Yang Hidup di Hutan Mati – Papandayan

Papandayan – Garut, Jawa Barat.

Inilah gunung pertama yang saya daki. Terletak di 2.665 mdpl sangat cocok bagi pemula seperti saya dan mungkin anda..😀

Meeting point jam 11 malam di kp.rambutan. Sialnya saya agak telat dan, you know what? rasanya penggambaran sifat dasar seorang bergolongan darah O sama sekali tidak meleset. Mudah panik. Alhasil saya malah turun di halte Ps. rebo.

Setelah sadar salah tempat, saya langsung menuju kp.rambutan. Ternyata, tidak hanya saya, peserta trip yang lain juga masih banyak yang belum sampai di tempat. Dan disanalah kami saling menyapa satu sama lain secara langsung.

Menjelang keberangkatan tiba-tiba saya mendadak terserang gejala flu, keadaan yang sempat membuat ragu, lanjut atau tidak – mumpung belum jalan. Sebab biasanya kalau terserang flu, saya akan melewati fase demam, panas dingin. Tentu akan jadi masalah buat rombongan kalau tiba-tiba saya kejang-kejang. Oke memang agak lebay, tapi kalau demam panas dingin ini bertemu dengan hawa dingin pegunungan, kadar oksigen yang tipis, bau belerang yang menyengat – siapa yang bisa menjamin keselamatan?

Saya memang minim pengalaman dan pengetahuan tentang mendaki, tapi yang saya tahu – siapapun kita harus realistis jika berhadapan dengan bahaya, apalagi jika bahaya itu bisa diminimalisir dengan mengetahui batas kemampuan diri, mengutamakan safety dan yang penting tahu dan patuh aturan mainnya.

Berhubung keinginan sudah terlanjur melambung tinggi, saya putuskan untuk tetap berangkat. Mengenai keputusan tetap nanjak atau tidak, kita lihat besok pagi. Masih ada waktu beberapa jam untuk memulihkan tubuh. Maka saya langsung mencari obat pencegah flu.

Alhamdulillah sesampainya di Garut, keadaan membaik (semacam kompromi atau dispensasi saya rasa, karena sepulangnya dari sana ternyata flu-nya berlanjut).

Sebenarnya kami agak terlambat, tidak sesuai dengan itenerary yang telah diberikan panitia. Pertama, harusnya berangkat jam 23:00-23:30, kami berangkat satu jam setelahnya. Kedua, bis yang disewa agak-agak terlalu bagus, jalannya macam siput, ditambah pengemudi yang tidak menguasai medan yang dituju. Lengkap sudah, tanya sana-sini terlebih dahulu, bingung mau ambil kanan atau kiri. hahha

Att all, serulah.

Pagi itu kami disambut indahnya matahari pagi. Rasanya seperti melihat lukisan, decak kagum terlepas begitu saja.

Tidak lama kemudian kami sampai di Desa Cisurupan, desa terakhir yang bisa dicapai dengan angkutan umum. Untuk mencapai pos masuk gunung papandayan masih membutuhkan waktu yang lumayan. Dan ditempuh dengan menumpang mobil sayuran yang merangkap jadi mobil sewaan bagi para pengunjung papandayan. Normalnya penyewa paling ramai pas weekend dan hari-hari libur lainnya.

P1010018

Tiba di perempatan desa cisurupan dengan bis carteran

Sebelum menuju pos pendakian, kami melakukan persiapan akhir. Mengecek keperluan apa yang kira-kira masih kurang, ada juga yang packing ulang.

Tips :  Jangan lupa keluarkan isi tasmu yang kira-kira terlalu berat, lalu makanlah, paksa teman-temanmu untuk menghabiskannya. Sederhana saja, biar bawaan agak enteng. #Sayabangeeettt:mrgreen:

P1010028

bBersiap-siap menuju cmap david – susun barang ke dalam mobil sayuran ^_^

Lalu dilanjutkan sarapan bersama. Setelah itu menunggu, bla bla bla…entah apa yang para crew lakukan. Lalu saya dan beberapa teman memutuskan ke masjid sebentar. Tapi sayang sungguh sayang, tidak ada air di masjid tersebut.

Alangkah lebih baiknya jika masjid tersebut dimaksimalkan fungsinya,  yang jelas-jelas akan dilewati dan pasti dikunjungi oleh para pengunjung. Diberi aliran air yang memadai, lalu pintu jangan dikunci. Entahlah, semoga, karena kami sedang tidak beruntung saja kala itu.

***

Setelah menunggu beberapa waktu akhirnya kami mulai menyusun ransel/carrier ke dalam mobil bak. Tak lama kemudian kami mulai melaju. Menyisir jalanan yang cukup ekstrim. Berbagai sayuran menghijau di sepanjang jalan, tersusun meliuk-liuk mengikuti kontur tanah.

***

Mobil terus melaju, setelah melewati 2km jalan yang bisa dikatakan mulus selanjutnya kami harus bersiap diguncang sepanjang sisa jalan yang berlubang. Pengemudi juga harus ekstra hati-hati sebab jalanan cukup sempit. Jarak keseluruhan dari bawah sampai ke camp David sekitar 9km.

Sampai di pos masuk kita akan disambut kata bijak ini :

P1010031

Etika

***

Setelah mengurus perizinan kami berkumpul untuk melakukan pemanasan, peregangan otot biar nggak kaget-kaget amat. haha

Dan pendakian pun dimulai. Semangaaat, saya semangat pake banget. Maklum pendakian pertama, ada begitu banyak ekpektasi yang berseliweran di otak.

Untuk mencapai tempat pendirian tenda kita butuh waktu 3-4 jam.

Awalnya saya dan kelompok berjalan beriringan. Bercanda ria sambil menikmati pemandangan yang terhampar, indah.

Diperjalanan kami bertemu rombongan dari air asia. Konon setelah berani bertanya pada salah satu crew-nya, rombongan ini terdiri dari 4 negara. Yaitu Thailand, Singapura, Malaysia dan Indonesia. Rombongan ini terlihat mencolok dengan t-shirt warna pink. Haha.. lucu aja ngeliat para lelaki memakai baju warna pink ditambah aksesoris yang nyeleneh.

Karena medan pendakian Papandayan ini cukup ramah dan landai, jadi sangat cocok untuk pendaki pemula. Dan memang rata-rata peserta pendakian kali ini merupakan pendaki pemula.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Setelah bebarapa lama kami mulai kepayahan oleh serbuan asap belerang. Jujur saya memang sangat tidak kuat dengan asap belerang, bikin sesak dan mata perih. Maka sayapun mempercepat langkah, alhasil sempat terpisah dengan kelompok yang masih dibelakang sana. Setelah merasa cukup aman dari asap, saya memutuskan untuk menunggu mereka, sendiri. Untungnya pendakian waktu itu cukup ramai, jadi ada saja yang lewat sehingga tidak perlu merasa takut.

Tidak berapa lama kemudian mereka sampai, dan kami melanjutkan sisa perjalanan dengan tetap bersama kecuali rizki, yang katanya tidak bisa berjalan pelan. haha

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sekitar jam 2 siang kami sampai di pondok salada, namun area perkemahan sudah full. Jadi kami terpaksa melipir ke pojokan. Sebenarnya lokasi pojokan ini lebih nyaman, dikelilingi pepohonan yang sedikit memberi perlindungan dari ganasnya angin malam yang menusuk, tapi lokasi ini letaknya beberapa meter lebih jauh dari sumber air.

Ya, di Papandayan tidak usah khawatir dengan persediaan air, sungai jernih mengalir indah disana.

***

Bingung Tenda

Setelah ngaso, menghilangkan rasa lelah yang melanda, kami mulai berbenah.

Sempat bingung gara-gara tenda. Ketika kami sudah menemukan Posisi Wueeaanak entah kenapa disuruh pindah oleh crew. Alhasil kami sempat melongo, ditambah cuaca yang tidak bersahabat, hujan, cukup deras.

Mencari-cari lokasi yang bagus buat mendirikan tenda, setelah tenda berdiri ternyata lokasinya kurang nyaman, lalu dibongkor, digotong, pasang lagi. Tak banyak waktu, hari mulai sore dan kami mulai lapar, ditambah dingin yang menggigit.

“Ya Tuhan, jadi seperti ini keadaan orang-orang yang mendaki gunung. Cukup mengenaskan, melelahkan, tapi menyenangkan,” pikirku saat itu.

Satu hal yang perlu diingat  ketika mendaki gunung adalah jangan berlebihan. Jangan berlebihan membawa logistik..wkwkwk.

Yappss.. kelompok saya waktu itu kebanyakan bawa makanan. Dari roti, snack dan bla bla blaaa… beruntung ada tetangga sebagai tempat untuk berbagi.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Well, saya sama sekali tidak menduga kalau cuaca di gunung bisa sedingin itu.. brrrr. Atau mungkin karena saya pemula? entahlah…

Yang jelas setelah makan malam, kami langsung tidur. Tidak peduli dengan keseruan-keseruan yang ada di luar sana. Ya Tuhan, ingin rasanya pagi cepat-cepat datang. Malam rasanya lebih panjang dari malam-malam lainnya, waktu berjalan terlalu lambat, sangat lambat. Saya terbangun dan tertidur, berkali-kali. Posisi tidur yang tidak nyaman karena terdapat akar yang melintang dibawah tenda, ditambah fakta 3 dari 5 orang tidak bawa sleeping bag. Fatal.

Tidak ada satupun yang tertidur pulas. Suara gemeletuk gigi yang berhantaman pertanda menahan dingin, terdengar begitu intens. Dingin itu menyiksa, titik!😦

 ***

Pagi pun tiba, merdeka. Barulah bisa menikmati suasana.

Disini kami agak santai. Atau kelompok kami saja yang tidak tahu harus ngapain, mbuh. Kami ikut Trip organizir, tapi kami seperti orang hilang. Tidak tahu apa-apa dan tidak tahu harus ngapain. Sementara kelompok yang lain sudah beredar entah kemana. Ada yang sudah sampai di hutan mati, ada pula yang sudah sampai di tegal alun – hamparan edelweis, dan entah kemana saja.

Sambil menunggu, kami memutuskan untuk menyiapkan sarapan lalu berbenah – dari pada bengong..😛

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Beruntung setelahnya para crew menyapa dan ngajak ke hutan mati dan tegal alun. Dari sekian banyak jumlah peserta, yang ikut ke atas bareng crew cuma kami. Itu karena yang lainnya udah sejak pagi-pagi sekali menjejakkan kaki disana. heuuuhhh..

Tapi tak apa…

***

Hutan Mati

Dari pondok salada menuju hutan mati tidak terlalu jauh dan medannya tidak terlalu berat.

Wajar dikatakan hutan mati, karena disana terhampar hutan yang pohon-pohonnya telah mati, mengering, menghitam.

Penyebab kematian pohon-pohon itu sudah jelas, karena paparan belerang yang berkepanjangan. Jadi bayangkan kalau manusia terpapar belerang terlalu lama, tak bisa dipungkiri, bakal mati juga.. hohhoo

Pepohonan yang mati ini merupakan pohon Cantigi. Konon katanya beberapa bagian dari pohon cantigi memiliki khasiat sebagai obat.

Setelah puas menikmati hutan mati kami melanjutkan perjalanan menuju Tegal alun .

Yipppiii… hamparan bunga edelweis sepanjang mata memandang.

Puas menikmati hamparan bunga edelweis, kamipun bergegas menuju perkemahan sebab sudah waktunya kami turun gunung.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

===

Gunung Papandayan memang banyak direkomendasikan untuk pendaki pemula karena medannya yang tidak terlalu berat, cocok untuk mengisi akhir pekan dengan cara yang berkwalitas. Namun, hanya karena statusnya gunung untuk pendaki pemula bukan berarti Papandayan minim pesona. Justru sebaliknya. Ada banyak pesona keindahan alam yang bisa dinikmati disini. Ekstotisme hutan mati, asap-asap belerang yang mengepul, gemericik aliran sungai yang jernih, panorama alam yang terdiri dari bebukitan hijau, dan puncaknya ada pada hamparan bunga edelweis sejauh mata memandang. Saya belum pernah  melihat hal semenakjubkan seperti ini.

Bonus lainnya, banyak teman baru. Saya sangat bersyukur bertemu dengan mereka. Bersyukur, karena berawal dari ekpedisi hutan mati/Papandayan inilah perubahan bermula. Teman-teman ini kemudian menjadi rekan saya dalam penjelajahan ke tempat-tempat indah berikutnya. Ada yang hidup, tumbuh subur di hutan mati yaitu persahabatan.

About azzuralhi

Ketika Anda tidak percaya tentang keindahan, selama itu pula Anda tidak akan pernah menemukan keindahan.

Posted on 30 Agustus 2014, in Journey and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: