Category Archives: Fiksi

Elegi April

Selamat pagi, dan selamat datang padamu, May. Aku akan mencoba menerimamu, yahh.. Aku memang harus menerimamu, mau atau tidak. Harus! Sekuat apapun usahaku untuk menolakmu, itu tidak akan berhasil. Kau tahu dengan baik, sebab bumi ini berputar, waktu terus berjalan.

Dan inilah kita, berhadapan dan bersinggungan, akan berlangsung selama satu bulan. Bahkan tanpa sadar mungkin kita akan saling membutuhkan. Haha. Begitu banyak hal konyol di dunia ini. Kita akan saling membutuhkan, padahal awalnya hati dan pikiranku masih penuh oleh April. Hahaha.

Upsss… Aku tidak sedang menertawakanmu, santai saja.

Hmmm..?? Kenapa? Apa aku harus mengedipkan mata untuk merayumu dan membuatmu percaya?

“…”

Silahkan bermimpi!! Aku tidak akan pernah melakukan hal-hal memalukan sekaligus menjijikkan seperti itu hanya untuk memenangkan hati siapapun, termasuk kamu. Konyol.

Dengar, aku tidak keberatan padamu, tidak sama sekali. Aku hanya merasa kau datang terlalu cepat, aku belum siap. Jadi, jangan terlalu berkecil hati. Kita jajaki jalan ini perlahan.

Kamu percaya pada waktukan? Dia bisa merubah segalanya, membuat hal tak mungkin menjadi hal sepele baginya. Dia bisa melakukan hal-hal yang tak pernah kamu bayangkan. Bukankah dia hebat?

***

april (1)

April, puaskah kamu membuatku begini? Kau datang dan pergi sesukamu tapi aku tidak pernah bisa menghapusmu dari angan-angan ini, membayangi bagai hantu.

Jelas aku keberatan kau pergi karena ada banyak hal yang belum terselesaikan diantara kita. Bahkan aku ingin kau memberiku kesempatan jikapun itu hanya satu hari. Ya, satu hari. Setidaknya aku akan menyelesaikan semua tanggunganku. Tapi kini semua harapku sirna, kau melaju tanpa pernah mencoba mengimbangi keinginanku.

Bagaimanapun usahaku untuk membencimu tidak pernah ada hasilnya. Nyatanya aku selalu menantimu dengan tak sabar. Bahkan berharap Maret tak pernah ada. Dan jika aku bersikeras seperti itu, bukankah artinya aku menyalahi aturan? Akan ada tatanan yang tidak sesuai dengan apa yang telah dibakukan!!

Aku menggilaimu sedemikian rupa. Kalau dipikir apa bagusnya sih, kamu?

Setiap kamu datang justru akan menambahkan satu angka pada bilangan umurku. Sialan! Setiap kau datang aku akan semakin tua. Dan setiap kau datang, kau menohokku dengan sekumpulan tanya.

“Apa saja yang telah kau  lakukan? Di angka tersebut apa saja yang telah kau capai? Apa kau sudah menikah? Bagaimana anak-anakmu, mereka pasti akan terlihat lucu?” kau mengejekku dengan pertanyaan-pertanyaan sakral, yang tak pernah ingin kudengar dari siapapun. Tapi kau! Dengan lancang, menanyakannya dengan santai. Tanpa beban, benar-benar tak bisa mengertiku.

Sial!! Sialan!! Kenapa aku tak pernah bisa membalasmu, yang ada wajahku justru bersemu ungu, menunduk malu, lalu jemariku memintal ujung kemeja biruku. Persis anak yang baru menginjak masa remaja.

Ah sudahlah, April. Yang jelas kau telah berlalu sejak angka yang tertera pada jam dinding yang kaku karena kesendiriannya, menunjukkan angka 00:00. Kebersamaan kita telah usai. Dipisah paksa oleh sang waktu.

Lagi-lagi waktu. Aku benci dengan waktu yang dengan kejam mampu mengubah segalanya. Merampas semua hal berharga bagiku. Saking bencinya aku pada waktu, pernah terbersit harap semoga waktu tak lagi punya eksistensi.

Tapi apa yang terjadi jika waktu tak lagi ada? Aku pasti gila!  Sebab jika waktu tak lagi ada berarti kematian bagiku. Dan munafik jika kau kira aku siap untuk mati. Aku masih banyak hutang, masih banyak dosa yang belum terampuni, Ril. Itulah mengapa aku belum siap untuk mati.

Baiklah, malam tak lagi muda dan tak baik bicara tentang mati. Kecuali jika itu membuat kita memperbaiki diri dan menyiapkan bekal yang mumpuni. Aku mungkin bukan orang baik-baik, namun biar bagaimanapun, aku berharap mati dalam keadaan yang baik. Tidak salahkan jika aku berharap demikian?

Seseorang pernah bilang,
Bermimpilah, setidaknya kamu punya tujuan untuk dicapai. Setidaknya ada yang kau pelajari jikapun gagal.

Selamat tinggal April. Jika beruntung mungkin kita bisa bertemu kembali tahun depan. Dengan cerita yang berbeda, tentunya.

#Seseorang yang mengerti kwalitas belum tentu mampu menghasilkan karya yang berkwalitas-pasti

waf_April_Showers

Bromo I’m In Love #3 [Ready to Go]

Tulisan ini saya bumbui disana-sini agar lebih sedap ketika disantap. Tapi sepertinya terlalu banyak bumbu, maka saya masukkan dalam kategori “Fiksi” :mrgreen:

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Setelah melakukan perdebatan sengit dengan diri sendiri, akhirnya saya putuskan untuk ikut rombongan seorang teman yang sudah sangat pasti akan melakukan perjalanan ke Bromo.

“PING!!, Woy saya ikut kalian.” Tidak lama kemudian sudah ada balasan.

“Ikut kemane cuy?” balasan yang tidak elit sama sekali.

“Ye ikut ke Bromolah, emang kemana lagi. Plisss deehhh.” Jawabku sewot.

“Lha katanyanya kemarin kagak mau, maunya bulan Mei. Gimana sih..?”.

“Lha terus emangnya kenapa kalau saya ikut sekarang, gak suka?” saya mengangkat alis, tidak mengerti kenapa dia bertanya seperti itu.

“Ahhaaha…. bukan begitu cumi. Saya senang-senang aja kalau dikau akhirnya ikut, jadi nambah rame. Yaudah ntar tak kirim itanery dan rincian biayanya.”

“Oke sip, jangan lama-lama ya cuy. Kalau lama keburu saya berubah pikiran lagi.”

“Iyeeee… cerewet amat sih.” Hehh…? Memangnya Sejak kapan saya cerewet? Tidak terima dibilang cerewet tanpa sadar keningku membentuk sudut-sudut tak beraturan. Tapi ya sudahlah, tidak penting.

***

The day

Suara nyaring ponsel menggelegar seantaro kamar kost saya yang memang Cuma sepetak, yaiyalah. Namanya kost-an pastinya Cuma sepetak. Saya bertanya-tanya kenapa tiba-tiba hari ini ponsel saya lebih cerewet dibanding hari-hari sebelumnya.

Kriiiingg….kriiingg… suara nyaring yang kesekian mengagetkan saya. Dengan wajah malas ponsel itu saya pelototin. Disitu tertulis “Packiiiiiingggg!!!”.

Euummm… owh astaga. Hari ini kami akan berangkat dan sekarang sudah jam 8 pagi, saya belum packing. Astaga…. Saya geleng-geleng kepala sendiri, lalu mengelus-elus laptop butut yang teronggok di sudut kamar. Lupa masalah packing, toh berangkatnya kan jam 2. Barang-barang yang mau dibawa sebenarnya sudah saya siapkan, tapi memang belum disusun kedalam tas. Bingung mau pakai tas yang mana, berangkatnya pake baju yang mana yang kira-kira nyaman dan bisa tahan selama 2 hari. Saya malas kalau harus diberatkan oleh bawaan-bawaan yang tidak penting. 1 pakaian untuk 2 hari, tentu saja. Perjalanan saja kami butuh waktu 18 jam, sampai disana nggak mungkin bisa langsung ganti baju, karena sebelum ke homestay kami akan menuju candi jago, lalu dari homestay kami akan ke air terjun. Menurut kalian apa yang akan terjadi kalau kita dekat-dekat dengan air? Tentu saja basah. Jadi nanti di homestay tidak usah ganti baju, ntar sekalian sepulangnya dari main air.

Tidak lama kemudian saya mulai asyik memadu kasih dengan si laptop butut. Mengaduk-aduk data yang ada di dalamnya, melihat-lihat ramuan kata yang tak kunjung menemukan jodohnya. Tidak lupa mengintip selingkuhan utama saya, yaitu blog yang nggak ada bagus-bagusnya. Isinya itu-itu saja dan tidak berkwalitas. Tapi biar bagaimanapun saya sangat mencintainya. Saya pernah berusaha melupakan dan mengabaikannya, tapi pada akhirnya saya pasti kembali padanya. Biarpun tidak ada yang berkesan tetap saja saya tidak bisa meninggalkannya. Bergaul dengannya merupakan hiburan tersendiri. Setidaknya dengan adanya dia, saya bisa menuangkan apa yang sedang saya pikirkan dan rasakan, yeahh.. tidak ada yang istimewa sebenarnya karena sejujurnya yang lebih sering saya lakukan hanya sekedar mengintip saja. Atau kalau sedang iseng, sekedar menggonti-ganti template, menambahkan widget-widget yang menurut saya menarik. kegiatan ini kadang merupakan candu bagi saya yang tidak memiliki terlalu banyak kegiatan.

Ketika sedang asik dengan si laptop, tiba-tiba suara ponsel kembali merengek-rengek minta diperhatikan. Jam menunjukkan pukul 10:35. Fiiiuuhhh… apalagi sih maunya hp jelek ini..grrrrhh.. ganguin orang aja.

“Lili, jangan lupa hari ini. Meeting point di stasiun senen jam 11:30”, begitu isi pesan tersebut. “Whaattsss?? Gila apa, masa jam segitu sih, apa ngga kecepetan!!?” jawabku tidak percaya.

“Mana saya tau, crewnya bilang begitu. Ya udah sampai ketemu ya, awas jangan sampai telat ntar ketinggalan kereta”,tutupnya.

Ketinggalan kereta moyang, kan jam berangkatnya jam 2 siang. Memangnya saya sebodoh itu apa. Lagian Salemba ke Senen tinggal ongkang kaki juga nyampe, gumamku dalam hati. Tapi bagaimanapun saya adalah orang baik, yang taat terhadap peraturan. Mungkin ada hal penting yang ingin disampaikan mereka. Sekali lagi saya melirik jam, pukul 10:45..!!

Maka… braakkk.. sraattt.. sretttt…bugghh… Suasana jadi tidak terkendali.

Saya belum packing, saya belum mandi, saya belum makan. Lengkap sudah. Acara memadu kasih dengan si Laptop akhirnya harus saya hentikan dengan paksa.

***

Stasiun Senen

Saya melangkah terburu-buru, telat saya sudah telat hampir 1 jam dari yang mereka haruskan. Hoshhh…hossshh…  tidak jauh dari tempat saya berdiri seseorang yang saya kenal sedang duduk santai bersama teman-temannya yang lain.

“Halooo.. halooo, saya datang”, sapaku. “Yang lain mana, crewnya mana?” saya bertanya sambil mengatur nafas.

“Nggak tau nih, belum pada keliatan. Tapi ketemunya emang disini kok”, diedarkannya pandangan mencari tanda-tanda keberadaan crew. Saya juga mengikuti apa yang dia lakukan. “Mungkin lagi pada sholat Jumat.” Lanjutnya.

“Whaaattsss… jadi mereka belum ada disini?? Tau gitu saya nggak usah lari-larian kayak orang kesetanan”, refleks tangan menepok jidat.

“Ya udah, istirahat aja dulu,” sarannya. Seulas senyum samar tertangkap oleh kedua mataku, menyebalkan. Harusnya saya tahu kebiasaan orang-orang kita. Jam karet.

“Hmmm..,” gumamku. “Nitip tas bentar ya, mau beli minum dulu. Haus parah.” kuletakkan tas kemudian berlalu dari hadapan mereka.

***

Sekembalinya dari membeli minuman, seseorang memanggil kami untuk berkumpul lalu memberikan beberapa arahan ringan. “Baik, saya rasa teman-teman semua sudah mengerti dengan peraturan-peraturannya. Dan untuk memperlancar perjalanan kali ini, ada baiknya kita berdoa bersama terlebih dahulu. Semoga perjalanan kita dilancarkan tanpa kekurangan suatu apapun. Berdoa mulai.” Hening, setiap peserta sibuk dengan doanya masing-masing. “Selesai. Selanjutnya tolong sediakan tiketnya masing-masing dan tolong disiapkan juga KTPnya karena kereta kita akan segera tiba.” Tidak lama kemudian kami sudah berjejer di peron kedatangan, menanti sang Matarmaja yang akan mengantarkan kami pada keindahan semesta.

“Bromo, nantikan kami.” Bisikku dalam hati, tanpa sadar sudut bibirku tertarik keatas. Seulas senyum samar membingkai wajahku yang sudah tidak sabar.

Bromo I’m In Love #2 [Perdebatan]

Tulisan ini saya bumbui disana-sini agar lebih sedap ketika disantap. Tapi sepertinya terlalu banyak bumbu, maka saya masukkan dalam kategori “Fiksi” :mrgreen:

Awalnya saya tidak berniat melakukan perjalanan ini, mengingat cuaca yang sekarang tidak menentu. Dan saya faham betul apa risikonya, saya kapok bepergian dimusim hujan. Kenapa? Ya kan kalau jalan-jalan itu intinya untuk menikmati tempat yang kita kunjungi, terus kalau hujan otomatis kita nggak bisa menikmatinya secara maksimal, iya thoo.. iya aja biar perdebatan kita tidak terlalu panjang dan menyita waktu!! #Lha emang siapa yang ngajak debat? Hihhii

Saya sudah bertekad, saya memang ingin kesana tapi nanti – bulan Mei. Karena berdasarkan kabar angin yang berhembus, keindahan tempat tersebut akan maksimal dibulan Mei, tempat yang saya maksud itu Ranu Kumbolo temans, bukan Bromo. Tapi bukan berarti saya tidak berniat ke Bromo.

Berhubung saya ini kere, saya bermaksud menyambangi keduanya dalam sekali jalan, kan deketan tuh jadi bisa sekalian. Tapi takdir berkata lain.

Godaan itu bermula dari seorang teman yang tiba-tiba ngabarin kalau dia mau ke Bromo akhir bulan Januari. Whatsss…!!??? Yang benar saja, selama ini yang tergila-gila ingin kesanakan saya, kok malah dia yang udah duluan mau kesana sih. Maka dimulailah segala macam bujuk rayuan dan godaan agar dia membatalkan rencananya.

“Emang ga sadar apa, sekarang ini musim hujan. Ngapain jalan-jalan dimusim hujan? Sia-sia, tau. Mending Read the rest of this entry

Dancing In The Rain

source : zeldabijou.blogspot.com

source : zeldabijou.blogspot.com

 

Ada banyak sensasi yang bisa diberikan oleh hujan. Salah satunya adalah dingin.

Rike menyusuri jalanan yang perlahan membasah. Tidak diperdulikannya hujan mulai merinai, panggilan beberapa orang yang kebetulan berpapasan dengannya seperti tidak pernah ada. Matanya berbinar, seolah memang sedang menunggu hujan, padahal bukan itu. Ada satu tempat yang ditujunya.

Rike membenci kedinginan yang selalu dibawa oleh hujan sebagai awal kedinginan hatinya atas rasa sendirinya selama ini. Dingin yang dirasakannya sejak kepergian seorang sahabatnya, tepat saat hujan seperti ini. Kabar bahwa sang sahabat telah kembali membuatnya bergairah, dan kursi taman tempat biasa mereka melewati waktu bersama kini jadi tujuannya.

Dan disanalah dia, seseorang duduk memunggunginya dengan payung hitam ditangan kiri. Perlahan Rike mendekati kursi tersebut, meyakinkan diri bahwa yang dilihatnya memang dia. Sahabat yang diam-diam dicintainya.

Lelaki itu membalikkan tubuhnya, menatap dalam pada sepasang mata indah Rike yang basah. Hujan tak hanya mengalirkan air, namun juga mengalirkan tarian perasaan mereka lewat tatapan yang dalam. Dan untuk pertama kalinya Rike merasa hujan yang dingin, hujan yang dibencinya terasa lebih indah dari kehangatan mentari.

 

[Tadinya pengen, Diikutsertakan dalam #FF2in1 oleh @nulisbuku.  tapi kena DL. Betapa abalnya saya :P]

Pengakuan Luka

sakit hati putus cinta

To the point, aku patah hati. Apalagi yang bisa kulakukan selain mengiyakan permintaan mu. Permintaan konyol bagi ku, tapi tulus bagi mu, lalu bagaimana?

**

Tressia harus tidur sendiri malam ini. Kakaknya lebih memilih pergi keluar kota bersama group bikers-nya. Tidak buruk sebenarnya. Yang selalu dan pasti, kakaknya akan membawa oleh-oleh khas daerah yang mereka kunjungi. Dari Bogor, Garut, Bandung, Jogja, Solo, Magelang dan sekarang Surabaya. Selain itu setidaknya dia merdeka atas sepetak kamar kost mereka, bisa leluasa didalam kamar, tersenyum-senyum sendiri tanpa ada yang mendengungkan kata gila. Begadang sampai larut malam tidak ada yang mengganggu walau hanya sekadar gumaman kecil agar jangan lupa mematikan lampu jika mau tidur. Owh, kakaknya memang agak menyebalkan. Bagaimana mungkin masih sempat-sempatnya mempedulikan lampu mati atau nyala, tidur ya tidur saja. Repot amat.

Kakaknya tentu beralasan, dia tahu Tressia suka lupa mematikan lampu, bahkan laptop kadang masih menyala sampai pagi, entah apa yang dikerjakan. Setahu kakaknya tidak ada kegiatan yang benar-benar penting yang dilakukan Tressia dengan laptopnya sampai harus tidur selarut itu. Paling hanya menonton drama korea, lalu ikut banjir air mata. Haha, dasar cengeng ejeknya dalam hati. Iya, cukup dalam hati saja, sebab kalau Tressia mendengarnya pasti tidak mau terima. Baginya cengeng itu berarti menangis, ketika menangis seseorang akan mengeluarkan air mata dan tidak selamanya keluar air dari mata itu artinya menangis, matanya hanya sedang berair, bukan menangis. Benar-benar pembelaan yang konyol dan percuma untuk diperdebatkan.

Tressia lega, akhirnya bisa menikmati kamar sendirian. Lega akhirnya punya ruang untuk sendiri. Ada yang bisa dilakukannya ketika sendiri, sesuatu yang tidak boleh dia perlihatkan pada siapa pun, tidak ada yang boleh tahu. Bukan untuk menyembunyikan pembelaan bodohnya tentang menangis, karena sekarang dia memang butuh menangis.

Galau, tepatnya dia sedang galau, tapi Tressia tidak suka penggunaan diksi tersebut untuk mewakili perasaannya.

Ada banyak debat dalam benakya belakangan ini. Tentang pekerjaan yang sama sekali bukan passionnya. Sulit. Cintailah pekerjaanmu maka kamu akan baik-baik saja, begitu kata pepatah. Bagaimana aku akan baik-baik saja, bagaimana aku bisa mencintai pekerjaan ini, aku sama sekali tidak menyukainya. Aku sudah berusaha, aku sudah melakukannya sepenuh hati tapi memang dasarnya tidak sesuai mau apa lagi. Dan Tressia mulai merasa lelah. Belum lagi masalah lainnya, kuliah adiknya yang berantakan. Kekurangan biaya sehingga beberapa keperluan tidak bisa dipenuhi. Tressia merasa gagal. Sebuah kegagalan yang terasa terulang. Setidaknya cukup aku yang menjalani kehidupan perkuliahan seperti itu, tidak cukup uang untuk membeli keperluan kuliah, membuat tugas dan membeli modul. Ahh Tuhan. Tidakkah bisa Kau beri kami sedikit kemudahan untuk melewati semua ini? Aku lelah seperti ini terus. Begitulah keluhnya ketika merasa payah atas kehidupannya. Meski sebenarnya ia sadar ada banyak orang yang jauh lebih tidak beruntung dari diri dan keluarganya saat ini.

Ritual itu sudah dimulai, sederhana, tapi mungkin memang pantas untuk disebut sebagai ritual. Menyembunyikan tangisan. Selama ini, sebesar apapun tangisannya, Tressia akan melakukannya secara sembunyi-sembunyi. Dikamar mandi, diatas loteng atau dipinggir pantai. Tapi tidak kali ini, karena ia bebas.

Saat Tressia sedang menikmati ritualnya, tiba-tiba ada sms masuk dari nomor yang tidak dikenal. Untungnya diakhir pesan itu ditulis nama sang pengirim. Nama yang sangat dikenalnya, nama yang entah bagaimana sangat ia rindukan, nama yang membuatnya tiba-tiba merasa kuat. Nama itu menanyakan kabarnya. “Hai..hai, Apa kabar?“.

Owh Tuhan, seharusnya tidak sekarang, saat aku sedang rapuh dan butuh pegangan. Dan kenapa harus dia, seseorang yang terlarang bagi ku. Haruskah aku bahagia, ataukah justru membuat kekalutan ini menuju batas awas dan siap meledak. Ada apa dengan Mu, mengapa Kau biarkan hal-hal seperti ini terjadi. Jika boleh aku mengatur semuanya sendiri, aku tidak akan membiarkan perasaan apapun tumbuh dalam hatiku, untuknya. Tapi semuanya adalah milikMu, kuasaMu. Aku hanya pelakon yang hanya perlu melakukan apa yang ditentukan oleh sang dalang. Kaulah dalang itu, dalang yang tidak pernah bisa kami tebak atau kami bangkang. Tidak.

Dan baiklah, sekarang aku simpulkan semua ini atas izinMu, atas kehendakMu, aku tidak akan pernah menghindarinya.

Hai kamu yang disana, aku senang menerima pesanmu disaat seperti ini. Ya, kamu memang tidak tahu apa-apa. Hanya aku. Menyiksa diri atas perasaan yang tidak jelas apa namanya. Tidak mungkin ini ku sebut cinta, tidak pernah ada interaksi nyata antara kita. Semuanya semu, romantisme yang membuat ku merasa utuh itu semu. Semuanya hanya ada dalam mimpi. Bukan mimpi yang pengertiannya adalah angan-angan tapi mimpi, bunga tidur. Bagaimana aku menjelaskannya.

Aku tahu, itu kamu. Terimakasih, apapun maksud semua ini. Satu hal yang harus kamu tahu, aku tidak pernah berniat melepaskanmu siapapun dia.

Puas memandangi pesan tersebut, Tressia segera membalasnya. “Kabar ku baik. Kamu disana apa kabar? Kemana saja selama ini? Sejak kapan ganti nomor baru?. Aku pernah beberapa kali menghubungimu, tapi selalu gagal. Kenapa tidak dari awal memberitahuku?” Rentetan pertanyaan itu langsung dikirim dalam satu kali tekan send.

Jayan, nama pemuda itu. Seseorang yang Tressia kenal sejak kecil. Bermain bersama, belajar bersama, sekolah bersama, masa kecilnya nyaris dia habiskan bersama Jayan. Sampai ketika Tressia harus mengikuti permintaan sang kakak untuk melanjutkan sekolah di kota. Apa yang bisa dilakukannya selain setuju? Ini karena mulai saat itu kakaknyalah yang bertanggung jawab terhadap kelanjutan pendidikan Tressia, membiayainya.

Sedih tentu saja, tapi suatu saat hal ini juga pasti akan terjadi, siapa pun diantara mereka, pada akhirnya pasti akan ada yang pergi. Memang tidak ada bagian yang menyenangkan dalam sebuah perpisahan.

Dalam setiap perpisahan selalu akan lebih mudah bagi mereka yang pergi, bukan bagi mereka yang tinggal. Mereka yang pergi akan menemukan kesibukan baru, teman baru dan lingkungan baru, lama-lama dia akan melupakan apa yang ditinggalkannya. Lebih tepatnya bukan melupakan, tapi berdamai dengan keadaan yang membuat mereka harus pergi. Sedangkan bagi mereka yang tinggal, akan terasa sulit. Mereka hanya akan bertemu dan berkegiatan sebagaimana biasanya. Tentu sulit bagi mereka untuk tidak memikirkan mereka yang pergi. Ini berlaku bagi orang lain tapi tidak bagi Tressia. Dia tidak pernah benar-benar berdamai. Pikirannya selalu ingin kembali, tapi setelah ia berusaha kembali, apa yang ditemukannya tidak sesuai harapan. Tressia kehilangan tempat ditengah teman-teman yang dulu ia tinggalkan, menyedihkan. Aku tidak punya tempat lagi diantara mereka, aku hanya orang asing yang datang entah dari mana, aku tidak bisa menerima semua ini. Mengapa keadaan sedemikian tidak peduli pada ku, protes Tressia.

Lamunan Tressia buyar ketika pesan balasan masuk.

“Kabarku juga baik. Hei bertanyalah satu persatu. Aku bahkan bingung menjawab pertanyaan mana yang harus ku jawab duluan. Iya aku minta maaf, tapi aku mengganti nomorku baru beberapa waktu yang lalu, belum terlalu lama. Aku, sebagaimana yang kamu tahu, masih dikampung, kampung kita. Dan sebagaimana yang kamu tahu, aku sekarang mengajar. Tidak ada kegiatan lain. Oya aku minta maaf karena kita tidak sempat bertemu secara langsung saat kamu pulang liburan akhir musim kemarin. Bagaimana kegiatanmu sekarang? Tinggal dimana?”

Tressia tersenyum. Iya, aku tahu kamu sekarang jadi guru, sepertinya akan jadi guru yang sukses. Di usiamu yang masih muda begini saja kamu sudah mendapatkan kepercayaan yang cukup sebagai pondasi untuk langkah selanjutnya.

Tapi kenapa kamu menanyakan aku sekarang dimana? Apakah kamu berniat menyusul ku kemari? Tressia tersenyum ketika memikirkan kemungkinan tersebut. Tapi sebaiknya jangan. Tetaplah disana. Kamu pasti tidak tahu bagaimana beruntungnya kamu dengan posisi itu sekarang. Kamu sudah punya tempat, jadi untuk apa mengikuti ku kesini, dengan nasib yang tidak jelas. Oya, apakah kamu sudah punya fans club? Kamu pasti sangat terkenal dikalangan siswa perempuan dan para guru muda lainnya. Aku iri dengan mereka.

Tressia menjawab pesan, “Maafkan aku. Aku terlalu gembira karena kau akhirnya menghubungiku. Hmm.. Kau pasti akan menjadi guru yang sukses dan pastinya banyak fans. Aku penasaran bagaimana caramu mengatasi fans-fansmu itu, pasti menyenangkan. Jadi aku sarankan agar kamu tetap disana, nikmati ritme kehidupan yang damai disana, dan ketenaranmu pastinya. Aku masih disini, tempat pertama kali aku merasakan sakitnya jauh dari kampung halaman, jauh dari teman-teman dan tentu saja jauh darimu. Haha. Kadang aku ingin berlari dan kembali kesana agar hari-hari seperti dulu terulang lagi, tapi aku tidak begitu yakin dengan peluang yang mungkin aku dapatkan disana. Rasanya aku bukan lagi bagian dari kalian. Ini menyiksaku. Aku bahkan berpikir seharusnya dulu aku tidak pergi, tapi semuanya sudah berlalu mau dibagaimanakan lagi. Bukankah begitu?”, Send.

“Ahh.. Kamu berlebihan. Tidak ada fans, yang ada hanya murid-murid yang manis dan penurut. Aku tidak peduli jika ternyata mereka hanya menurut padaku..haha. Setidaknya itu memudahkan proses belajar-mengajarku. Hmm.. Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki semua yang sudah terjadi. Satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah melakukan yang terbaik agar kita mendapatkan yang terbaik untuk masa depan. Aku merasa tidak ada yang salah dengan kepergianmu. Setidaknya aku melihat peluang yang lebih baik yang mungkin bisa kamu dapatkan, peluang yang tidak mungkin kamu dapatkan jika tetap disini. Bicara tentang peluang, adakah peluang bagi seseorang yang baru selesai kuliah? Ada saudara yang baru selesai kuliah, dia ingin mencoba peruntungan peluang yang ada disana. Bisakah kamu mengabariku jika ada kemungkinan?”

Mendapati kalimat diakhir pesan itu membuat mata Tressia nanar., rasanya seperti terjun bebas ditempat yang terjal setelah melayang beberapa saat.

Ahh… Yang kamu maksud pasti dia. Lupakan kata-kata ku tadi!!! Itulah mengapa aku tidak pernah menyukai keputusanku dulu untuk pergi, ini yang aku takutkan. Owh, rupanya desas-desus itu benar. Kamu sudah punya pacar. Dan apa katamu tadi, saudara? Saudara dari mana? Aku berjanji tidak akan pernah menyukai saudara baru ini. Jangan harap.

“Owh, kalau begitu terimakasih. Semoga kita semua mendapatkan yang terbaik. Saudara? Baik, mungkin aku bisa menanyakannya disini, nanti kau ku kabari. Perempuan atau laki-laki? Aku hanya ingin memastikan kemungkinan apa yang bisa ku usahakan untuknya”. Send.

Sekarang apa yang harus ku lakukan. Kau mintaku membantu dia yang seharusnya tidak usah kau sebut dalam keadaanku seperti ini. Aku memang tidak mengenal saudara yang kamu maksud, tapi aku tahu posisinya di hatimu. Haruskah aku memenuhi permintaanmu. Ku pikir kamu muncul untuk menghiburku, tapi justru malah sebaliknya. Menyiramkan garam pada luka yang sedang menganga. Haruskah aku menyalahkan mimpi-mimpi yang menghadirkan segala romantisme itu? Mimpi-mimpi yang sudah seperti drama korea yang benar-benar indah untuk dinikmati.

Pesan masuk, “Aku tahu kamu pasti akan menyambut baik permintaanku. Terimakasih. Dia perempuan. Aku tunggu kabar baik darimu”. Singkat, tidak semanis pesan-pesan sebelumnya. Benar-benar menyebalkan.

Jadi, satu-satunya maksudnya menghubungiku hanya untuk ini? Agar aku membantu perempuannya? Dia pikir aku sedang butuh lelucon!. “Baiklah, akan segera ku kabari jika ada. Sekarang sudah larut, aku ingin istirahat. Dan besok sudah ada setumpuk tugas yang menanti ku. Demikian juga denganmu, aku rasa. Selamat beristirahat”, Send.

Tidak lama kemudian pesan balasan masuk, “Baiklah. Selamat beristirahat juga, semoga mimpi indah. Aku mengandalkanmu, saudaraku” sebaris kalimat yang membuat Theressia benar-benar merasa ngilu tepat dihulu hatinya.

Saudara? Andai sebutan itu tidak pernah ada diantara kita. Aku benci dengan keadaan ini. Aku benci dengan diriku sendiri yang diam-diam dan tanpa benar-benar kusadari telah mencintaimu, Jayan, saudaraku.

Kenapa kita harus terikat oleh hubungan persaudaraan. Ya, sebenarnya tidak ada yang salah, karena kita tidak benar-benar satu orang tua, bahkan orang tua kakek-nenek kita berbeda. Tapi adat istiadat yang masih dipegang teguh disana akan menyalahkan semuanya.

Lagipula, aku seharusnya tidak serepot ini. Toh, diawal-awal perpisahan kita tidak ada yang aneh. Yang aneh itu adalah mimpi yang akhir-akhir ini menyiksaku. Sudah 2 tahun. Aku hanya bisa bertanya dalam hati, lalu kemudian menikmati dan mengharapkan semuanya jadi nyata.

Teringat bagaimana bodohnya kita dulu, waktu kecil. Aku tahu itu bukan atas kemauan mu. Daren yang menyuruhmu. Kau menyentuhku. Aku bersumpuh kamu laki-laki pertama yang menyentuh bagian itu. Aku ingin menangis tapi aku tidak benar-benar mengerti apa yang perlu kutangisi. Itu konyol.

Dan lihatlah sekarang, kita sama-sama telah tumbuh besar dan..dewasa. Aku, tanpa kusadari telah jatuh cinta padamu. Teman kecilku. Dan mereka bilang kita masih punya hubungan saudara. Aku tidak berani merusaknya, aku tidak akan mengungkapkannya, aku tidak akan membiarkan kamu tahu perasaan konyol ini, terlebih perasaan ini tumbuh bukan berdasarkan interaksi yang nyata. Semuanya tumbuh dalam mimpi-mimpi sialan itu.

Ya, aku mencintaimu. Lalu apa!?. Tressia berbisik lirih dan pedih, anak sungai di matanya mengalir. Matanya berair. Tapi baginya ini bukan tangisan, matanya hanya sedang berair. Penolakan yang sia-sia sebenarnya. Untuk kesekian kalinya Tressia bersyukur malam ini dia sendiri, jadi tidak ada yang melihat matanya berair.

===


Be My Bee #2

“Jum’uh mubarak pak guru”

Pesan itu meluncur mulus ke selulermu tak lama setelah kutekan tombol send. Tentu saja aku tahu pesan itu berhasil menyelesaikan misi yang kuembankan padanya karena tidak lama setelah itu kamu membalas smsku.

“Hai Sena, bagaimana kabarmu.? Oya, apa arti pesanmu tadi?”

Lucu sekali jika kamu tidak tahu arti sepenggal kalimat dangkal tadi, bee.
Hmmm.. bagaimana kalau kujawab begini “arti pesan tadi adalah – aku mencintaimu”. Tssskkk, merepotkan saja. Dan rasanya akalku semakin tak ditempat kalau saja aku sampai berani mengirim pengakuan aneh macam begitu.
*
Tapi setidaknya, akhirnya aku mengerti bagaimana perasaan kakakku dalam menjalani kehidupan cintanya. Aku yakin sebelum semuanya larut dalam kubangan yang tak bisa dihindari – dia telah mencoba sekeras yang dia mampu untuk menghindari rasa itu.
Seperti aku padamu.
Rasanya begitu berat dan menyiksa dalam waktu bersamaan.

*
Sena meletakkan pulpennya dan membiarkan buku ajaib itu tetap terbuka. Sesekali dia terlihat menguap dan mengucek matanya. Tanpa ia sadari sebait kalimat terucap lirih “bee, putuskan saja pacarmu. Tssskkk..
Aku sangat egois bukan?”

#tbc

Be My Bee #1

Menjatuh cintaimu adalah fantasi – tidak nyata.
Tapi setidak nyata bagaimanapun sebuah cerita fantasi adalah sangat menarik bagiku, sangat indah. Sebab bagiku cerita fantasi adalah wujud sebuah multi karya.

Sebagaimana rasaku untukmu, semua itu hanyalah fantasi. Khayal tingkat tinggi yang terkadang membuatku melambung tinggi namun terkadang jatuh bebas tanpa landasan – multi rasa.

Fantasi itu candu bagiku, jadi sekuat apapun aku mencoba menghindari yang namanya cerita fantasi tetap saja pada akhirnya aku akan nelangsa, seperti orang sakau lalu meronta-ronta. Sekuat apapun aku mencoba meredam dan menghindari rasa yang tak diundang ini terhadapmu, semakin aku merasa tak bisa lepas dari bayang-bayangmu.

Aku tak begitu yakin tentang rasaku padamu, tapi mereka bilang rasa ini terlarang. Pikirkanlah, apa yang bisa aku lakukan. Aku tidak mungkin bicara, maka biarlah kunikmati sensasi rasa terlarang ini sendiri, dalam diam dan dalam sepi. Hingga pada akhirnya tak ada kata selain doa tulus, semoga kau mampu menjadi imam terbaik bagi keluargamu – bahagia. Sebagaimana bahagia yang kuharap juga mengiringi masa depanku.
Biarlah, kebersamaan kita hanya dulu dan tentu dalam fantasiku.

Semoga kebahagian selalu menyertaimu, bee.
**
Sena menutup buku usang itu, buku usang yang isinya hampir penuh dengan catatan tentang bee, entah siapa dan seperti apa bee. Yang jelas, setelah mencorat-coret buku usang itu, kelegaan selalu terpancar dari sepasang mata birunya.

*to be continued

%d blogger menyukai ini: