When I Was Angry

Hai…Haiiii….. Gue lagi kesel.

Ada banyak hal.

Dan yang pasti, satu-satunya hal yang bisa bikin gue ngomong pake “lo-gue” tuh cuma kalau gue lagi emosi, dan sekarang adalah puncak dari emosi yang udah berusaha gue tahan selama ini. Tentu saja tidak akan secara gamblang gue tulis disini.

Terlalu banyak hal membuat gue kecewa akhir-akhir ini. Oke. Mungkin akan lebih fair kalau gue ga usah bawa-bawa orang lain atau nyalahin rumput yang bergoyang. Lagian ga bakal ngaruh.

Tapi..ya..semuanya memang berhubungan dengan orang, mau bagaimana lagi. Orang-orang yang gue sayang dan gue udah percaya sama mereka akhirnya nyakitin perasaan gue. Gue mungkin lebih rela mereka cubit kulit kering gue dari pada bikin hati gue tersayat-sayat.

Gue ngerasa selama ini mereka ga punya ketulusan, cuma mau mainin perasaan gue,manfaatin gue dan ujung-ujungnya nyakitin gue banget.

Dulu -tepatnya beberapa tahun lalu. Gue deket sama seorang cowok yang  katanya keturunan Arab. Gue ga peduli dia keturunan Korea sekalipun. Karena bukan itu yang gue pandang dalam perteman kami. Gue kenal sama dia karena kebetulan dia teman dari teman yang dikenalkan oleh pacarnya teman *Binguuung..? Dan dari ketiga orang itu ternyata bulshit semua.

Dia -atau lebih tepatnya mereka, memanfaatkan ke-naif-an gue.

Gue ga pernah sadar sekalipun kalau cowok arab ini punya ‘agenda’ tersembuyi selama pertemanan kami. Gue ga tau bahkan jika dia pernah berpikir kalau gue itu cewek cantik jelita yang punya otak encer. Gue ga yakin sih dia pernah berpikir seperrti itu, tapi kalau gue pikir-pikir mungkin aja dia emang pernah mikir begitu.
Dan setelah 1x bertemu mungkin dia menganggap apa yang dia liat ga sesuai yang dia bayangin, karena kenyataannya gue cuma cewek dengan tampang pas-pasan serta otak bloon yang hingga di usia yang sekarang hingga detik ini masih ga tau goal terbesar yang pengen dia capai.

Ketika gue sadar satu hal, ini membuat gue benar-benar sakit hati dan membencinya.
Kesimpulan yang gue tarik dari pertemanan kami adalah tentang pengalihan. Dia jadiin gue pengalihan atas hubungan sama pacarnya yang sedang bermasalah. Owhhh..Damn it. Gue dia jadiin pelarian guys.. Shiittt. Dan sialnya gue ga nyadar.😦

Dan setelah hubungannya sama pacarnya membaik dia menghilang entah kemana, gue dia tinggalin kayak sampah. Bukann. Gue ngga pernah berharap lebih sama dia. Gue ngerasa cukup, dia sayang dan peduli sama gue. Gue juga udah ngerasa kayak sama kakak sendiri, gue hormat sama dia. Nyatanya gue kayak sampah. Dan pertemanan yang tidak sampai 1 tahun itu hanyut kayak sampah di kali-kali busuk yang membelah kota Jakarta ini.

Selain dia, ada lagi manusia bertampang malaikat lainnya. Cowok yang dikenalin pacarnya temen gue.

Gue ga salah dong kalau mengira dia orang baik-baik. Gue ngerasa ilmunya tinggi. Ga ada yang bisa lebih membuat gue hormat sama seseorang melebihi gue menghormati seseorang yang berilmu dan berwawasan luas.

Gue hormat sama dia, gue bahkan lebih deket sama dia dibanding sama cowok yang jadiin gue pengalihan tadi.

Dia ada saat gue lagi butuh, orang yang nyelamatin gue, dia ngehibur gue saat kehilangan sosok Bapak. Salahkah saya yang kemudian begitu menghormatinya.? I think.

Gue salah, ternyata dia yang sebenarnya ngga sebijak yang gue kira selama ini. Gue terlalu mengelu-elukan dia sebagai ‘The Real Old Brother’ (?). Ternyata dia ngga pernah nganggap gue seperti itu. Baginya gue tetaplah orang asing yang ngga punya otoritas untuk ikut campur dalam sebuah masalah yang jelas-jelas gue udah terjebak didalamnya. What A Fuck Man.

Dari dia gue ngerti, ga ada yang bisa ngalahin kekuatan ikatan darah, walau jelas-jelas darah yang terhubung dengannya itu brengsek sejati. Saudara tetaplah saudara yang harus dibela dan dijaga dari orang asing. Hahahha

Sekarang gue ga peduli lagi sama malaikat yang satu ini.

And the other man is..pacarnya temen gue –atau lebih tepatnya mantannya.

Gue kenal –dikenalin tepatnya- sama tuh orang sebelum mereka jadian. Sebelum mereka jadian rasanya semuanya indah. Mereka begitu mengelu-elukan persahabatan, menggemakannya dimana-mana. Owhh..Sweet..

Tapi mereka akhirnya jadian, dibelakang gue,tanpa sepengatahuan gue. Bukan apa-apa,tapiiii… kalian bilang kita sahabat guys.???!! terus kalau udah gini lo berdua ngenggep gue apa..??!!

Saat itu gue emang kecewa, tapi akhirnya gue bisa terima. Yahh..namanya cinta. Grrrrrrhh..

Udah tuh mereka pacaran udah kayak yang serius mau melenggang ke pelaminan, tak terpisahkan.

Namun mimpi tetaplah mimpi. Suatu pagi teman gue yang cewek nelpon sambil nangis. “gue diputusin dan gue ga tau salah gue apa. Dia ngasih alasan yang gue ga bisa ngerti”. Suara tangisannya terdengar sangat pilu.

Gue sebenarnya agak ngga tega, tapi kenyataannya gue tau rencana si cowok dari kemaren-kemarennya. Dia udah ‘minta izin’ ke gue. Bilang kalau dia pengen putus. Gue jelas ga bisa ngomong apa-apa. Apa hak gue nyuruh mereka bertahan kalau salah satunya udah ga bisa. Up to you.

Dan tidak lama setelah aksi pemutusan itu, si cowok menghilang bagai ditelan bumi. Dan gue udah ga peduli sama tuh cowok galau. Issshhh..

Lagi-lagi gue dibikin kecewa sama yang nanya “PERSAHABATAN”.

Itulah kenapa sekarang gue ngga terlalu resfek sama kata-kata persahabatan, gue lebih nyaman kalau cukup bilang teman. Bagi gue persahabatan itu gak lebih dari sebuah fantasi. Fantasinya akan menyenangkan jika kamu masih bisa mengambil keuntungan yang sebanyak-banyaknya, lalu ketika tidak ada lagi yang bisa kau peroleh cukup tinggalkan saja. Seperti sampah. Toh lama-lama juga bakal hilang terbawa angin dan akhirnya tercabik-cabik oleh cacing tanah. Seperti itulah bayangan gue tentang persahabatan.
Jagi kalau lo ga mau gue ngebayangin yang ngga-ngga, jangan pernah ngomongin tentang persahabatan sama gue.

Dan saat ini -saat gue nulis note ini

lagi-lagi gue merasa dikhianati

Entah siapa

Mungkin oleh diri gue sendiri

Dikhianati dan ditertawakan oleh sesuatu yang bernama “NAIF”.

About azzuralhi

Ketika Anda tidak percaya tentang keindahan, selama itu pula Anda tidak akan pernah menemukan keindahan.

Posted on 26 April 2012, in Kelana kata, Sekitar Kita, Today. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. wihh.. keren eon, potonya kerenn…
    bnr kata pepatah, seseorang yg plg dekatlah yg beprotensi mmbuat kita sakit hati..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: