Menari di Atas Awan [Resensi Novel]

menari di atas awan - resensi novel [gambar dari perempuan.com]

menari di atas awan – resensi novel [gambar diambil dari perempuan.com]

Oleh Maria A. Sardjono
Kategori : Fiksi dan Sastra, Novel, Novel Asli
Ukuran : 11 x 18 cm
Tebal : 512 halaman
Terbit : Oktober 2011
Cover : Softcover  [Via => Perempuan.com]

===

Cerita tentang Dewi seorang penyanyi kafe. Kebanyakan orang pasti akan langsung berpikir negatif tentang pekerjaan Dewi. Hingar bingar dunia malam, minuman keras dan kebutuhan hidup yang mendesak kadang membuat transaksi dunia malam terlalu naif untuk dilewatkan. Setidaknya begitulah dipikirkan oleh Ibu Susetyo – ibunda Rayhan, kekasih Dewi.

Namun bagaimanapun Ibunya menilai dan menolak Dewi tidak pernah menyurutkan Rayhan untuk mempertahankan hubungannya dengan Dewi. Rayhan tahu gadis macam apa Dewi.

Berbulan-bulan Rayhan berjuang mendekati Dewi, namun penyanyi kafe ini tidak pernah peduli dengan segala macam usaha Rayhan. Dewi bertekad tidak akan melibatkan perasaan dalam pekerjaannya ini. Dia hanya perlu  datang, menyanyi lalu langsung pulang. Ada banyak hal penting yang harus ia lakukan ketimbang meladeni para lelaki hidung belang yang sering gelap  mata di kafe-kafe tempatnya menyanyi. Dia memang penyanyi kafe, karena ia memang memiliki suara cukup merdu, dan untuk menyambung kehidupan keluarganya, diantaranya untuk biaya kuliahnya.

Seperti kata pepatah, semakin sering kau mencoba semakin dekat pula keberhasilan dalam genggamanmu. Akhirnya gayung bersambut, dari obrolan ringan, jalan-jalan bersama, makan malam sederhana, akhirnya mereka menguatkan hubungan mereka menjadi sepasang kekasih.

Hingga suatu malam, karena putus asa atas penolakan Ibunda Rayhan – saat Dewi mencoba menjauhi Rayhan, ketika di rumah hanya dewi seorang, keduanya tidak bisa menahan diri. Hal itu terjadi ditengah ketidakjelasan hubungan keduanya.

Lalu kejadian datang silih berganti, Dewi harus ikut ke luar kota menjenguk salah seorang keluarganya yang sakit parah. Sedang Rayhan sibuk dengan urusan pekerjaan.

Puncaknya ketika Dewi mendapati dirinya hamil, buah cintanya dengan Rayhan. Dewi mencoba menghubungi Rayhan, namun kenyataan bahwa Rayhan telah pergi ke luar negeri tanpa mengabarinya sebelumnya membuat Dewi tidak tahu harus berbuat apa. Tidak mungkin tetap menyanyi dalam keadaan hamil, bagaimana memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya. Lalu bagaimana ia bisa menjelaskan keadaannya pada keluarganya. Tidak mungkin, keadaan ini akan menghancurkan harga diri keluarganya.

Ditengah kekalutannya yang memuncak, hadirlah Didit. Seorang pemuda dewasa dan mapan – Kakak Rayhan. Sebagai pertanggung jawabannya atas kelakuan adiknya, Didit menawarkan diri untuk menikahi Dewi – pernikahan di atas kertas.  Agar anak dalam kandungan Dewi memiliki bapak, sedangkan Didit juga memiliki maksud tersendiri dengan pernikahan ini. Maka semuanya dikarang dan dibuat sealami mungkin tanpa menimbulkan kecurigaan apapun di pihak keluarga Dewi, termasuk kehamilannya. Sedangkan Ibu Susetyo seperti kebakaran jenggot. Bagaimana mungkin wanita yang dia tolak untuk bersama Rayhan tiba-tiba akan menikah dengan anaknya yang lain. Dimatanya, Dewi benar-benar wanita licik yang hanya menginginkan harta keluarganya.

Suatu pagi yang cerah di rumah sederhana Didit dan Dewi di Sukabumi, diantara perkebunan agrobisnis milik keluarga Didit – tepatnya ayah Didit. Ketika Didit sedang ada keperluan di luar kota, seseorang dari masa lalu mengetuk pintu rumahnya. Memanggilnya “kakak ipar” dengan tatapan mata sinis dan kata-kata kasar. Membuat Dewi terhenyak dalam kubangan luka masa lalu. Ia sadar suatu saat keadaan ini pasti akan datang , tapi tetap saja – Dewi tak pernah siap untuk keadaan seperti ini. Kehadiran demi kehadiran Rayhan semakin membuat Dewi tersiksa, sebab rasa itu masih sama seperti dulu.

Sementara Didit semakin hari semakin dekat dengan Tita, adik Dewi. Ia merasa sembuh sejak merasa dekat dengan Tita. Seorang gadis yang energik, manis, dan pintar – pintar membuat topik obrolan yang menarik. Selama pernikahannya dengan Dewi, mereka tidak pernah bersentuhan layaknya suami – istri. Mereka lebih seperti partner, sahabat untuk saling berbagi. Didit menyadari dirinya sakit sejak ia ditinggalkan kekasihnya. Apalagi sebabnya kalau bukan karena lagi-lagi ditentang oleh Ibunya. Dan salah satu tujuannya menikah dengan Dewi adalah untuk menghukum sang ibu.

Semuanya terkuak ketika Fifi, anak Dewi sakit keras. Tidak ada yang bisa menyelamatkannya kecuali Rayhan, ayah kandungnya.

==

Begitulah kira-kira isi novel tersebut. Apa yang harus saya lakukan setelah ini? Wkwk:mrgreen:

Kak Maria menggambarkan secara jujur kehidupan metropolis dalam novel ini. Ya, kehidupan semacam kisah ini memang dapat kita temui dalam kehidupan nyata. Itulah mengapa saya katakan penggambaran secara jujur.

About azzuralhi

Ketika Anda tidak percaya tentang keindahan, selama itu pula Anda tidak akan pernah menemukan keindahan.

Posted on 16 Februari 2014, in Buku. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: