PESTA SAKURA SEBAGAI SIMBOL KOMUNIKASI TRADISIONAL

Oleh MASAGUS TOMI AREDHO*

Pada Masyarakat Lampung Barat, pesta sakura sudah dikenal seluruh masyarakatnya sebagai pesta budaya tradisional yang dilaksanakan setelah hari raya Idul Fitri biasanya selama 7 hari, setiap hari bergantian dari Pekon ke Pekon yang lainnya. Pesta sakura dalam pandangan secara umum kegiatan ini hampir sama dengan pentas teater luar ruang dengan pelaku adalah masyarakat, dimana gambaran kegiatan budaya ini adalah identik dengan kemenangan, kebebasan dan kegembiraan sebagai ungkapan jiwa manusia untuk berkreasi dan berekspresi.

Tujuan diadakannya pesta sakura ini adalah untuk meluapkan kemenangan, kebebasan, dan kegembiraan setelah menjalankan ibadah puasa ramadhan.dan ajang silahturahmi bersama seluruh masyarakat Pekon. Pesta sakura ini dilakukan tidak menetap tempatnya, melainkan berpindah-pindah, dari satu Pekon ke Pekon lainnya. Dalam bersakura, seseorang menggunakan kelengkapan busana sebagai penutup identitasnya. Secara khusus dalam kelengkapan busana, yakni topeng yang digunakan pesakura terbagi dua, yakni helau dan kamak yang menyimbolkan makna tertentu. Dalam bahasa Indonesia, helau artinya bagus, sedangkan kamak artinya kotor atau buruk.

Pesta sakura merupakan salah satu bentuk dari komunikasi tradisional, karena pesta sakura merupakan suatu acara adat yang berlangsung lama secara turun temurun pada masyarakat Pekon Canggu Kabupaten Lampung Barat. Acara tersebut berbeda dari masyarakat lainnya, karena disebabkan oleh ciri-ciri khas sistem masyarakat yang bersangkutan beserta tata nilai kebudayaan berbeda dengan masyarakat (suku lainnya).

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah” simbol komunikasi apa saja yang ada dalam pesta sakura (sekura) sehingga dapat dikatakan sebagai simbol komunikasi tradisional pada masyarakat Lampung Barat”. Penulisan ini bertujuan untuk memaparkan pesta sakura sebagai simbol komunikasi tradisional pada masyarakat Lampung Barat. Penulisan ini tergolong kedalam penelitian kualitatif dengan menggunakan interaksionis simbolik sebagai metodenya. Untuk pengumpulan datanya menggunakan wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Sumber informasinya diambil dengan cara purposive sampling, karena anggota sampel yang dipilih secara khusus berdasarkan tujuan penelitian.

Hasil dari penelitian ini diketahui bahwa pesta sakura sudah ada sejak lama secara turun menurun. Pesta sakura dilakukan setelah Hari Raya Idul Fitri yang dilaksanakan berpindah-pindah selama satu minggu, dimulai dari satu Pekon ke Pekon lainnya. Selain itu, pesta sakura saat ini dipakai pada saat memperingati hari Kemerdekaan Republik Indonesia setiap tanggal 17 Agustus.

Dalam pelaksanaan pesta sakura seluruh masyarakat saling berkomunikasi, karena pesta sakura diadakan setelah Hari Raya Idul Fitri yang oleh masyarakatnya dijadikan sebagai ajang silaturrahmi kepada sesama tetangga, teman, maupun saudara. Selain itu, pesta sakura juga sebagai ajang perkenalan dan hiburan. Kelengkapan busana, secara khusus topengnya, menyimbolkan makna tertentu. Didalam bersakura, topeng yang digunakan ada yang berupa kain dan juga berupa kayu. Bila yang terbuat dari kain menyimbolkan kebaikan atau bagus, sedangkan yang terbuat dari kayu menyimbolkan jahat atau kotor.

Sumber : Skripsi-Unila
Via : Beguwai Jejama (its Mine^^)

About azzuralhi

Ketika Anda tidak percaya tentang keindahan, selama itu pula Anda tidak akan pernah menemukan keindahan.

Posted on 26 November 2011, in Lampung Sai. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: