Category Archives: Today

Kesempatan atau Passion?

Jadi ceritanya, nggak sengaja nemu kakak cantik yang lagi ngadain GA (Give Away). Hadiahnya nggak gede, tapi..sesuatu banget. Yaitu Buku Pertemuan Jingga. Sebut saja namanya Bunga. Ehhh.. :mrgreen: Namanya Kak Luckty. Info GA-nya bisa dicek disini. 

wow2 onion headkedip-kedip sama Jingga :mrgreen:

Menurut saya, penulisnya jeli banget milih temanya. Sebuah keadaan yang banyak dialami orang-orang disekeliling kita bahkan diri kita sendiri.

Pertemuan Jingga, merupakan novel yang bercerita tentang pergolakan batin anak-anak muda yang dihadapkan pada pilihan bekerja sesuai passion atau asal dapat saja? Well, apapun pilihannya, setiap orang pasti punya alasan masing-masing. 😉

pertemuan jingga

Pertemuan Jingga via luckty.wordpress.com

Bicara tentang mimpi tentu saya akan memilih Passion. Tapi ketika bicara Realita, maka saya akan mengambil pekerjaan yang ditawarkan, dengan tetap berada di koridor yang benar.

Sejujurnya, berada dalam kondisi keduanya itu sulit.
Kita nggak bisa mempertahankan passion ketika kita terdesak dengan berbagai kebutuhan. Bukan hanya kebutuhan tentang pengalaman atau kepuasan, tapi bagaimana jika lebih pada keberlangsungan hidup.

Namun kita juga tidak bisa bertahan dengan pekerjaan yang bukan passion. Karena disana totalitas patut dipertanyakan.
Lalu ketika kita bekerja dan dibayar sedangkan kita tidak total dalam pekerjaan, apakah ada ketenangan didalamnya? Pasti tidak.

Maka jalan tengahnya, ketika kita terdesak dan kebetulan ada pekerjaan yang ditawarkan, kita WAJIB mengambilnya. Toh sesuatu yang tidak direncanakan tidak melulu berakhir sia-sia.
Sambil menunggu waktu dan kesempatan yang tepat, melangkahlah perlahan menuju Passion kita.

(Saya jadi semacam curhat karena pernah mengalami keduanya) :mrgreen: [saya angkut komennya kemari..hehe]

Dan menurut saya novel ini wajib dimasukin di list daftar buku yang harus dimiliki. happy onion headgood job onion head

Hari Ini Istimewa

Menara Katedral

Menara Katedral

Hari ini istimewa. Terlepas dari perayaan natal bagi umat Kristiani.

Bukan karena pagi ini tiba-tiba saya ingin “hilang” sebagaimana sebelum-sebelumnya. Tentang itu, saya tidak pernah habis pikir dibuatnya, atau memang, yah beginilah kehidupan. Selalu saja ada hal yang membuatmu kadang ingin menyerah. Kalau dulu saya kira keterbatasan membuat segala gerak ini terbatas, sekarang tidak.

Karena percuma merutuk keterbatasan, sebab ia tidak akan pernah bisa disingkirkan dengan keluh kesah.

Sungguh saya sadar sesadar-sadarnya. Setidaknya saya tidak memiliki keterbatasan fisik dan akal. Masih ada harapan, selagi saya masih mau mencoba, bertahan, berdamai, bersyukur lalu ikhlas.

Semuanya sepele, sungguh. Tapi ketika hal-hal sepele itu menumpuk dan menumpuk – tidak semua orang bisa menahannya.

Hari ini istimewa. Saya sadar, tingkat keberagamaan saya masih sebegitu cetek. Tapi setidaknya saya tidak suka dengan dengung peperangan, perpecahan dan tindakan saling menghina. Bukankah kita punya kepercayaan masing-masing, dan kepercayaan-kepercayaan kita ini memiliki ajaran yang tidak pernah menjerumuskan pengikutnya pada hal-hal yang merusak.

Beberapa tahun yang lalu, saya dan teman-teman kost sholat Idul Adha di Masjid Istiqlal. Kebetulan ada yang bawa mobil. Ketika itu parkiran di Pelataran masjid Istiqlal sudah penuh, lalu kami diarahkan ke parkiran yang berlokasi di Gereja Katedral. Inilah toleransi, inilah saling menghormati dan inilah saling menjaga.

Tadi malam, sepulang kerja, kebetulan saya dan teman lewat sekitar Katedral dan Istiqlal. Parkiran di katedral sudah penuh bahkan sampai ke bibir jalan. Tentu saja, pelataran parkir di Istiqlal juga sudah penuh. Sekali lagi, inilah damai.

Sungguh, hidup berdampingan dalam perbedaan itu suatu keindahan yang tiada tara. Jika hidup damai itu indah lalu mengapa kita harus menebar onar yang tidak pernah diajarkan oleh agama manapun. Tidak, Nabi SAW tidak mengajarkan hal seperti itu. Ketika ada pertentangan, beliau selalu mencari jalan damai, selagi itu masih memungkinkankan. Tidak ada gunanya menumpahkan darah. Dengan membuat keonaran sana-sini, justru akan membuat citra suatu kepercayaan akan runtuh, jelek, dan ujung-ujungnya pertumpahan darah.

Sungguh, masih banyak yang bisa kita lakukan dibanding memancing onar sana-sini. Coba berkacalah, sudah sebegitu benarkah keberagamaan diri masing-masing, sudah benarkah cara pandang kita selama ini. Dari pada sibuk mengurusi kebergamaan orang lain, lebih baik perbanyak bekal masing-masing. Perbanyak ilmu, perbanyak amal kebaikan tanpa memandang perbedaan.

Oke, hari ini istimewa. Terlepas karena hari ini tanggal merah yang artinya saya bisa lepas dari rasa jenuh dan enggan terhadap pekerjaan. Tadi pagi, saking enggannya saya terhadap pekerjaan ini, saya seperti mendengar suara si bos yang sedang menelpon rekannya. Lho kok? Ini kan hari libur? Lho kok ada suara orang itu sih? Bisa ga sih saya bebas dari suara-suara itu? Ngapain sihhhh, inikan hari libur? Astaga, sepertinya saya benar-benar harus cari kerjaan lain. Ckckc >_<

Hari ini sitimewa. Hehe :mrgreen: iya iya

Pasti udah bosen dengan kata “ hari ini sistimewa” hahhha. Hari ini istimewa.

Hari ini my beloved sista ulang tahuuuuun. Happy birtday sista, hope you all dream come true, wish you all the best. Semoga semakin istiqomah dengan jilbabnya 😉 dan semoga segera dipertemukan dengan si pemilik tulang rusuk. Kasian si Mak selalu nanyain.

Dia anak ke-tiga dari kami lima bersaudara. Jarak saya dengannya sekitar 4 tahun, jarak yang paling jauh diantara kelahiran kami semua. Sedangkan saya dengan adik, merupakan jarak yang paling dekat yaitu cuma 1 tahun.

Dengan jarak 4 tahun, memang dulu kami tidak terlalu dekat. Dia lebih sering tinggal ditempat saudara jadi kami jarang bertemu. SD dia tinggal dengan nenek, sedangkan saya tinggal bersama orang tua. SMP dia tinggal dengan salah seorang paman, sedangkan saya baru menginjak kelas 4 SD. Pulang cuma sesekali saja. Mungkin dia tidak tahu, betapa senangnya saya ketika dia pulang. Dan ketika SMA, lagi-lagi dia tinggal dengan saudara yang lain, yang jaraknya lebih jauh. Yahh, walaupun cuma 1 jam perjalanan angkutan pedesaan, tetap saja dia semakin jarang pulang. Untungnya saya bukan tipe orang yang dibesarkan dengan “rengekan”. Saya berusaha memahami. Bahkan terkadang saya tidak terlalu faham, apa bedanya dia ada atau tidak ada – mungkin karena sudah terbiasa.. Hahha, jahat ya? [Siapa yang jahat.??]

Setelah dia tamat SMA, langsung dibawa salah satu saudara ke sini – Jakarta. Sedangkan saya dimintanya sekolah di Ibukota – Bandar Lampung. Saya ingin menolak, tapi sepertinya waktu itu tidak ada alasan bagi saya untuk menolak. Masa iya saya harus bilang “tidak”. Pada akhirnya saya harus menurut, walaupun berat meninggalkan kehidupan sehari-hari di kampung yang sudah mendarah daging, berat meninggalkan kedua orang tua, berat berpisah dengan teman-teman tanpa “upacara” perpisahan. Pada akhirnya hanya sepucuk surat yang mewakili salam perpisahan.

Kata orang, dalam setiap perpisahan selalu akan berat bagi yang ditinggalkan. Orang tua mungkin iya. Tapi sepertinya teman-teman tidak ada yang merasa kehilangan. Sedangkan saya, terus mencakar-cakar jarak yang begitu luas, selalu berharap ada mereka.

Entahlah, rasanya setiap pulang, saya sudah bukan lagi bagian dari mereka. Saya mencoba masuk dan masuk, tapi hasilnya bukan apa-apa, just say “Hi”. Thisssss soooo… arrgghhh

Oke, ya. Mungkin ini hanya perasaan saja.

Dan sekarang disinilah saya – Jakarta, menyusul si kakak. Mencari peruntungan pada mayapada yang tak pernah berbelas kasih pada siapapun anda yang lembek. Saya tidak lembek, itu bukan saya. Tapi memang semua orang punya titik dimana ia merasa “cukup” dan ingin menyerah dan berhenti. Tapi sekarang bukan waktu yang tepat bagi saya untuk berhenti dan menyerah. Tidak, saya tidak ingin kalah, saya tidak ingin jadi pecundang.

Selama 5 tahun tinggal bersama, dalam satu kamar dan dibawah atap rumah yang sama dengan kakak. Mungkin ini waktu terpanjang – terlama kami bisa bersama. Terkadang saya bosan, juga kadang kesal. Ingin benar-benar tinggal sendiri dalam satu kamar tanpa satu orangpun yang mengganggu. Saya bisa melakukan apa saja yang membuat senang tanpa khawatir membuatnya terganggu. Tidur larut malam tanpa mendengar ocehannya untuk segera mamatikan lampu, atau tidak perlu kaget dengan udara dingin dari jendela, karena setelah subuh jendela itu sudah dibukanya.

Terlepas dari semua itu, dia adalah “lonceng” bagi saya selama berada disini. Terkadang saya pikir, saya tidak bisa benar-benar lepas dari pengawasan seseorang, dan saya senang ada dia.

Once again, Happy Birtday my beloved sista 😉

====
Repost

[Salemba, 25 Desember 2012]

Merdeka Secara Terhormat

Masih dalam suasana merdeka. Bagaimana arti merdeka menurut sobat?

Merdeka bagi saya, bebas dari segala bentuk keharusan yang memaksa. Bebas dari praktek suap menyuap yang tak jarang menenggelamkan potensi seseorang. Merdeka adalah bebas dari segala bentuk kepenjajahan, tidak bergantung pada orang atau pihak tertentu.

merdeka-dengan-kerja-keras

Namun kini kita dihadapkan pada masalah rumit lainnya berkaitan dengan kemerdekaan ini. Sebab sebagaimana pengertiannya ternyata kita tidak sepenuhnya merdeka. Ada begitu banyak ketidakadilan yang merajalela di tanahh air tercinta ini. Saking banyaknya kita bahkan bingung, harus bagaimana, apa yang harus dilakukan?

Merdeka bagi si kaya

Bagi si kaya, merdeka adalah ketika mereka dapat menumpuk kekayaan sedemikian rupa. Tanpa memperhatikan peraturan-peraturan yang berlaku, tak perduli jika itu merugikan orang atau pihak tertentu. Ketidakpuasan atas apa yang telah dimiliki menjadi penjajah bagi mereka, merdeka tidak pernah mereka dapatkan selama ketidakpuasan atas apa yang mereka miliki tidak terpenuhi. Maka mereka inilah penjajah bagi kemerdekaan orang-orang pinggiran.

Kita tidak bisa menutup mata atas semua ini.

Beberapa waktu yang lalu saat libur lebaran, saya diahadapkan pada sebuah dilema yang teramat berat. Kampung saya terletak di kabupaten pemekaran baru di sebuah propinsi. Saya mungkin terlambat untuk bertindak karena saya bertindak setelah desakan yang begitu dalam dari orang tua yang tinggal satu-satunya, Ibu. Beliau ingin saya tinggal disekitar kampung halaman agar ada yang bisa menemaninya dihari tuanya. Saya yakin banyak diantara teman-teman yang mengahdapi dilema semacam ini. Saya pikir apa salahnya mengikuti keinginan Ibu, toh saya juga sebenarnya ingin menjadi bagian dari pertumbuhan daerah ini.

Untuk yang belum tahu, setiap pemekaran daerah baru pasti membutuhkan tenaga-tenaga yang mumpuni untuk membantu percepatan pembangunan daerah tersebut. Saya tidak bilang saya cukup mumpuni untuk ikut membangun daerah ini, tapi setidaknya saya ingin mencoba, namun bayangan saya tentang mencoba tidak sesuai kenyataannya. Saya pikir semuanya harus dilakukan secara prosedur yang berlaku. Masukkkan CV dan apabila menurut badan kepegawaian diri saya cukup mumpuni, mungkin saya akan dipanggil, namun jika menurut mereka tidak sesuai kriteria, ya tidak apa-apa.

Tapi rupanya jalan tidaklah semulus itu. Sebab informasi yang saya peroleh benar-benar membuat hati terlecut. Sesuatu yang sejak dulu saya takuti.

Bagaimana mungkin pemerintahan daerah yang baru seumur jagung itu memiliki sistem kepegawaian semacam itu. Sogok, uang pelicin, tiket atau apalah istilah yang mereka berikan untuk hal-hal semacam itu. Sesuatu yang membuat saya tertawa, miris dan tidak tahu harus berbuat apa.

Bayangkan saja, untuk bisa menjadi tenaga honorer disana kita haru setor uang minimal sebesar Rp 20.000.000,-. Untuk kelanjutan tenaga-tenaga honerer yang telah membayar ini saya tidak tahu. Apakah ada jaminan pengangkatan sebagai PNS, saya tidak ingin tahu.

Saya sedih, bukan karena masalah kesanggupan setor uang sebesar Rp 20jt, tapi lebih dari itu mau jadi apa kepemerintahan yang penuh dengan hal menjijakkan seperti itu.

Oke, tidak sepenuhnya salah petinggi pemda karena jika tidak ada orang-orang si pengejar kedudukan yang berlomba-lomba agar terlihat hebat itu, tentu praktek semcam itu tidak akan terjadi. Tapi sayangnya, dari 120 kursi yang disediakan, mereka bahkan menerima 128 orang, overload, pokoknya kalau ada yang berani bayar tampung.

Dan saya hanya bisa mundur teratur dan dengan berat hati menjadi anak tak berbakti, yang tidak bisa membuat hati Ibunya berbahagia di usia senjanya.

Mungkin terlalu muluk jika berharap segala macam praktek kotor sirna dari Negeri yang katanya sudah merdeka 68 tahun ini. Untuk beberapa teman yang tidak terlambat bertindak seperti saya, yang bisa masuk dalam jajaran tanpa uang jaminan semacam itu, saya ucapkan selamat. Laksanakan tugas kalian dengan benar, tanpa menggadaikan idelaisme kalian. Apajadinya daerah kita kalau seperti itu terus. Lihat saja, tidak ada kemajuan yang berarti didaerah kita.

Dan saya bertekad akan menemukan cara lain untuk menunjukkan bakti pada orang tua, tanpa harus menggadaikan idealisme dan harga diri.

Lebih baik miskin secara terhormat dari pada kaya dengan cara hina. Merdeka itu sederhana saja, merdeka secara terhormat dengan miskin, dengan mengikuti prosedur yang berlaku. Sebab hidup memang sederhana 😉

Terjatuh Itu “Nikmat”

 safety

Yang namanya jatuh mah sakit atuh, mana ada jatuh yang bikin nikmat.

Jatuh dari tangga, apalagi. Bunyi gedebuk yang lebih nyaring dari suara durian runtuh itu sesuatu banget. Mendadak muka pucat, kepala tiba-tiba keleyengan. Isi perut berbondong-bondong nunggu giliran keluar dari mulut. Huueeekk… Tiba-tiba semuanya gelap dan berputar-putar. Untungnya ngga pake pingsan. Tapi yang pasti kaki ini sakkkkiittt #tukang urut mana tukang uruuuttt 😥

Dan rasanya kalau ngga masuk kerja dengan alasan kaki sakit gara-gara jatuh dari tangga itu tidak elit banget.. wkwkwk :mrgreen:

Tapi mari berpikir ala orang-orang bijak, bahwa terjatuh itu bentuk lain sebuah nikmat. Yaaa… jatuh itu sebuah nikmat yang tertunda.. #hahhaa-mulai ngaco.

Jadi, dengan kejadian jatuh itu, membuat kita lebih berhati-hati. Hati-hati ketika melangkah, memegang erat pegangan yang ada. Nikmatnya?? Kita akan terhindar dari yang namanya terjatuh.

Ini juga berlaku dengan gejolak kehidupan kita sehari-hari. Terkadang kita harus melalui yang namanya terjatuh, gagal dan diabaikan agar kelak dapat merasakan nikmatnya suatu keberhasilan.

Oke sip, selamat siang 😀

Perisai Penahan Nafsu

Kita pasti sepakat bahwa manusia adalah sebaik-baik makhluk ciptaan Allah SWT, karena kita dianugerahi akal untuk membedakan mana yang pantas dan mana yang seharusnya dijauhi.

Tapi satu hal yang bisa membuat manusia sederajat dengan binatang adalah Nafsu.

Binatang tidak dianugerahi akal, maka setiap yang dilakukannya adalah semata-mata karena nafsu.

Perhatikan cara mereka untuk memperoleh posisi tertinggi dalam klan atau kelompoknya, cara mereka memperoleh pasangan sampai cara mereka memperoleh makanan tak jarang mereka saling membunuh.

Dan lihatlah sesama kita manusia. Banyak sekali kita lihat orang yang gontok-gontokan demi tahta, wanita dan harta. See..?? melihat fakta ini, kita pasti tetap tidak mau disamakan dengan binatang, bukan?:D

Ciri orang yang mengikuti hawa nafsunya adalah mengambil sesuatu yang bukan haknya, membicarakan sesuatu/urusan orang lain, berbuat segala maksiat yang merugikan orang lain dan dirinya sendiri, dan termasuk makan terlalu banyak ketika buka puasa 😛

Untuk itu penting sekali bagi kita untuk menahan hawa nafsu terutama dibulan suci ramadhan seperti sekarang ini. Jangan sampai puasa kita sia-sia, hanya sebatas menahan haus dan lapar tanpa mendapat ganjaran pahala dariNya.

Diriwayatkan melalui Imam Shdiq, bahwa Rasulullah saw bersabda: Waspadalah terhadap hawa nafsu kalian sebagaimana kamu sekalian waspada terhadap musuh. Tiada yang lebih pantang bagi manusia daripada mengikuti hawa, nafsu dan ketergelinciran lidah yang tak bertulang.

Dan untuk menahan hawa nafsu ini kita perlu perisai ajaib,

  1. Akal sehat dan
  2. Agama.

Kembali pada perbedaan manusia dan binatang, yaitu akal. Maka karena kita punya akal maka pergunakanlah dengan sehat, dan untuk menyehatkan akal kita harus memiliki pondasi agama yang mumpuni tidak rapuh.

Berkumpullah dengan orang-orang positif dengan kegiatan-kegiatan positif, habiskan waktu dengan hal-hal positif.

Maka mudah-mudahan kita tidak termasuk orang yang merugi tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya sehingga kita bisa jadi pemenang yang sebenarnya di hari Idul Fitri nanti 😉

Eksplisit dan Implisitnya Puasa

puasa-ramadhan

Tidak terasa ramadhan kali ini sudah masuk hari ke-6. semoga kita semua berhasil jadi sang juara.

Makna ekspilisit dari puasa tentu saja tentang rasa haus dan lapar. Dan tentu itulah yang tak bisa kita hindari dari yang namanya puasa. Sehingga ketika menjelang buka pusa semua makanan dan minuman kita borong dan kumpulkan dimeja makan.
Akan tetapi makna implisit dari puasa sungguh sangat luas. Bukan hanya bagaimana kita bisa mengendalikan keinginan makan dan minum sejak terbitnya fajar hingga senja menjelang. Melainkan kendalikan juga keinginan melahap sebanyak mungkin makanan dan minuman ketika berbuka dan sahur. Secukupnya saja.

Makna yang sebenarnya adalah agar kita bisa berbagi empati bagi sesama yang tidak berkecukupan. Yang bahkan bukan bulan Ramadhan saja mereka harus terpaksa berpuasa karena keterbatasan yang mereka miliki. Jangankan mengumpulkan berbagai makanan dan minuman yang mereka inginkan, bisa berbuka dan sahur saja sudah suatu berkah yang tiada terkira buat mereka.

Untuk itu seharusnya kita bersyukur atas kecukupan nikmat yang kita rasakan dengan jalan berbagi. Memperbanyak amalan-amalan yang bisa mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Dan semoga puasa kita kemarin, hari ini dan selanjutnya bukanlah kesia-siaan menahan haus dan lapar semata. Aamiin 🙂

Galauuuu Maaannnn

Hola-holaa…

Lama ngga posting padahal setiap hari dibuka :mrgreen:

Banyak faktor, pertama karena ngga tau apa yang mau ditulis, kedua si Smartfren lagi gangguan, dan faktor X nya adalah karena saya lagi galau.

Galaunya bukan karena cinta lho.. wkwk.
Lebih ke masalah masa depan (kalau udah ngomongin masa depan, maka ada banyak hal didadalamnya – semacam nano-nano gitulah).

Dan ini merupakan postingan yang aslinya ngga penting banget, sebatas pengisi Maret – agar ia tidak merasa ku abaikan.

#Ngga penting bangetkan..?? :mrgreen:

%d blogger menyukai ini: