Membangun Karakter Bangsa dengan Keteladanan

Dahulu, sebelum masyarakat Indonesia melek huruf, hampir semua informasi disampaikan dengan lisan. Bertutur dari satu orang ke orang lain. Dengan begitu, masyarakat saling menyapa, sering berkumpul dan bersosialisasi untuk berbagi informasi.

Namun setelah perdaban semakin maju, ketika masyarakat yang melek huruf sudah mencapai 95%, tradisi bertutur semakin ditinggalkan. Digantikan oleh tradisi tulis. Bukan berarti tradisi tulis buruk, hanya saja tradisi tulis bersifat individual sehingga kebersamaan untuk bertutur semakin berkurang.

Semakin ditinggalkannya tradisi bertutur membuat bangsa ini semakin jauh dari jati diri. Masyarakat, terutama anak-anak, kehilangan sumber air keteladanan yang sejatinya fondasi untuk membangun karakter diri.

Kartu Peserta

Kartu Peserta

Berangkat dari keprihatinan tersebut, pada tanggal 15 Januari 2015 lalu diadakan seminar “Menggali Jati Diri Bangsa” di Auditorium Gedung Elnusa, Jl. Simatupang – Jakarta Selatan. Acara ini dibuka oleh Bapak Arlan Septia selaku ketua Nusantara Bertutur. Kemudian acara dibagi menjadi dua sesi.

Sesi pertama, mengusung tema “Karakter Masyarakat Indonesia”. Adapun tema ini diisi oleh:

  1. Dr. Kacung Marijan MA (DirJen kebudayaan Kemendikbud)
  2. Megawati Santoso (Akademisi)
  3. Garin Nugroho (Produser dan Sutradara Film)
  4. Prita Kemal Gani (Komunikasi Massa)

Dan dimoderatori oleh Bapak Gilarsi W. Setiono.

Bapak Kacung memulai pembicaraan dengan mengutip ungkapan seorang  tokoh (Saya lupa namanya). Yang intinya, bangsa yang besar adalah bangsa yang kerasukan virus kemajuan. Yaitu bangsa yang memilih cerita rakyatnya menggambarkan perjuangan, cerdas, tangguh, tidak mudah menyerah, teguh pendirian dan mengajarkan kebaikan.

Bangsa yang besar ibarat industri besar. Besarnya sebuah industri terjadi dengan adanya efisiensi, yang dipengaruhi oleh biaya dan sumber daya manusia. Namun ketika biaya tidak memungkinkan, industri kecil masih bisa dibesarkan dengan kolektif efisiensi. Yaitu kerjasama yang baik antara lembaga-lembaga kecil untuk mengalahkan industri yang besar tadi. Kerjasama. Demikian juga halnya dengan membangun bangsa yang besar juga diperlukan kerjasama. 

Tradisi mendongeng adalah langkah efektif untuk membangun kebersamaan dan gotong royong. Dalam hal ini fokus pendengar dongeng adalah anak-anak usia 0-6 tahun, dan anak usia SD. Mendongeng memungkinkan setiap orang untuk terlibat dan berinteraksi. Dengan begitu seorang anak akan lebih ekspresif, imajinatif dan kreatif. Hal ini perlahan akan membentuk karakter unggulan.

Belakangan ini anak-anak semakin jauh dari niai-nilai postif leluhur karena semakin maraknya media, terutama televisi nasional Indonesia yang terlalu banyak. Semakin banyak media televisi maka semakin sulit bagi media untuk bersaing secara sehat. Maka untuk mengejar raihan penonton, dipertontonkanlah tayangan yang tidak mengandung nilai-nilai luhur, vulgar, dan tidak mendidik.

Garin Nugroho Bicara tentang tayangan tv yang tidak mendidik

Garin Nugroho Bicara tentang tayangan tv yang tidak mendidik

Sebagaimana disampaikan oleh Bapak Garin Nugroho, sifat yang telah melekat pada masyarakat kini adalah kepo, melodrama, penyuka gossip, cinta monyet, dan hal-hal yang bersifat keguncangan masyarakat. Yang mana untuk menyampaikan hal-hal tersebut tidak dibutuhkan data ilmiah. Informasi yang sifatnya menggemparkan, ditayangkan secara berlebih, tanpa mempertimbangkan porsi tayangan apalagi penyaringan. Hiburan aneh yang bermodalkan keahlian membullyng, tanpa kreatifitas dan pengetahuan, semakin menjamur.

Dalam kesempatan ini, Ibu Prita juga menyampaikan bahwa karakter seorang anak akan dipengaruhi oleh apa yang mereka lihat dan dengar. Adapun pembentuk karakter anak bersumber dari :

  1. Bersumber dari pola pembelajaran, pengasuhan dan pembiasaan.
  2. Satuan pendidikan sekolah. Mulai dari mata pelajaran, dan bagaimana guru mencontohkan teladan dalam menyikapi anak didiknya.
  3. Dari pemerintahan. Mulai dari penentuan kebijakan sampai dengan pelaksanaan kebijakan yang telah dibuat.
  4. Masyarakat sipil. Bagaimana masyarakat berinteraksi satu sama lain.
  5. Lingkungan masyarakat politik.
  6. Dunia usaha dan Industri. Terlihat dari interaksi para pelaku usaha dan daya saing.
  7. Media massa. Bergantung pada nilai dan budaya pada pemberitaan, sensorship dan edukatif.

Media jarang sekali menyiarkan keteladanan. Perkembangan teknologi mengarah pada hal-hal vulgar. Maka sudah sepatutnya kita mulai peduli dengan melakukan aksi nyata, mulai dari sekarang. Dengan menanamkan teladan dan kearifan leluhur pada anak usia dini hingga usia SD. Memasuki usia SLTP, seorang anak sudah harus diajarkan problem solving, demikian yang disampaikan oleh Ibu Megawati Santoso.

Nusantara Bertutur 2

Menanamkan karakter yang menciptakan pribadi unggulan kedepannya, harus ditanamkan sejak usia dini. Anak dibiasakan untuk learning by playing.

  • Didik anak sesuai usianya
  • Penanaman karakter/moral positif
  • Terampil untuk dirinya sendiri. Buang air, memakai baju, dan makan sendiri.
  • Diajarkan tentang budaya mengantri
  • Buang sampah pada tempatnya
  • Dan pengurangan penggunaan plastik.
Para para para..

Para para para..

Adapun seminar sesi kedua diisi oleh;

  1. Wahyu Farah Dina, SP. Med (Direktur Pengembangan SDM IHF dan Sekolah Karakter.
  2. Imelda Hutapea (Lead Trainer Lifelong Learners School Of Education)
  3. Farhan (Komunitas Indonesia Berkibar).

Dan di moderator oleh Chris Pudjiastuti (Kompas). Dengan tema “Menuju Bangsa yang Bermartabat”.

Sesi kedua ini lebih fokus pada konsep penyampaian dongeng. Pertama, seorang guru harus tahu pada tahap mana anak harus mendengarkan dongeng. Dongeng yang disampaikan juga harus disaring. Yang utama, gunakan konteks kehidupan sehari-hari.

Contoh, cerita Jaka Tarub tidaklah cocok untuk diceritakan sebagai pembangun karakter yang baik. Karena dalam cerita tersebut ada tindakan mencuri dan megintip. Pun dengan cerita Bawang Merah dan Bawang Putih, dalam cerita ini sarat dengan aksi kekerasan, dan bermuara pada harta, bersenang-senang dalam hidup.

Setelah menyampaikan dongeng, gali pemahaman anak terhadap cerita yang disampaikan. Adakan interaksi dan tanya jawab. Dengan begitu maka ada keterikatan emosional.

Agar upaya guru tidak sia-sia, harus berkoordinasi dengan orang tua murid. Agar apa yang ditanamkan di sekolah sejalan dengan apa yang diajarkan orangtuanya di rumah.

Dengan demikian, keteladanan adalah syarat mutlak untuk menemukan jati diri bangsa yang cerdas dan berkarakter.Dan sumber air keteladanan dapat digali dengan mendongeng.

Numpang eksis bareng om Fahhan dan Bunda Yeni Gusman. ^_^

Numpang eksis bareng om Farhan dan Bunda Yessy Gusman. ^_^

Terimakasih kepada Nusantara Bertutur yang sangat menginspirasi. Terimakasih Buat BRID yang memberi kesempatan dan memfasilitasi kesempatan yang luar biasa ini. Terimakasih juga buat Mba Wyl dan Mba Fie (Fitri), dan mba Ima yang ga sempat ketemu. Euumm.. sepertinya saya harus mulai membiasakan diri manggil “emak” ke teman Blogger yang kebanyakan emang emak-emak dan pastinya calon emak.😀

About azzuralhi

Ketika Anda tidak percaya tentang keindahan, selama itu pula Anda tidak akan pernah menemukan keindahan.

Posted on 18 Januari 2015, in Inspirasi and tagged , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

    • Bersumber dari pola pembelajaran, pengasuhan dan pembiasaan.
    • Satuan pendidikan sekolah. Mulai dari mata pelajaran, dan bagaimana guru mencontohkan teladan dalam menyikapi anak didiknya.
    • Dari pemerintahan. Mulai dari penentuan kebijakan sampai dengan pelaksanaan kebijakan yang telah dibuat.
    • Masyarakat sipil. Bagaimana masyarakat berinteraksi satu sama lain.
    • Lingkungan masyarakat politik.
    • Dunia usaha dan Industri. Terlihat dari interaksi para pelaku usaha dan daya saing.
    • Media massa. Bergantung pada nilai dan budaya pada pemberitaan, sensorship dan edukatif.

    poin-poin dari Ibu Prita ini ideal sekali untuk diterapkan dalam kurikulum pendidikan saat ini, yaitu bagaimana melalui dongeng bisa membentuk karakter positif ana. Dan satu lagi sepertinya, dongeng dan pembiasaan nulis karangan esai sedari kecil…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: