Aku Pada Lily dan Fantasy

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Dear,
Namaku Lili, bukan Lily. Sedikit tidak senang pada penggantian huruf akhir itu. Bukan hal penting sebenarnya. Karena toh, tidak senangku cuma sedikit😉

Namaku Lili. Entah apa yang dipikirkan kedua orang tuaku atau tepatnya alm.ayahku [karena dalam hal ini, ayah pasti lebih dominan], yang pasti pada akhirnya mereka sepakat menganugerahiku nama Lili. Terlepas dari Lili yang tidak pake “Y”.

Pada akhirnya, aku berkenalan dengan Lily diawal tahun masa SMA-ku. Tapi diawal pertemuan itu, aku tidak langsung tahu bahwa dia Lily, yang aku tahu dia bunga – dan yang pasti cantik. Aku tidak cantik, karena aku lebih memilih diksi manis untuk menggambarkan aku. Bukannya sok pede, tapi “manis” memiliki makna yang lebih indah dari pada diksi cantik – menurutku.

Sampai kemudian ketika Ayah sudah tidak ada, aku benar-benar mengenali Lily. Bukan karena bunga-bungaan termasuk dalam tradisi kami, tapi lebih pada pencarianku. Tidak ada karangan bunga dalam tradisi kami, baik dari adat maupun sekedar kebiasaan keluarga.

Dalam pencarian yang menyuburkan pengingkaran pada sebuah kehilangan, aku menemukan bahwa Lily sering digunakan sebagai simbol kematian diluar sana.

Lily bukanlah bunga gampangan. Dia bisa tumbuh pada medan yang bagaimanapun – begitu yang sempat ku baca. Bukannya sok melankolis, tapi aku ingin setegar dan seindah bunga Lily.

Lily sering digunakan sebagai karangan bunga ucapan belasungkawa – Lily mengingatkan pada mati. Bahwa mati bisa kapan dan dimana saja.

Dan inilah aku, sang penggila bunga Lily. Aku membeli handbody, hanya karena botolnya ada gambar bunga lily. membeli album poto dengan frame bunga lily, padahal waktu itu aku tidak berencana membeli apa-apa. Brose, piring, sampai springbed. Hahhha

Suatu saat, jika aku bertemu seseorang, aku ingin dia tahu bahwa aku menggilai lily. Tidak sembarang lily, hanya White Calla Lily.

TEBINGBUNGALily

Selanjutnya, aku pada fantasy – next time:mrgreen:

giant_lily_by_water_current-d4xl4na

About azzuralhi

Ketika Anda tidak percaya tentang keindahan, selama itu pula Anda tidak akan pernah menemukan keindahan.

Posted on 26 Desember 2012, in Kelana kata, Today. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: