Dari 5CM ke Gie

Seperti yang saya katakan dipostingan sebelumnya, selepas menonton film 5cm saya dibawa pada petualangan tentang Soe Hok Gie. Jujur saya belum sempat nonton film Gie – Film yang diangkat dari kisah nyata Soe Hok Gie, yang diperankan oleh Nicholas Saputra tahun 2005 silam, baru setelah nonton film 5cm saya penasaran dengan sosok yang satu ini. Maka mulailah saya mencari-cari semua yang berhubungan dengannya.

Oke, mungkin kamu bingung apa hubungan antara film 5cm dengan Soe Hok Gie.
Jadi film 5cm itu menceritakan tentang persahabatan 5 sekawan. Setelah mengambil jeda selama 3 bulan untuk mereka menjalani kehidupan masing-masing tanpa bergantung dan berhubungan dengan sang sahabat. Setelah 3 bulan mereka bertemu di stasiun Senen dan langsung melakukan perjalanan – petualangan, hal baru bagi mereka, yitu mendaki puncak tertinggi Semeru.

Semeru dan pada puncak tertingginya – Mahameru. Semeru dan Gie adalah sebuah cerita yang tidak bisa dipisahkan.

Semeru adalah sahabat bagi Gie, sang demonstran “galau” yang begitu miris terhadap kepemerintahan republik ini. Sahabat yang bisa diajaknya berbagi keluh pada malam-malam yang sunyi, alam yang tidak pernah ingkar dan alam yang tidak pernah berbohong, alam tidak pernah berkhianat seperti pemimpin-pemimpin yang hanya mementingkan hajat dan kedudukannya sendiri. Para pemimpin tidak pernah benar-benar peduli dengan rakyat jelata yang mereka telantarkan. Pemimpin memang memberi tapi tidak lebih dari pada janji semulah yang mereka berikan. Dan itu terjadi hingga kini.😦

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sebelumnya bukan tidak tahu mengenai Gie, tapi berkat 5cm lah saya mencoba mengenalnya lebih dekat.

Alhasil beberapa waktu yang lalu saya nonton Film Gie setelah mencoba berdamai dengan download-an yang mencapai 21 part. Hahha

Nocholas Saputra adalah tokoh yang sesuai untuk pemeran Gie, sangat mendalami. Bahkan saya menyukai suaranya yang sedang melantunkan puisi-puisi terakhir sebelum Gie meninggal. Walaupun sebenarnya saya agak tersentak-sentak dengan filmnya yang kadang terlalu dipaksa untuk tetap menuju alur maju yang begitu cepat dan tiba-tiba dan kadang tanpa penghubung.

Kalau hanya mengandalkan dari apa yang kita lihat di film tersebut, kita tidak akan benar-benar mengerti siapa itu Gie – menurut saya. Karena sekali lagi, alurnya kadang tidak bisa saya mengerti – entah kalau saya yang memang terlalu lemot:mrgreen:

Hasil akhirnya, saya bisa menangis bahkan sambil teriak-teriak kalau sedang mendengarkan lagu “Donna Donna” dan Gie yang menjadi soundtrack di film tersebut. Entah kenapa, rasanya itu sangat menyedihkan.

Ketika kamu hanyalah rakyat biasa dan tidak bisa melakukan apa-apa untuk membuat perubahan selain bicara lantang, melalui demonstrasi, melalui puisi dan artikel. Namun bahkan hanya dengan media seperti itu kamu justru banyak dicari orang untuk mereka jadikan kader partai, bersatu dengan komplotan orang-orang yang hanya mementingkan kepentingan kelompoknya sendiri. Sesuatu yang Gie benci, susuatu yang tidak pernah dia sukai.

Setelah satu pemimpin bergulir dan digantikan oleh pemimpin yang lain masih tidak menunjukkan perubahan yang berarti. Jadi apakah perubahan itu mustahil? Sebab rupanya tabiat manusia itu sama. Setelah mereka memperolah posisi yang nyaman, mereka lupa dengan tujuan utama yang digadang sejak semula. Jadi masihkah ada harapan untuk kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia ini?! Itulah kegelisahan  manusia, ditemani malam yang dingin serta bisu, berjuang pecahkan teka teki malam, teka-teki keadilan.

Maka berbagi dengan alam akan membuat kita tahu hakikat manusia, berharap temukan jawaban seiring dengan langkah pada jalan-jalan setapak, disana, Mahameru. Dan disanalah tempat dimana dia bernafas untuk yang terakhir kalinya pada usia 27 tahun, satu hari menjelang hari ulang tahunnya. Dia meninggal setelah menghirup gas beracun, meninggalkan harapan yang hingga kini jawabannya adalah “e n t a h “.

Salah satu kutipan yang sangat disukainya adalah perkataan seorang filsuf Yunani :

“Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda”.

Dia benar-benar mati muda, sebagaimana kutipan favoritnya. Dan saya benar-benar ingin tahu, benarkah ia bahagia karena mati muda? Sebuah pertanyaan yang tentu saja saya tidak akan mendengar jawabannya.

Adakah keberatannya meninggalkan dunia ini, padahal cita-citanya untuk indonesia sejahtera belum tercapai? Gie… Gie..Giee..Giiiieeeeeee😦😥

Satu poin lebih mengenai Gie, karena dia adalah seorang Penulis, seorang pecinta buku, seorang penyair, selain sebagai seorang nasionalis. Saya pribadi menyesalkan kepergiannya diusia muda tersebut.

About azzuralhi

Ketika Anda tidak percaya tentang keindahan, selama itu pula Anda tidak akan pernah menemukan keindahan.

Posted on 31 Desember 2012, in All About Soe Hok Gie, Sekitar Kita. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: