Bromo I’m In Love #5 [Dua Coban]

Melanjutkan cerita kemarin, masih mengenai perjalanan ke Bromo.😀 . Kali ini kami akan menuju Dua Coban, yaitu coban trisula dan coban pelangi. COBAN lho ya, bukan COBAAN!! Yeaahh.. meskipun harus ditempuh dengan sedikit cobaan.:mrgreen:

===

Kami tertinggal. Entahlah, terlalu banyak ini-itu yang tidak terlalu penting yang kami lakukan, membuang waktu. Tapi ada bagusnya juga sih.

Kendaraan yang tersisa tinggal sebuah Jeep ketika rombongan yang lain udah jalan. Padahal kalau hanya sampai Coban Trisula, kami seharusnya tidak perlu naik jeep, cukup naik naik mobil carry saja seperti rombongan yang lain. Mereka naik Carry, kami naik Jeep – ini sebuah perbedaan. Perbedaan yang membuat perjalanan tersebut lebih berwarna.

Yaps.. Siang itu merupakan kali pertamanya saya naik mobil Jeep. Wkwk. Katrook. Emaaang. Masalah? Bodo amat.😛

Tidak hanya sampai disitu, saya dan beberapa teman nekad naik diatas kepala si Jeep. Aduuuhh… sumpah aslinya saya takut banget, jangan-jangan nanti saya terlempar dari atas dan masuk jurang. Ngeri boo..

DSC_0287

Alhasil sepanjang perjalanan itu kami heboh sendiri, terutama saya. Teriak-teriak geje. Teriak seru sekaligus takut. Tawa membahana yang dicampuri teriakan histeris. Apalagi posisi duduk yang rada nggak enak, gradak-gruduk. Tangan yang dingin jadi tambah dingin – ketakutan. Yep…. aslinya saya itu orangnya penakut.:mrgreen:

Akhirnya sampai juga di Coban Trisula. Coban Trisula merupakan air terjun yang berada di blok Kali Lajing, Seksi Konservasi Wilayah III.  Dinamakan Trisula karena air terjun itu jatuh ke sungai sebanyak tiga tingkat, yaitu Coban Atas (air terjun pertama dari curahan sungai/kali Lajing); dibawahnya berupa Coban Tengah (air terjun kedua yang bersumber dari aliran air terjun pertama, di bawahnya terdapat kolam), dan Coban Bawah (air terjun ketiga,bersumber dari aliran Coban Tengah). Selengkapnya bisa baca di sini.

Awalnya saya kira letak air terjunnya tidak terlalu jauh dari parkiran, rupanya jauh panggang dari api. Untuk bisa menikmati air terjun Coban Trisula kita harus melalui jalan yang berputar dan cukup menantang karena terdiri dari turunan yang agak curam ditambah lumut-lumut musim hujan yang masih tersisa. Hal membuat kita benar-benar harus ekstra hati-hati jika tidak ingin terpeleset. Sayangnya masih ada teman-teman yang terpeleset.

Medannya memang diluar perkiraan, jadi wajar saja kalau persiapan teman-teman agak kurang, terutama cewek, yang make sendal cewek ala kadarnya. Taukan sendal cewek? Yang pasti tidak cocok dipakai untuk kegiatan membelah hutan.

Tapi saya justru senang mendapati medan seperti ini, berasa di kampung halaman. Teringat kebiasaan saya dahulu kala yang suka berjalan membelah hutan.

Disekitar lokasi Coban Trisula terdapat tumbuh-tumbuhan yang menawan mata dan hati. Seperti palm dan paku-pakuan. Setelah menempuh perjalanan yang menegangkan, perlahan kami tersenyum puas. Ketika suara gemericik air sudah mulai terdengar otomatis membuat saya dan teman-teman bergembira ria, akhirnya perjuangan kami terbayar sudah. Dan taraaa….

Coban bawah, tentu saja yang pertama kali kami dapati. Berbentuk kolam, dan sayangnya airnya agak keruh. Mungkin pengaruh hujan. Begitulah selanjutnya, kami menikmati Coban Trisula dengan riang gembira #bahasa apalah ini – pundung

Ketika turun kami harus ekstra sabar dan berhati-hati agar tidak terpeleset, kali ini kami harus bekerja keras melawan gravitasi. Siapa yang nggak ngos-ngosan ketika mendaki ditambah medan berbatu nan licin?, bohong banget. #lap keringat.

===

Selanjutnya tujuan berikutnya Coban Pelangi. Sebenarnya letak coban pelangi lebih dekat dari pada coban trisula. Namun setelah dipikir-pikir saya mengerti kenapa crew membawa kami ke coban trisula terlebih dahulu. Pertama, melihat medan dan waktu. Rasanya agak kurang bijak jika kami berkeliaran dimedan seperti itu dalam keadaan yang sudah agak gelap. Kedua, agar kami tidak manja. Jangan sampai kami beranggapan bahwa medan coban trisula tidak jauh dari coban pelangi, itu jelas salah. Terbukti dengan mendahulukan coban trisula, kami jadi lebih rileks dengan medan yang ada di coban pelangi.

 Coban pelangi, berjarak sekitar 2 km dari desa Gubuk Klakah (homestay kami berada:mrgreen: ) atau sekitar ± 32 km sebelah timur kota Malang.

Berbeda dengan coban trisula, medan yang dilewati kali ini tidak terlalu curam, bisa dikatakan tanpa kendala karena jalanannya cukup landai dan agak berpasir. Tidak ada bebetuan licin seperti di coban trisula. Tidak perlu takut kesasar karena disini sudah ada jalur yang disediakan (yaiyalah). Disepanjang perjalanan, lagi-lagi kita disuguhi pemandangan alam yang luar biasa mempesona. Sejauh mata memandang, hijau dan rimbunnya hutan yang masih terjaga bisa kita nikmati. Pokoknya benar-benar paslah untuk melepas penat dari kegiatan monoton di kota metropolitan.

Air terjun ini berada di ketinggian 1299,5 m di kaki Gunung Semeru arah ke desa Ngadas.dan memiliki terjunan air setinggi kurang lebih 110 m.   Suhu udara di kawasan ini berkisar antara 19 – 23 derajat Celcius.Dinamakan Coban Pelangi karena air terjun ini sering membiaskan warna pelangi. Selengkapnya bisa dibaca di sini 

Pagi hari merupakan waktu kunjungan paling pas ke  tempat ini karena kabut sering muncul setelah lewat dari tengah hari. Juga pada musim penghujan pihak pengelola sering membatasi kunjungan hingga pukul 16.00.  Hal ini untuk menghindari munculnya air bah yang datang dari pegunungan di bagian hulu uang acap kali datang.

Air terjunnya tinggi bingits sodara. Suara bedebumnya itu keren banget, hingga menggetarkan dada. Pokoknya kalau ke malang rugi banget dah kalau nggak berkunjung kemari. Sayangnya kami kurang beruntung karena tidak bisa menyaksikan bias pelangi sedikitpun, maklum waktu kunjung kami memang agak kesorean. Konon katanya, waktu berkunjung yang paling bagus itu pagi menjelang siang, bukannya siang menjelang sore. Yang konon – lagi – katanya, siang menjelang sore tempat ini sering tertutup kabut.

Hal paling lumrah yang orang lakukan ketika bertemu air tentu saja basah-basahan. Yaaayyy… mari terjuuun..

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Tidak banyak yang turun kebawah untuk merasakan langsung percik air yang menjulang tinggi ini. Namun saya dan beberapa teman mencoba memberanikan diri. Tentunya harus didampingi guide ya, jangan sampe nggak. Karena kita yang nggak tau apa-apa mengenai tempat tersebut bisa-bisa celaka. Dikhawatirkan tiba-tiba ada air bah. Saya juga sebenarnya ngeri ngebayangin air bah ini, bagaimana kalau air bah datang tiba-tiba dan memelintir kami, menenggelamkan dan membawa kami dalam arusnya. Hiiii… ngeri. Makanya kami tidak berani terlalu dekat. Masih ada jarak beberapa meter, tapi kami tetap basah. Jadilah kami pulang berbasah-basah ria. Sudah dingin tambah dingin.

Lagi-lagi kami tertinggal. Kebanyakan narsis sih, setiap kali ada kesempatan pasti langsung jeprat-jepret.

Oya sebagaimana daerah pegunungan lainnya, selain banyak perkebunan Apel, didaerah ini juga ladang-ladang penduduk. Tomat, cabe, bawang dan lainnya tumbuh subur dan asri. Tanah yang terlihat bertingkat dan tersusun itu menambah jajaran keindahan yang bisa dinikmati.

Pelajaran yang bisa dipetik dalam perjalanan menikmati coban ini adalah bahwa tidak ada kenikmatan yang bisa diperolah secara instan. Ya, setidaknya lewat perjuangan, kita akan lebih menghargai keindahan yang kita nikmati. Jika kita menginginkan sesuatu yang berharga maka kita harus memperjuangkannya. Sebab keindahan yang terdapat di ujung jalan hanya bisa kita nikmati jika jalan itu telah kita lalui. (kata-kata ini keluar dari otak saya dalam pelajaran Bahasa Indonesia kelas XII, hampir satu dekade yang lalu. Owh.. rupanya saya sudah tua. Huuffhh)

Singkat kata, kami pun pulang ke homestay masing-masing. Mandi, menghangatkan diri. Mempersiapkan stamina untuk perjalanan berikutnya, perjalanan inti. BROMO.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

=== TBC ===

About azzuralhi

Ketika Anda tidak percaya tentang keindahan, selama itu pula Anda tidak akan pernah menemukan keindahan.

Posted on 24 Maret 2014, in Catatan, Journey, Personal and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: