Sebercanda Itukah Memerintah Sebuah Negara?!

koruptooor

Jujur saya tidak begitu faham dengan hal berbau perkonomian. Pengetahuan standar saya adalah, ada uang ada barang. Semakin banyak uang maka semakin banyak barang yang dapat diperoleh. Semakin mahal harga barang maka semakin besar nominal yang harus dikeluarkan. Semakin banyak nominal uang yang dibutuhkan maka semakin besar uang yang harus dihasilkan.

Berbicara tentang ekonomi tentu tak luput dari kata sejahtera. Dan dengan alasan demi kesejahteraan rakyat Indonesia, akhir tahun kemarin Pemerintah menaikkan harga BBM. Tak tanggung-tanggung. Padahal harga  minyak bumi sedang turun.

[ngomong-ngomong tulisan ini kelamaan mengendap di draft..heheh]

Namun bulan lalu pemerintah menurunkan harga BBM.

Rakyat merasa dipermainkan.

Bagaimana tidak, kenaikan harga BBM kemarin sudah berdampak pada kenaikan harga dan biaya di berbagai sektor. Lalu tiba-tiba harga BBM diturunkan kembali. Sebagian harga dan biaya yang sudah terlanjur melambung tersebut bisa dipastikan tidak bakalan ikut turun.

Mengapa pemerintah menaikkan harga BBM ketika harga minyak dunia justru turun?

Rasionalitas saya sebagai warga negara yang baik, yang berusaha berbaik sangka dengan pemerintah, bicara begini :

Sekadar mengingatkan kembali, bahwa tahun 2015 merupakan tahun dibukanya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Dimana negara-negara yang terhubung dengan ASEAN “bebas” memasuki pasar/ekonomi negara satu dengan lainnya. Dengan pasar “bebas” ini, masyarakat diharapkan tahan banting, lebih cerdas dalam mencari peluang dan pastinya efisiensi.
Pengusaha dan pemain ekonomi dari luar dibiarkan masuk, dan bersaing secara terbuka. Bisa dilihat dari harga premium di Pertamina dan Shell yang menunjukkan persaingan harga.

Mungkin pemerintah bermaksud melatih kesiapan masyarakat Indonesia. Sebab apabila negara dan pelaku ekonomi kita tidak siap dengan persaingan terbuka tersebut (MEA) bukan tidak mungkin kestabilan akan terganggu. Sebelum hal itu terjadi, maka pemerintah melakukan aksi nekad dengan menaikkan harga BBM. Tujuannya agar kestabilan tercapai sebelum perang yang sebenarnya dimulai. Mungkin.

Entahlah. Yang pasti ada sebuah rencana (alasan) mengapa pemerintah bertindak demikian. Dan hanya mereka yang tahu, apakah kebijakan-kebijakan itu benar-benar demi kesejahteraan rakyat secara keseluruhan atau kesejahteraan bagi segelintir oknum yang saya yakin memang sudah sejahtera.

Selama ini saya masih bertahan, mencoba berbaik sangka dengan pemerintah. Berbaik sangka pada berbagai kebijakan yang ditetapkan. Berbaik sangka dengan berbagai manuver yang mereka pertontonkan. Ya, masyarakat macam saya memang jatuhnya cuma sebagai penonton. Haha.

Tapi lama-lama kok jadi jengah juga.

Yang lagi hangat sekarang drama KPK vs POLRI. Tak ada angin tiada pula hujan tiba-tiba pak presiden mengajukan satu nama untuk menjabat Kapolri. Lalu besoknya nama tersebut ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi oleh KPK. Nama tersebut jelas-jelas tidak bersih alias tersangkut masalah korupsi. Presiden tahu itu. Lalu kenapa masih dicalonkan? Mendadak pula.

Karena banyak pro-kontra, lalu diberhentikanlah pejabat Kapolri yang masih menjabat, digantikan sementara oleh wakilnya sampai kasus calon yang korup itu selesai.
Omaiiiigaattt… jadi intinya tetap HARUS nama itu?!!

Lalu drama pun berlanjut. Polri menangkap wakil KPK. Ketika sedang mengantar anaknya ke sekolah.

Dan masih banyak lagi drama-drama lain yang dipertontonkan pemerintah. Mungkin yang mereka perlihatkan sekarang masih bukan apa-apa.

Anehnya, ditengah kemelut, yang bisa jadi sumbu perpecahan negara ini, Bapak Presiden kita yang terhormat entah dimana. Seperti tak ada. Pak JK juga yang biasanya vokal, kali ini tak kedengaran suaranya.

Belum lagi janji Pak Jokowi, yang akan menjadikan mobil Asemka sebagai mobil nasional, termentahkan sudah. Beliau lebih memilih Proton, produksi negara tetangga.

Kembali ke MEA. Dimana setiap negara harusnya berlomba-lomba memakai produk dalam negerinya agar perekonomian negara tidak tenggelam dalam persaingan sengit ini. Rakyat negara kita termasuk konsumtif sehingga menjadi sasaran empuk bagi produsen-produsen luar. Namun harusnya sifat konsumtif ini juga dapat jadi peluang demi kemajuan perekonomian negara sendiri.

Dengan lebih mengedepankan pemakaian produk dalam negeri.

Laaahhh… kalau presidennya aja lebih memilih produk luar, bagaimana kelanjutan perekonomian kita?

Duuhhh… sebagai rakyat biasa saya kok merasa sakiiiiiiit hati banget. Merasa dikhianati. haha. Sakit. Sakit. Sakit. Tapi tidak tahu harus berbuat apa.

Berbagai pertanyaan melayang dalam benak. Apa sih maunya? Kenapa? Ada  apa siihhh?

Setidak berarti itukah janji-janji yang telah diikrarkan itu? Janji yang mengantarnya ke kursi nomor satu negara ini?

“Sebercanda” itukah memerintah sebuah negara?!

About azzuralhi

Ketika Anda tidak percaya tentang keindahan, selama itu pula Anda tidak akan pernah menemukan keindahan.

Posted on 10 Februari 2015, in Sekitar Kita. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Kemaren dengerin paparan ekonom ikutan ketawa juga lihat pemerintah yang sekarang. Semoga sih bisa segera back on track dan kerja bener.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: