Zombi itu Ayahku

image

Sinar mentari pagi menerebos masuk melalui celah kecil kamar, sukses membuatku terjaga.
Perlahan kuhirup udara pagi, berharap memberikan sedikit efek tenang bagi urat-urat syarafku yang mendadak menegang beberapa hari terakhir ini, puncaknya kemarin sore. Ketika kubuka mata, pandanganku langsung tertuju pada selembar kertas yang teronggok di atas meja kayu, bekas meja belajarku – dulu.
***
Koridor rumah sakit ini begitu senyap. Menimbulkan efek dramatis pada setiap langkah yang kuayunkan dan setiap hela nafasku. Tangan kiriku memegang dada yang bergemuruh, tangan kananku mencengkram erat selembar kertas, hasil test barusan.
“Sejak kapan Dek Zeta merasakan nyeri di dada?” wajah prihatin Dokter Azka membuatku was-was.
“Nyeri biasa sih sudah lama Dok, hanya saja beberapa hari ini nyerinya sangat parah sampai saya tidak bisa menahannya”, aku menatapnya dengan penuh tanda tanya.
“Kanker paru-paru. Seandainya Dek Zeta menyadari dari awal kejadiannya mungkin tidak akan separah ini”, Dokter Azka menyodorkan selembar kertas hasil pemeriksaanya. Aku tergugu, tidak tahu harus bicara apa. Rasanya seperti mendengar kabar kematian Ibu dan adikku 5 tahun lalu – kosong.
“Jangan khawatir, kita masih bisa berusaha untuk menyembuhkannya dengan berbagai therapi….”, ia melanjutkan penjelasannya. Namun pikiranku tak lagi fokus.
Gemetar, kuraih kertas tersebut lalu berpamitan. Tidak ada gunanya mendengarkan penjelasan panjang lebar itu. Intinya pengobatan, therapi – uang. Dari mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu, untuk makan dan keperluan sehari-hari saja susah. “Baik dok, saya permisi. Terimakasih atas bantuannya. Saya merasa baik-baik saja, tapi saya akan mempertimbangkan saran Dokter. Saya permisi.” Aku meninggalkan ruangannya dengan kepala tertunduk.
***
Praaang…. gdebuuukk…
Suara benda jatuh dari ruangan sebelah membuatku tersadar dari lamunan. Serampangan kujapus air mata yang sempat merembes dari sudut mata. Melangkahkan kaki ke ruang sebelah. Apa yang kulihat sangat mengejutkan, tubuh ringkih itu terkapar di lantai dengan nafas tersengal. Entah apa yang ingin atau sedang dilakukannya hingga terjatuh dari ranjang usang yang telah menopang hidupnya hampir dua bulan ini.
“Ayah, kenapa? Kak Seta tolong!” Aku tidak akan kuat membopongnya dengan keadaanku yang tak jauh beda darinya. Untung ada kak Seta di rumah. Kami berdua mengecek keadaan ayah, berharap tidak ada hal gawat yang terjadi. Tubuh ringkih di depanku masih kesulitan mengatur nafas. Melihat keadaannya saat ini membuatku refleks mengusap dada.

Ya, dia ayahku. Mengidap kanker tenggorokan. Selama dua bulan belakangan, aku dan kak Seta memutuskan merawat ayah di rumah, setelah menjalani perawatan di rumah sakit selama satu bulan dan tidak ada perubahan berarti. Alasan lainnya kami tak punya cukup dana untuk pengobatan.
Aku membencinya sebelum penyakit itu menggerogoti dan membatasi geraknya, dan aku justru semakin membencinya setelah penyakit itu muncul.
Karena rokok, dia tidak peduli dengan  keadaan keluarganya di rumah. Tak peduli apakah anak istrinya makan atau tidak. Entah ada uang atau tidak untuk masak hari ini, dia sama sekali tidak peduli

Ayahku hanya seorang buruh biasa. Kau tahu, gaji buruh tidaklah seberapa. Dengan uang yang tak seberapa itu sulit sekali memenuhi kebutuhan hidup kami. Tapi dia tidak peduli. Dia lebih suka merokok, memilih membakar uang jerih payahnya ketimbang membeli susu untuk adikku atau keperluan sekolahku dan kak Seta. Lebih rela kami makan seadanya ketimbang memangkas uang rokoknya. Aku benci padanya.

Aku benci ayahku yang terbaring tak berdaya karena benda jahanam itu.
Aku benci dia, sebab setiap hari dia mengotori udara yang kami hirup dengan asap rokoknya, dan sekarang aku mengidap kanker paru-paru karenanya!!

Aku juga benci pada orang-orang di luar sana, yang dengan santainya menghirup dan menebar racun seenaknya. Jika mereka tak lagi peduli dengan dirinya sendiri, setidaknya mereka peduli dengan orang-orang terdekatnya, keluarganya.

Aku benci zombi ini. Tapi aku harus menahan ego, merawatnya. Bagaimanapun dia ayahku – keluargaku. Meski dia telah menghancurkan diri dan anaknya sendiri.

About azzuralhi

Ketika Anda tidak percaya tentang keindahan, selama itu pula Anda tidak akan pernah menemukan keindahan.

Posted on 15 Mei 2014, in Catatan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: