Saya Aku dan Gua

Processed with VSCOcam

Saya hanyalah Aku yang kadang menjadi Gua ketika terpaksa.

Mungkin ada teman yang bertanya-tanya dengan kalimat tersebut.

Berdasarkan artinya ketiga kata tersebut mengandung makna yang sama.
Tapi bagi saya ketiga kata tersebut berbeda ketika saya harus menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.

Saya,
Lebih pantas digunakan dalam percakapan yang bersifat formal, percakapan dengan orang yang lebih tua, atau mungkin dalam koteks pekerjaan. Saya, merajuk pada sopan santun. Intonasi yang lebih halus dan penuh kehati-hatian. ‘Saya’, merujuk pada kerendahan hati.
“Saya” lebih ke bentuk universal, karena bisa diterima dikalangan manapun dan tidak pandang usia.

Aku
Lebih sering ku gunakan dalam percakapan informal,contohnya dengan orang-orang sebaya. Aku, lebih menjurus ke sesuatu yang bersifat eksistensi. Aku adalah Aku. Ini lho Aku. Ya karena kata ini digunakan dalam percakapan dengan teman sebaya, lebih pas dan lebih mengakrabkan.

Gua
Jarang, sangat jarang. Seumur hidup mungkin bisa dihitung dengan jari. Pertama mungkin karena tidak terbiasa. Dan entah kenapa yang tertanam dalam benak ini, kata “gua” merajuk pada arogansi.

Jadi pada prakteknya Gua, sebenarnya adalah sebuah kata yang menuntun kita pada “pembebesan”. Ketika memakai kata gua, rasanya ada yang lepas, rasanya lebih jujur, rasanya lebih ekspresif.
Dan benar saja, kata ini hanya terlontar ketika saya sedang marah atau merasa kesal, yang benar-benar sudah tidak bisa ditahan lagi. Jadi emosi yang tertahan bisa lepas dan bebas.

Pada akhirnya terserah Anda mau menggunakan kata yang mana, lebih nyaman dengan kata Aku, Saya atau Gua. Tidak ada pelarangan atau aturan mutlak. Saya pribadi nyaman dengan kata ‘Saya’ dan untuk situasi yang bertujuan mengakrabkan, saya pakai “Aku”..^^
Untuk sebagian orang, perubahan penggunaan kata “saya”, “aku” dan “gua” adalah bentuk ketidak konsistenanan. Tapi bagi saya, pemakaian ketiga kata tersebut punya tempat masing-masing. Jadi tidak usah diperdebatkan.:mrgreen:

About azzuralhi

Ketika Anda tidak percaya tentang keindahan, selama itu pula Anda tidak akan pernah menemukan keindahan.

Posted on 3 Agustus 2015, in Catatan, Sosial Budaya. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: