Setoran

Tadi pagi rencananya mau ikutan 4000 salam asean di monas. Acara ini juga untuk memecahkan rekor muri. Berdasarkan jadwalnya seharusnya acara selesai jam 10:30, tapi tadi belum juga jam 9:00 acaranya udah selesai.

Jadi jangan tanya saya seperti apa acaranya karena saya sampai acaranya udah bubar…qkqkk:mrgreen:

Namun tidak ada yang benar-benar percuma di dunia ini. Berhubung sudah terlanjur ke monas saya dan seorang teman memutuskan untuk menikmati pemandangan yang ada.

Mulai dari antrian orang orang yang ingin masuk pelataran monas, anak anak yang saling kejar kejaran sambil naik sepeda, atau para remaja yang sedang asik berduaan. Hahhaa

Ada satu hal yang cukup menarik perhatian saat kami memutuskankan untuk makan pecel. Yang menarik yaitu sepasang pembelinya, dan tentu saja Ibu si penjual pecel itu sendiri.

Awalnya saya tidak begitu menyadari kalau pasangan yang sedang menikmati hidangannya itu adalah pasangan tunanetra. Dan setelah saya perhatikan lagi, tadi pas baru sampai lingkungan monas, kami disambut oleh alunan suara merdu mereka.

Berdasarkan obrolan dengan si Ibu Penjual pecel, mereka adalah pasangan suami istri yang berasal dari Bogor.

“Sejauh itu”, kata itu langsung muncul dalam benak saya.

Tentu saja tidak ada yang salah dengan keduanya, tidak ada yang salah jika mereka ingin mencari penghasilan dan sesuap nasi untuk bisa tetap bertahan hidup.

Yang jadi perhatian saya justru si Ibu yang mendampingi keduanya, karena kalau dilihat dari usianya tidak mungkin si Ibu adalah orang tua salah satu dari mereka karena sepertinya jarak usia mereka tidak terlalu jauh.

Saya hanya khawatir jika si Ibu justru memanfaatkan keduanya untuk keuntungan dirinya sendiri. Karena fakta yang ada dilapangan memang seperti itu. Banyak orang yang memanfaatkan kekurangan orang lain untuk memperolh keuntungan secara pribadi. Itu hanya kekhawatiran semata, sebab tadi pas makan si Ibu yang mendapingi ternyata ngga pegang uang. Dan dengan baik hati keduanya mentraktir si penunjuk jalan. Dia juga sepertinya tidak punya niat jahat pada keduanya. Justru yang terlihat dia sangat perhatian.

Terlihat ketika ada noda kuah pecel yang mengenai rok pasangan perempuan, dengan teliti dia membersihkannya dengan tissu. Tidak lama kemudian merekapun berlalu, melanjutkan usaha mereka, yaitu menyanyi dengan bermodalkan radio-tape kecil.

Setelah mereka berlalu, saya coba berbincang-bincang dengan Ibu penjual pecel. Dari obrolan itu saya jadi tahu, bahwa mereka-penjual, harus nyetor sejumlah uang pada petugas disana. Untungnya jumlahnya tidak terlalu mencengangkan -menurut saya, yaitu sebesar Rp 5.000,- per hari. Uang itu, kata si Ibu, untuk biaya kebersihan dan keamanan.

Dan apakah uang setoran itu memang digunakan sebagaimana alasan tersebut atau hanya dinikmati sendiri, saya tidak tahu. Hanya saja, melihat gelagat para penjual yang ada dilingkungan monas sana, memberi setoran sebesar Rp 5000,- sepertinya tidak jadi soal bagi mereka, selama mereka masih diperbolehkan berjualan.

Rp 5.000,- untuk penjual makanan biasa, dan apakah para pedagang aksesoris dan mainan anak-anak juga membayar sama besar atau justru lebih?? Mungkin diantara ada yang mau melanjutkan investigasinya???:mrgreen:

===
Re-post
@Salemba – September 2013

About azzuralhi

Ketika Anda tidak percaya tentang keindahan, selama itu pula Anda tidak akan pernah menemukan keindahan.

Posted on 6 Januari 2014, in 30 Hari Nonstop Ngeblog. Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. Sepertinya budaya “setoran” selalu menimpa pedagang dimanapun mereka berada. Sekalipun tidak jelas peruntukannya, demi kelangsungan jualan, mereka rela. Justru kolektor setoran yang memanfaatkan situasi karena area monas seharusnya menjadi perhatian pemerintah dan ada anggaran kebersihan dan keamanannya

    Suka

  2. Iya mas, dan sayangnya kebanyakan penerima setoran itu merupakan “anggota”

    #silahkan deskripsikan maksud kata anggota tersebut..:mrgreen:

    Suka

  3. Semoga para penjual itu mendapatkan untung yang jauh lebih besar dari Rp. 5000. Udah lama gak ke monas nih..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: