidak seharusnya mereka sedemikian tertutup sampai harus membatasi hak dan kebebasan bagi pers dan bloggernya. Membiarkan para pekerja pers dan pegiat blog untuk berkespresi sebebas-bebasnya namun tetap dalam lingkup yang dapat dipertanggung jawabkan, sehingga tidak perlu lagi adanya kesenjangan dengan pemerintah. Sehingga sebagai negara yang dijuluki sebagai negara demokratis tak ada lagi kebebasan yang tertahan bagi masyarakatnya. Tak ada lagi masyarakat yang ditahan atau dibunuh karena menunjukkan kebebasan berekspersinya. kebebasan dalam menyampaikan sebuah informasi.

Referensi :

http://id.wikipedia.org/wiki/Portal:Filipina

http://mengerjakantugas.blogspot.com

http://id.wikipedia.org/wiki/Filipina

http://travel.detik.com

http://pewarta-indonesia.com

About azzuralhi

Ketika Anda tidak percaya tentang keindahan, selama itu pula Anda tidak akan pernah menemukan keindahan.

Posted on 3 September 2013, in ASEAN. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: