Dari Agrobisnis Hingga Hari Raya



Lily digunakan untuk nama bunga dari berbagai spesies, selain untuk keluarga liliaceae sendiri. Teratai (Nelumbium nelumbo) disebut water lily. Ada pula calla lily (Zantedeschia aethiopiea) Keluarga amaryllis pun (Hippeastrum Sp), oleh masyarakat juga disebut bunga lily. Yang benar-benar masuk keluarga liliaceae antara lain wood lily (Lilium philadelphicum ), Turk’s-cap lily (Lilium  superbum ), Canada/wild yellow lily (Lilium canadense ) leopard lily (Lilium pardalinum ), Washington lily (Lilium washingtonianum ), lemon lily (Lilium parryi ), Humboldt’s lily (Lilium humboldtii ), Madonna lily (Lilium candidum ), martagon lily (Lilium martagon ), tiger lily (Lilium tigrinum).

Namun lily yang paling populer  adalah easter lily (Lily Paskah) alias white trumpet lily (Lilium longiflorum). Bunga ini masih relatif baru. Asalnya dari kepulauan Ryukyu, di sebelah selatan Jepang. Sebelum Perang Dunia II, Jepang adalah produsen umbi lily yang memonopoli pasar dunia. Tahun 1941, AS mengimpor umbi easter lily secara besar-besaran. Ketika kemudian pecah Perang Pasifik, agroindustri umbi lily dari Jepang terhenti total. Pasokan umbi ke pasar dunia diambil alih oleh AS. Kini AS mengusai 95% pangsa pasar umbi lily dunia dengan nilai sekitar US $ 37 juta. Negeri Belanda yang mencoba untuk ikut ambil bagian dalam budidaya umbi lily, tetap belum bisa menandingi AS.

Sentra budidaya umbi lily AS terkonsentrasi di sekitar pantai di perbatasan negara bagian Clifornia dengan Oregon. Tepatnya dari sungai Smith terus ke atas sampai Brookings, Oregon. Dari kawasan ini, setiap tahunnya dihasilkan sekitar 11,5 juta umbi lily yang siap dikirim ke berbagai green house di seluruh dunia, termasuk ke Jepang, negara asal-usul easter lily. Namun terbanyak, umbi lily ini ditanam di AS sendiri dan sedikit di Kanada. Produksi umbi ini diprogram, agar seluruhnya bisa tumbuh dan berbunga di sekitar hari raya Paskah. Sebab lily, khususnya easter lily, memang sudah sangat identik dengan hari raya paskah. Meskipun di Indonesia lily juga dipasarkan pada hari raya lain seperti lebaran, natal dan imlek. Di AS, saat ini budidaya lily dalam bentuk potplant (bunga berikut tanamannya dalam pot), maupun cut flower (hanya bunganya) tersebar di negara bagian  Michigan, California, Pennsylvania dan Ohio.

Umat Nasrani mengidentikkan lily dengan paskah, karena keagungan, kesucian dan harapan sebagai lambang Paskah; menyatu dalam sosok bunga ini. Secara fisik easter lily bermahkota seperti terompet, berwarna putih bersih, berkepala sari kuning cerah dan keharumannya sangat lembut. Penampakan fisik (bentuk/warna) serta aroma lembutnya inilah yang menarik perhatian kaum nasrani, hingga menjadikan bunga asli Jepang ini sebagai simbol Paskah.

Itulah sebabnya budidaya lily untuk menghasilkan umbi yang harus berbunga di sekitar Paskah, merupakan pekerjaan yang cukup rumit. Hanya umbi dengan tingkat ukuran dan ketuaan yang pas lah yang akan dipasarkan sebagai penghasil bunga. Panen umbi di AS, berlangsung di sekitar akhir September dan awal Oktober. Umbi yang telah dipanen, harus segera dibersihkan dan digrading menjadi tiga. Umbi komersial yang siap dipasarkan agar berbunga pas Paskah, umbi yang telah cukup besar untuk menghasilkan umbi komersial tahun depan dan anak umbi yang baru bisa dipasarkan sekitar dua atau tiga tahun mendatang. Seluruh proses pembersihan dan grading umbi, tidak boleh makan waktu lebih dari 40 jam. Selanjutnya umbi yang sudah dipacking ini masuk ke cold storage untuk dikirim ke para petani.

Itu semua merupakan budidaya lily di negara maju. Di Indonesia, pola budidaya demikian pernah berkembang di sekitar Sukabumi dan Cipanas sejak tahun 1980an. Namun usaha ini gagal. Sebab pasar lily di Indonesia, justru terjadi sepanjang tahun, dengan puncaknya pada hari raya Natal dan Tahun Baru. Hingga bisa dipastikan, setiap menjelang natal dan tahun baru, para floris kita akan mendatangkan easter lily dari Thailand atau Singapura. Para pedagang bunga Singapura, biasanya mendatangkan easter lily dari Malaysia (Cammeroon Higland) atau dari Taiwan untuk dikirim ke Jakarta. Karena puncak pasar lily di Indonsia terjadi di sekitar natal dan tahun baru, maka umbi impor dari Belanda atau AS, yang sudah diprogram untuk berbunga serentak di antara tanggal 22 Maret sd. 25 April menjadi tidak cocok.

Sebenarnya easter lily sudah sejak jaman Belanda diintroduksi ke Indonesia. Budidaya lily secara tradisional justru berkembang sampai saat ini di kawasan Bandungan, kab. Semarang Jateng. Di sini lily berbunga sepanjang tahun tanpa perlu perawatan apa pun. Para petani Bandungan membudidayakan easter lily ini di tepi ladang mereka yang biasanya ditanami jagung dan sayuran. Ladang di lereng selatan gunung Ungaran (2.050 m. dpl) ini, berupa terasering. Bagian pinggir ladang adalah lereng (teras) yang ditanami rumput gajah untuk pakan ternak, singkong, keladi, mawar tabur dan lily. Anehnya, lily yang “terselip” di antara bermacam tanaman ini, tetap rajin berbunga. Para petani Bandungan biasa memperbanyak lily mereka dari pemecahan rumpun (memindahkan anakan).

Sampai dengan tahun 1880an, pasar lily Jakarta, Bandung, Semarang, Yogya dan Surabaya, didominasi oleh lily dari Bandungan. Ketika tahun 1980an budidaya lily berkembang di Jabar, lily rakyat dari Bandungan tetap eksis. Lily yang dibudidayakan para pengusaha di sekitar kawasan puncak, kebanyakan merupakan hibrida. Antara lain yang paling populer adalah lily casablanka. Meskipun secara fisik penampakan lily casablanka cukup menarik, namun daya tahannya justru kalah dibanding dengan lily rakyat dari Bandungan. Di Bandungan, para petani bunga ini akan membawa lily mereka ke pasar, meskipun hanya satu tangkai. Satu individu tanaman, setelah tumbuh optimum memang hanya akan menghasilkan satu tangkai bunga yang terdiri sekitar empat sampai dengan enam kuntum bunga.

Karena langkanya, harga easter lily dihitung menurut jumlah kuntumnya. Satu rangkaian bunga yang terdiri dari empat tangkai lily dengan masing-masing empat kuntum, akan dihargai Rp 500.000,- di tingkat floris di Jakarta, atau Rp 100.000,- per tangkai (Rp 25.000,- per kuntum). Di tingkat petani di Bandungan, paling murah easter lily dihargai Rp 1.250,- per kuntum (Rp 5.000,- per tangkai). Kalau tangkai cukup besar hingga kuntumnya cukup banyak, maka harga per tangkai akan menjadi lebih tinggi. Tahun 1980an di Bandungan pernah dicoba budidaya lily secara monokultur, dengan memperbanyak umbi terlebih dahulu.  Usaha ini juga mengalami kegagalan. Hingga sampai saat ini, budidaya lily di kawasan wisata yang sejuk itu tetap dilakukan secara tradisional di pinggiran petak ladang, ternaungi singkong, keladi dan mawar tabur.

Akhir tahun 1990an, budidaya lily secara monokultur juga dikembangkan di pegunungan Ijen, Jatim. Bagian Hortikultura PTPN XII, bekerjasama dengan perusahaan swasta, mencoba membudidayakan aneka macam sayuran dan bunga dataran tinggi. Termasuk easter lily. Budidaya lily di kawasan ini justru relatif berhasil. Pemisahan umbi untuk dikembangbisakkan menjadi individu baru bisa dilakukan dengan cukup baik. Kualitas bunganya juga tidak kalah dengan lily casablanka impor. Pasar yang dibidik oleh PTPN XII sebenarnya tetap Jakarta. Tetapi dalam praktek, hasil bunganya lebih banyak diserap oleh pasar Denpasar dan Surabaya. Meskipun kadang-kadang ada pula yang bisa lolos ke Jakarta.

Karena sifat pasarnya yang berbeda, maka pola budidaya lily di Indonesia tidak bisa sama dengan di AS, Jepang atau Belanda. Bahkan sama-sama berpenduduk mayoritas Kristen/Katolik, negara di belahan selatan katulistiwa juga tidak bisa mengandalkan pola budidaya lily seperti halnya di Jepang, AS dan Eropa. Yang dimaksud negara-negara Kristen/Katolik di belahan selatan katulistiwa adalah Brasil, Argentina, Peru, Bolivia, Chili, Paraguy, Uruguay, Australia, Selandia Baru dan Afrika Selatan. Di negara-negara ini, Paskah justru selalu jatuh pada awal musim gugur.

Budidaya lily di Indonesia haruslah menggunakan umbi yang akan berbunga paling banyak di sekitar natal dan tahun baru. Sebab masyarakat Kristen dan Katolik di Indonesia agak beda dengan di AS, Jepang, Korea Selatan, Taiwan dan Eropa. Di negara-negara tadi, natal dirayakan dengan “bunga” Pointsetia (Christmas Tree) dan pohon cemara (pohon natal). Di Indonesia, pointsetia  disebut kastuba atau racunan.

Masa pemasaran pointsetia dan cemara bisa berlangsung sampai sekitar 1 bulan bahkan lebih. Sebab biasanya, pada akhir November, suasana natal sudah mulai tampak di masyarakat Eropa dan AS. Demikian pula setelah natal dan tahun baru. Lamanya mereka merayakan natal, antara lain disebabkan olah adanya libur akhir tahun yang sekaligus juga merupakan liburan musim dingin. Sementara jangka waktu pemasaran easter lily paling lama hanya dua minggu di sekitar Paskah. (R) * * *

Diambil Dari : foragri.blogsome.com

About azzuralhi

Ketika Anda tidak percaya tentang keindahan, selama itu pula Anda tidak akan pernah menemukan keindahan.

Posted on 6 Desember 2011, in Sekitar Kita and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: