Category Archives: All About Soe Hok Gie

Resensi Film Soe Hok Gie dan Lirik Lagu “Donna Donna”

Akhirnya nemu peresensi yang mumpuni untuk film ini, Thanks buat mas Jay alias mas Yulian 😀 . Saya numpang share resensiannya.

 

Setelah menulis tentang Soe Hok Gie akhir tahun lalu sebagai rasa hormat saya atas buah pikirannya, akhirnya saya menonton juga film Gie yang dibuat oleh Miles Production. To the point saja, apa yang tertulis dalam buku “Catatan Seorang Demonstran” selain buku “Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan”, “Zaman Peralihan” dan ulasan “John Maxwell: Soe Hok Gie – Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani” tidaklah cukup dipadatkan dalam sebuah film berdurasi dua jam.

Mari kita bicara hal teknis dulu. Film ini diproduksi ke dalam layar lebar seluloid dengan tata suara yang tak yakin terdengar stereo. Saya tak tahu apakah memang sulit melakukan mixing 4 kanal suara (surround, center dan subwoofer bisa virtual dari filtering kiri/kanan)? Kecuali pada saat syuting dan editing input suara memang hanya sedikit, jadi sayang kualitas teater dengan tata suara DTS tidak terpakai.

Okelah, mungkin tata suara surround terlalu canggih, saya lihat sistem stereonya saja, di banyak adegan sering terjadi tumpang tindih, narasi bertabrakan dengan backsound hingga saya sulit mendengar, terkadang backsound volumenya terlalu kencang dibandingkan narasi atau dialog. Saya tidak tahu ini kesalahan di tata suara teater ataukah memang dari seluloidnya seperti itu.

Ah, ngejelekkin mulu! Film ini dikemas dengan setting yang baik, meskipun saya tidak tahu persis seperti apa kondisi jalan, rumah, pakaian, budaya dan tata bahasa tahun 1950-an hingga akhir 1960-an. Hanya para orang tua kita yang bisa mengkonfirmasikan apakah benar Jakarta pada tahun itu kata-kata ‘gue’ dan ‘lu’ sudah sangat membudaya? Apakah benar tahun tersebut sudah ada jam tangan bulat tipis yang dipakai Gie? Orang tua saya dulu tidak tinggal di Jakarta, jadi saya tidak ada tempat bertanya. Eh, anak Betawi yang bonyoknya lama di Jakarta kasih tahu gue ye!

Diawali dengan narasi Gie yang datar seperti seseorang bercerita kepada anak kecil mulai mendeskripsikan siapa itu Soe Hok Gie, pikirannya, keluarganya dan lingkungannya. Dialog dan adegan perlahan-lahan ditunjukkan untuk menampilkan character development Gie dari sejak SMP hingga masuk Kolese Kanisius. Satu yang tak saya suka adalah pergantian adegan ke adegan diselingi layar hitam selama beberapa detik, buat saya ini cukup mengganggu. Dalam menonton film di bioskop mata dan telinga saya tak butuh istirahat, atau menghela nafas sejenak.

Memasuki Fakultas Sastra UI karakter Gie semakin ditunjukkan penuh konflik, ketidakpuasannya terhadap pemerintahan, keprihatinannya kepada masyarakat, pandangannya kepada perempuan, bahkan kepada pola dan budaya kemahasiswaan di kampusnya. Gie memang tak mau menjadi top leader di kampusnya namun ia punya dukungan penuh kepada sahabatnya Herman Lantang, yang selain aktif bersama di kemahasiswaan juga bersama-sama membentuk organisasi hobi yang waktu itu bisa dikatakan gila di jaman revolusi, yaitu naik gunung.

Jika anda membaca Catatan Seorang Demonstran tentu anda berharap adegan-adegan demonstrasi yang dimotori oleh Gie dan sahabat-sahabatnya, bahkan cukup detil dituliskan dalam catatan hariannya. Memang tidak banyak ditunjukkan dan saya sempat berpikir bahwa film ini akan menyodorkan bagaimana proses sebuah demonstrasi mahasiswa disiapkan secara teknis dan nonteknisnya, saya tak berharap ada adegan demonstrasi kolosal yang mahal. Di sisi lain kegiatan hobinya naik gunung kurang ditunjukkan, sebab saya ingin tahu pada tahun itu seperti apa mereka menyiapkan peralatan naik gunung yang tentunya tak mudah didapatkan seperti sekarang, dan hal ini ada penjelasannya di buku CSD.

Di film ini cakrawala lebar hanya bisa anda dapatkan dalam setting di gunung, termasuk di padang Edelweiss (padang Suryakencana kalau tidak salah namanya) Gunung Gede dan puncak triangulasi Gunung Pangrango (saya pernah duduk juga di puncak Pangrango tersebut dan tidur di kelilingi bunga Edelweiss yang berlimpah), sedangkan di kota hanyalah sudut-sudut kamera sempit namun cukup tertata dalam menggambarkan suasana kota lama Jakarta.

Satu yang kurang dari film ini adalah Gie pernah melakukan perjalanan ke luar negeri yaitu ke Amerika dan ke Australia di tahun 1968, setahun sebelum Mapala UI menyiapkan pendakian ke puncak tertinggi di pulau Jawa yaitu gunung Semeru, namun tidak ada deskripsi atau adegan tentang hal ini, memang cukup mengecewakan, namun bisa dimengerti jika alasannya adalah sulit dan mahalnya pengambilan gambar. Salah satu catatannya selama ke Australia adalah piringan hitam Joan Baez-nya ditahan di bandara. Di waktu sebelumnya Sita menyanyikan lagu Donna Donna Donna dengan apik, bahkan cukup menyayat hati mendengar kembali lagu tersebut di film Gie. Lagu “Donna Donna Donna” dulu saya dengarkan sambil membaca buku CSD, yang cukup memengaruhi saya menyukai lagu-lagu Joan Baez yang lain, terutama lagu Diamond and Rust (1975).

Donna Donna Donna
oleh Joan Baez

On a wagon bound for market
there`s a calf with a mournful eye.
High above him there`s a swallow,
winging swiftly through the sky.

How the winds are laughing,
they laugh with all their might.
Laugh and laugh the whole day through,
and half the summer's night.

(Chorus)
Donna, Donna, Donna, Donna;
Donna, Donna, Donna, Don.
Donna, Donna, Donna, Donna;
Donna, Donna, Donna, Don.

"Stop complaining!“ said the farmer,
Who told you a calf to be?
Why don`t you have wings to fly with,
like the swallow so proud and free?“

(back to Chorus)

Calves are easily bound and slaughtered,
never knowing the reason why.
But whoever treasures freedom,
like the swallow has learned to fly.

(back to Chorus)

Lirik Ost Gie

Gie
====
Sampaikanlah pada ibuku
Aku pulang terlambat waktu
Ku akan menaklukkan malam
dengan jalan pikiranku

Sampaikanlah pada bapakku
aku mencari jalan atas semua
keresahan-keresahan ini
kegelisahan manusia

malam yang dingin...

(Chorus)
Tak pernah berhenti berjuang
Pecahkan teka teki malam
Tak pernah berhenti berjuang
Pecahkan teka teki keadilan

Berbagi waktu dengan alam
Kau akan tahu siapa dirimu
Yang sebenarnya
Hakikat manusia

(back to Chorus)

Akan aku telusuri
Jalan yang setapak ini
Semoga kutemukan jawaban
============== 

Cuplikan dari lirik lagu berjudul Gie yang ditulis Eross bercerita tentang sosok Gie, seorang aktivis angkatan ’60 yang semangat juangnya selalu menjadi sumber inspirasi. “Aku dapat inspirasi liriknya setelah baca skrip yang disodorkan oleh Mbak Mira. Tapi sebelumnya aku juga sudah kenal sosok Gie ini lewat buku-buku yang menuliskan perjalanan hidupnya,” tutur Eross.

Lagu berjudul Gie tersebut dinyanyikan oleh Okta, seniman yang sudah lama bermukim di kota Yogya. Buat Okta yang pernah berduet dengan Lea, membawakan lagu karya Eross adalah suatu kehormatan apalagi lagu yang dinyanyikan ini merupakan soundtrack dari sebuah film yang diangkat dari kisah nyata. Tak hanya di lagu Gie, Okta juga mengisi vokal pada lagu Cahaya Bulan yang juga besutan Eross.

GIE adalah film layar lebar yang diangkat dari kisah nyata Soe Hok Gie, mahasiswa yang kritis terhadap kebijaksanaan pemerintah di tahun 60-an. Tak lengkap rasanya bila menonton filmnya tanpa menikmati lagu-lagu yang ikut tersaji didalamnya. Beberapa tembang lawas di hadirkan dalam suasana segar disini. Tak asal comot, karena lagu-lagu disini merupakan lagu yang lagi ngetop pada tahun ‘60an. Sebut saja karya penting Bob Dylan Like A Rolling Stone yang di cover oleh Speaker 1st dengan menggaet vokalis sangar Andy /rif. Lalu ada tembang favorit Gie berjudul Donna Donna milik Joan Baez yang dibawakan kembali lewat tarik suara Sita RSD.

Dari dalam negeri pun turut hadir sederet tembang lagendaris yaitu Dimana Dia dibawakan oleh Tetty Kadi, Terombang Penantian oleh Titiek Puspa dan Badai Selatan oleh Agus Wisman. Melalui tangan dingin Andi Rianto ketiga lagu itu digarap menjadi bernuansa modern tanpa meninggalkan ruh aslinya.

Selain Gie ada 2 buah lagu baru. Mr. Ego besutan Speaker 1st dan Cahaya Bulan besutan Eross. Keduanya merupakan karya dari para anak muda yang mengenal sosok Gie lewat tulisan-tulisan otobiografi maupun buah pikir Gie yang telah dibukukan dan ini membuktikan bahwa semangat juang Gie masih terus lestari hingga saat ini.

Di album ini jangan lewatkan juga penampilan Nicholas Saputra membawakan sebuah puisi Gie. Dengan berlatar dentingan ballad Cahaya Bulan tanpa nyanyian, telah berhasil menerjemahkan cita-cita Gie yang tersirat lewat puisinya dalam nuansa romantisme seorang aktivis.

[Diambil dari sini]

Tracklist OST. GIE

1.       CAHAYA BULAN / Eross SO7 & Okta

2.       GIE / Eross SO7 & Okta

3.       LIKE A ROLLING STONE / SPEAKER 1ST  feat Andy RIF,

4.       DONNA DONNA / Sita RSD/ Arr. Tohpati

5.       MR EGO / SPEAKER 1ST

6.       BADAI SELATAN / Agus Wisman / Andi R

7.       TEROMBANG DI PENANTIAN / Titiek Puspa / Arr. Andi R

8.       NURLELA / Deny Wong 7/ Bing Slamet / Arr. Irwan S

9.       DI MANA DIA / Tetty Kadi / Arr. Andi R

10.  PUISI  (CAHAYA BULAN) / Nicholas Saputra

[Klik untuk Sumber]

Gie on Movie

Miles Films meluncurkan film terbarunya berjudul “GIE”. Film yang diangkat dari kisah nyata kehidupan Soe Hok Gie, aktivis angkatan ’66 ini merupakan film paling besar yang pernah dibuat oleh generasi baru perfilman Indonesia. Setelah melalui masa pembuatan yang sangat panjang, mencapai 3½ tahun, film ini akhirnya akan beredar serentak di 30 bioskop do 10 kota besar di Indonesia mulai tanggal 14 Juli 2005.

Proses syuting GIE yang berdurasi 147 menit ini memakan waktu total 4 bulan dan rampung pada Agustus 2004 lalu dengan mengambil lokasi di Jakarta, Semarang, Jogjakarta, kaki gunung Merapi, puncak Pangrango dan lembah Mandalawangi. Proses mixing-nya sendiri dilakukan di Bangkok, Thailand. Film yang menghabiskan biaya produksi sebesar Rp. 7 miliar ini melibatkan lebih dari 2500 orang pemain, extras dan crew.

GIE dibintangi antara lain oleh Nicholas Saputra (sebagai Soe Hok Gie), Sita Nursanti, Lukman Sardi, Indra Birowo,  Thomas Nawilis dan Wulan Guritno, disutradarai oleh Riri Riza dibantu sejumlah nama yang tidak asing lagi di dunia film, antara lain: Yudi Datau (DoP), Iri Supit (Art Director), Thoersi Argeswara (Music Director) dan Sastha Sunu (Editor). Selain wajah-wajah lama, film GIE juga diramaikan oleh kemunculan muka-muka baru seperti Jonathan Mulia (sebagai Soe Hok Gie remaja), Cristian Audy dan Donny Alamsyah.

Dengan setting tahun 60-an, GIE berlatar belakang kehidupan sosial politik. Berkisah tentang sepak terjang Soe Hok Gie, aktivis mahasiswa UI berdarah Tionghoa yanhg sangat peduli terhadap issue-issue sosial dan politik. Banyak pemikiran–pemikiran mengenai ketidakadilan, penyelewengan kekuasaan dan seputarnya lahir dari sosok sederhana ini.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

“Film GIE adalah sebuah film yang berfokus pada seorang karakter yang pernah hidup di sebuah masa yang bisa dibilang paling penting dalam sejarah modern Indonesia dan ia mencatat pergolakan pikiran, perasaan, dan situasi-situasi yang terjadi di sekelilingnya melalui sebuah catatan harian,” jelas Riri.
Proses perjalanan GIE sampai akhirnya diluncurkan memang panjang. Menurut Mira Lesmana, produser GIE, dalam mengerjakan proyek sebesar GIE memang tidak bisa dilakukan terburu-buru. “Karena itu kami harus benar-benar intensif melakukan persiapan, mulai dari segi artistik, peralatan sampai para pemain,” katanya. “Belum lagi proses syutingnya yang tidak mudah, benar-benar berat medannya,” tambah Mira.

Setelah melalui perjalanan yang demikian panjang, Mira berharap, generasi muda yg menonton film ini melihat betapa pentingnya memiliki sikap dan kejujuran seperti Gie. “Setiap manusia punya hati nurani yang kadang-kadang dengan segala permasalahan hidup, ia tidak bicara lagi pada kita. Sosok Gie ibarat lonceng yang mengingatkan kita saat terjadi sesuatu yang salah. Lebih jauh lagi, ada elemen-elemen kemanusiaan yg mungkin kita lupakan dan ini bisa kita temukan dalam film GIE,” urai Mira.

Untuk memerankan sosok Gie terpilihlah aktor muda berbakat, Nicholas Saputra. Nicholas sempat bertanya-tanya sendiri kenapa ia yang terpilih dari sekian banyak kandidat lain. “Saya bukan keturunan Cina dan secara fisik berbeda. Tapi kemudian Mas Riri dan Mbak Mira menjelaskan panjang lebar dan akhirnya saya ngerti dan yakin untuk menjalaninya,” katanya.

Riri menjelaskan, terpilihnya Nicholas sebagai Soe Hok Gie merupakan pilihan terbaik yang mereka dapatkan. “Setelah melalui serangkaian proses casting, He is the best that we have. Ketika kami melakukan tes, audisi dan semacam simulasi, terlihat jelas kalau Nicholas sangat menonjol dan paling mendekati karakter Soe Hok Gie dibandingkan kandidat yang lain. Sebagai seorang pribadi, dia juga memiliki kegelisahan yang sama dan bisa saya rasakan jelas. Hal ini tentunya sangat membantu untuk masuk ke dalam karakter Gie,” jelas Riri.

Mira pun sependapat dengan Riri. “Mungkin akan ada pro dan kontra, tapi itu hal biasa. Nicholas memang excellent. Jadi kalau sampai Nicholas yang terpilih untuk peran ini, bukan salah dia. Tidak bisa dipungkiri, he’s definitely the one!” seru Mira.

Nicholas sendiri berharap film GIE bisa memberikan nafas baru bagi penonton Indonesia, khususnya remaja dan mahasiswa. “Mereka seharusnya punya sikap politik yang jelas atas berbagai kesadaran dan pengetahuan. Jadi saya rasa film ini memberikan suatu contoh atau paling tidak bisa menjadi inspirasi dalam menyikapi peristiwa-peristiwa politik yang terjadi,” tutur mahasiswa Teknik Arsitektur, Universitas Indonesia ini.

Dalam rangka peluncuran film ini, LP3ES telah menerbitkan kembali buku harian Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran, yang telah sepuluh tahun menghilang dari pasaran. Sementara album soundtrack film (OST) ini diproduksi dan didistribusikan oleh SonyBMG, dengan lagu tema berjudul Gie yang diciptakan oleh Eross Chandra. Album OST ini akan segera beredar dengan menampilkan lagu-lagu yang khusus diciptakan untuk film ini maupun lagu-lagu yang memang terkenal di tahun ‘60an. Salah satunya adalah lagu kegemaran Soe Hok Gie yang berjudul Donna Donna (Joan Baez) yang dinyanyikan kembali oleh Sita RSD.

[Diambil dari Soe Hok Gie Yahoo Group]

Profile Soe Hok Gie

Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan

Biografia
Soe Hok Gie (17 Desember 1942–16 Desember 1969) adalah salah seorang aktivis Indonesia dan mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jurusan Sejarah tahun 1962–1969.Soe Hok Gie menamatkan pendidikan SMA di Kolese Kanisius. Nama Soe Hok Gie adalah dialek Hokkian dari namanya Su Fu-yi dalam bahasa Mandarin (Hanzi: 蘇福義). Leluhur Soe Hok Gie sendiri adalah berasal dari Provinsi Hainan, Republik Rakyat Cina.Ia adalah seorang anak muda yang berpendirian yang teguh dalam memegang prinsipnya dan rajin mendokumentasikan perjalanan hidupnya dalam buku harian. Buku hariannya kemudian diterbitkan dengan judul Catatan Seorang Demonstran (1983).Soe Hok Gie adalah anak keempat dari lima bersaudara keluarga Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan. Dia adik kandung Arief Budiman atau Soe Hok Djin, dosen Universitas Kristen Satya Wacana yang juga dikenal vokal dan sekarang berdomisili di Australia.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Hok Gie dikenal sebagai penulis produktif di beberapa media massa, misalnya Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya. Sekitar 35 karya artikelnya (kira-kira sepertiga dari seluruh karyanya) selama rentang waktu tiga tahun Orde Baru, sudah dibukukan dan diterbitkan dengan judul Zaman Peralihan (Bentang, 1995).
Catatan Seorang Demonstran

Juga skripsi sarjana mudanya perihal Sarekat Islam Semarang, tahun 1999 diterbitkan Yayasan Bentang dengan judul Di Bawah Lentera Merah. Sebelumnya, skripsi S1-nya yang mengulas soal pemberontakan PKI di Madiun, juga sudah dibukukan dengan judul Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan (Bentang, 1997).

Sebagai bagian dari aktivitas gerakan, Soe Hok Gie juga sempat terlibat sebagai staf redaksi Mahasiswa Indonesia, sebuah koran mingguan yang diterbitkan oleh mahasiswa angkatan 66 di Bandung untuk mengkritik pemerintahan Orde Lama.

Hok Gie meninggal di gunung Semeru tahun 1969 tepat sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27 akibat menghirup asap beracun di gunung tersebut. Dia meninggal bersama rekannya, Idhan Dhanvantari Lubis.

John Maxwell menulis biografi Soe Hok Gie dengan judul Soe Hok Gie – A Biography of A Young Indonesian Intellectual (Australian National University, 1997).

Pada tahun 2005, catatan hariannya menjadi dasar bagi film yang disutradarai Riri Riza, Gie, dengan Nicholas Saputra berperan sebagai Hok Gie. [Via ; Fp Soe Hok Gie]

Dari 5CM ke Gie

Seperti yang saya katakan dipostingan sebelumnya, selepas menonton film 5cm saya dibawa pada petualangan tentang Soe Hok Gie. Jujur saya belum sempat nonton film Gie – Film yang diangkat dari kisah nyata Soe Hok Gie, yang diperankan oleh Nicholas Saputra tahun 2005 silam, baru setelah nonton film 5cm saya penasaran dengan sosok yang satu ini. Maka mulailah saya mencari-cari semua yang berhubungan dengannya.

Oke, mungkin kamu bingung apa hubungan antara film 5cm dengan Soe Hok Gie.
Jadi film 5cm itu menceritakan tentang persahabatan 5 sekawan. Setelah mengambil jeda selama 3 bulan untuk mereka menjalani kehidupan masing-masing tanpa bergantung dan berhubungan dengan sang sahabat. Setelah 3 bulan mereka bertemu di stasiun Senen dan langsung melakukan perjalanan – petualangan, hal baru bagi mereka, yitu mendaki puncak tertinggi Semeru.

Semeru dan pada puncak tertingginya – Mahameru. Semeru dan Gie adalah sebuah cerita yang tidak bisa dipisahkan.

Semeru adalah sahabat bagi Gie, sang demonstran “galau” yang begitu miris terhadap kepemerintahan republik ini. Sahabat yang bisa diajaknya berbagi keluh pada malam-malam yang sunyi, alam yang tidak pernah ingkar dan alam yang tidak pernah berbohong, alam tidak pernah berkhianat seperti pemimpin-pemimpin yang hanya mementingkan hajat dan kedudukannya sendiri. Para pemimpin tidak pernah benar-benar peduli dengan rakyat jelata yang mereka telantarkan. Pemimpin memang memberi tapi tidak lebih dari pada janji semulah yang mereka berikan. Dan itu terjadi hingga kini. 😦

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sebelumnya bukan tidak tahu mengenai Gie, tapi berkat 5cm lah saya mencoba mengenalnya lebih dekat.

Alhasil beberapa waktu yang lalu saya nonton Film Gie setelah mencoba berdamai dengan download-an yang mencapai 21 part. Hahha

Nocholas Saputra adalah tokoh yang sesuai untuk pemeran Gie, sangat mendalami. Bahkan saya menyukai suaranya yang sedang melantunkan puisi-puisi terakhir sebelum Gie meninggal. Walaupun sebenarnya saya agak tersentak-sentak dengan filmnya yang kadang terlalu dipaksa untuk tetap menuju alur maju yang begitu cepat dan tiba-tiba dan kadang tanpa penghubung.

Kalau hanya mengandalkan dari apa yang kita lihat di film tersebut, kita tidak akan benar-benar mengerti siapa itu Gie – menurut saya. Karena sekali lagi, alurnya kadang tidak bisa saya mengerti – entah kalau saya yang memang terlalu lemot :mrgreen:

Hasil akhirnya, saya bisa menangis bahkan sambil teriak-teriak kalau sedang mendengarkan lagu “Donna Donna” dan Gie yang menjadi soundtrack di film tersebut. Entah kenapa, rasanya itu sangat menyedihkan.

Ketika kamu hanyalah rakyat biasa dan tidak bisa melakukan apa-apa untuk membuat perubahan selain bicara lantang, melalui demonstrasi, melalui puisi dan artikel. Namun bahkan hanya dengan media seperti itu kamu justru banyak dicari orang untuk mereka jadikan kader partai, bersatu dengan komplotan orang-orang yang hanya mementingkan kepentingan kelompoknya sendiri. Sesuatu yang Gie benci, susuatu yang tidak pernah dia sukai.

Setelah satu pemimpin bergulir dan digantikan oleh pemimpin yang lain masih tidak menunjukkan perubahan yang berarti. Jadi apakah perubahan itu mustahil? Sebab rupanya tabiat manusia itu sama. Setelah mereka memperolah posisi yang nyaman, mereka lupa dengan tujuan utama yang digadang sejak semula. Jadi masihkah ada harapan untuk kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia ini?! Itulah kegelisahan  manusia, ditemani malam yang dingin serta bisu, berjuang pecahkan teka teki malam, teka-teki keadilan.

Maka berbagi dengan alam akan membuat kita tahu hakikat manusia, berharap temukan jawaban seiring dengan langkah pada jalan-jalan setapak, disana, Mahameru. Dan disanalah tempat dimana dia bernafas untuk yang terakhir kalinya pada usia 27 tahun, satu hari menjelang hari ulang tahunnya. Dia meninggal setelah menghirup gas beracun, meninggalkan harapan yang hingga kini jawabannya adalah “e n t a h “.

Salah satu kutipan yang sangat disukainya adalah perkataan seorang filsuf Yunani :

“Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda”.

Dia benar-benar mati muda, sebagaimana kutipan favoritnya. Dan saya benar-benar ingin tahu, benarkah ia bahagia karena mati muda? Sebuah pertanyaan yang tentu saja saya tidak akan mendengar jawabannya.

Adakah keberatannya meninggalkan dunia ini, padahal cita-citanya untuk indonesia sejahtera belum tercapai? Gie… Gie..Giee..Giiiieeeeeee 😦 😥

Satu poin lebih mengenai Gie, karena dia adalah seorang Penulis, seorang pecinta buku, seorang penyair, selain sebagai seorang nasionalis. Saya pribadi menyesalkan kepergiannya diusia muda tersebut.

%d blogger menyukai ini: