Metode 3 M: Cara Jitu Membuat Resensi Buku

menulis4

Saat kita membaca sebuah buku, pasti akan terasa lebih puas kalau kita bisa membuat semacam catatan atau katakanlah semacam resensi untuk buku tersebut. Menuliskan apa yang kita ketahui dari buku tersebut, menguliti dan menyampaikan pemikiran mengenainya. Membuat resensi itu semacam rangkuman pengingat buat kita sendiri, agar cerita-ceritanya tak hanya merana dalam rak buku. Hahha.. Maka dari itu mari kita belajar membuat Resensi. Mari disimak….. 

[Mizan/Lina] Anda suka membaca buku? Jika iya, cobalah untuk aktif meresensinya. Kegiatan ini bisa menghasilkan banyak manfaat. Bisa sebagai pengingat otomatis dengan mencatat hal-hal yang penting dalam buku tersebut. Bisa sebagai terapi hati ketika menemukan quotes yang bagus dan menarik hati. Dan, bisa juga menghasilkan materi bila hasil resensi tersebut dimuat media. Menariknya, materi ini bisa didapatkan dua kali lipat, dari penerbit buku bersangkutan dan juga media yang memuat resensi tersebut.

Bingung bagaimana caranya membuat resensi? Cobalah ikuti metode “3 M” berikut ini. Membaca, mengkritik, dan menuliskannya.

Resensi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kegiatan mempertimbangan atau membicarakan tentang buku, atau dengan kata lain berkaitan dengan ulasan buku.

Dalam kegiatan membicarakan buku, hal yang perlu dilakukan adalah dengan 3M tersebut.

Pertama, membaca. Hal yang wajib dilakukan resensor (pembuat resensi) adalah membaca. Bacalah buku yang paling menarik bagi Anda.  Pilihlah buku yang benar-benar Anda inginkan untuk dibaca dan bisa diselesaikan dalam waktu yang relatif singkat. Mengapa? Karena hasil resensi buku yang akan dimuat di media atau diterima penerbit bersangkutan adalah buku-buku yang up to date, mengikuti tahun terbit buku tersebut. Ini berkaitan erat dengan kegiatan “memperkenalkan” buku tersebut kepada khalayak yang mungkin belum mengetahuinya.

Kedua, mengkritik. Kegiatan ini pun merupakan agenda wajib bagi resensor. Ia harus jeli menilai dan mempertimbangkan mana yang akan kembali ditulis dan diulas dalam resensinya dan mana yang tidak perlu. Tentukan salah satu tema yang paling menonjol dalam buku tersebut untuk diulas. Ini bertujuan agar, resensi tidak melebar pada pembahasan lain. Mengingat space untuk resensi tidak banyak. Ini pula berkaitan dengan “selera” media bersangkutan.

Resensor harus peka terhadap kebutuhan buku tersebut. Misalnya dimulai dengan pembahasan mengenai anatomi buku, seperti judul buku, cover buku dan desainer covernya, ketebalan buku, jenis huruf, tata letak, dan sebagainya yang kemudian merambah pada isi buku tersebut seperti logika kalimat, kenyamanan bahasa, nilai yang terkandung, dsb. Untuk memudahkan proses mengkritisi buku, silakan sediakan pulpen atau stabilo. Tandai, mana kalimat yang penting dan mana kalimat yang tidak perlu diulas.

Ketiga, menuliskannya. Ketika kita usai mengkritik, cobalah tuliskan apa yang berhasil Anda kritik tersebut sesuai karakteristik media bersangkutan. Misalnya dalam hal jumlah kata, gaya selingkung media, dan sebagainya. Jangan lupa pula untuk menimbang-nimbang jenis media mana yang akan Anda kirimi tersebut. Hal ini dilakukan agar tidak salah sasaran. Jangan sampai buku anak-anak, Anda kirim ke majalah dewasa, atau sebaliknya. Tulislah hal apa yang menarik bagi Anda, dan hal apa pula yang mengganjal di hati Anda, serta apa yang membuat Anda sebagai pembaca merasa tidak nyaman atau mengganggu proses membaca tersebut.

Mudah bukan menulis resensi? Selamat mencoba! (Sellin)

==

Berdasarkan sumber referensi lain, menyatakan bahwa seorang resensor harus Obyektif – tentu saja. Dan jangan lupa , kita harus memberikan penilaian dengan kalimat yang jelas dan mudah dimengerti. Hal ini juga dilakukan agar pesan yang disampaikan sesuai dengan apa yang kita inginkan dan pembaca tidak akan mempertanyakan kembali maksud tulisan kita.[88riezki]

Yuuukk… mari bongkar-bongkar rak buku, lalu tuliskan resensimu. Ahhhaa.. Saya sendiri mungkin akan susah untuk mengikuti peratura-peraturan di atas secara gamblang, karena kadang saya suka menulis seenaknya sendiri. Jadi maaf-maaf saja kalau resensi saya tidak memenuhi standar..

evil smile onion head

About azzuralhi

Ketika Anda tidak percaya tentang keindahan, selama itu pula Anda tidak akan pernah menemukan keindahan.

Posted on 11 Februari 2014, in Catatan. Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. Mantabh.makasih Mba. Selama ini kalo bikin resensi asal bikin aja. Hihihi.

    Suka

  2. Semoga bernilai ibadah…yuk berkarya terus..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: