Konsistensi Profesi

Mbah Maridjan yang selama ini dikenal sebagai abdi dalem yang juga juru kunci Merapi memiliki kepribadian yang patut dijadikan teladan. Betapa tidak, begitu taatnya Mbah Maridjan terhadap Sultan Hamengkubuwono IX hingga ia menolak untuk mengungsi walaupun diperintahkan oleh HB X. Padahal kondisi Merapi sudah sangat berbahaya. Semburan awan panas alias Wedus Gembel sudah mulai menyusuri daerah sekitar yang berjarak maksimal 10 kilometer. Semua warga yang lain sudah beranjak dari desanya menuju tempat yang aman. Mencari keselamatan untuk bisa mempertahankan kehidupan. Namun Mbah Maridjan masih dengan tenangnya berdiam (stand by) diri di kediamannya.

Tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa Mbah Maridjan adalah orang yang loyal, berdedikasi tinggi terhadap suatu titah yang agung. Walaupun kematian mengancam tidak menjadi masalah yang berarti. Kepatuhan terhadap perintah dan kesadaran untuk mengabdi demi kepentingan orang banyak menjadi komitmennya. Kematian adalah tempat peristirahatan bagi orang-orang mukmin. Setelah purna menyelesaikan tugasnya Mbah Maridjan menenui ajalnya. Mungkin ini adalah kenyataan yang pahit, terselubung kesedihan. Sepeninggal beliau tentu menyisakan pekerjaan yang tidak mudah. Akan sulit mencari sosok yang tepat menggantikan posisi beliau. Namun setidaknya kita wajib memberikan apresiasi kepadanya atas segala pengorbanan dan jasanya.

Semoga ini menjadi pelajaran berharga bagi bangsa, khususnya bagi para politisi. Kehidupan dunia yang melenakan bukanlah tujuan utama. Bekal amal kebaikan adalah prioritas demi menuju singgasana Tuhan. Menuju keabadian yang dihadapkan pada dua kenyataan. Baik amal yang dilakukan maka balasan kebaikan pula yang akan didapatkan dan sebalinya. Kesederhaan yang ditampilkan oleh Mbah Maridjan menunjukan bahwa kesuksesan itu bukanlah bangga terhadap pencapain hidup namun bagaimana manusia sadar akan siapa dirinya sesungguhnya. Pantaskah bermewah-mewahan di tengah-tengah kehidupan bangsa yang berjuta rakyat miskin bertebaran. Layakkah berkunjung –jika tidak patut dikatakan plesiran– di saat bangsa ini dirundung duka nestapa. Selamat jalan Mbah Maridjan. Semoga rahmat-Nya senantiasa mengiringi kepergianmu menuju alam baka. Amin

About azzuralhi

Ketika Anda tidak percaya tentang keindahan, selama itu pula Anda tidak akan pernah menemukan keindahan.

Posted on 30 Oktober 2010, in Sekitar Kita, Sosial Budaya. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: