Menyusuri Kearifan Lokal Masyarakat Baduy Dalam (Bagian 1)

Perjalanan menyusuri kearifan lokal suku baduy dalam, sudah saya agendakan sejak jauh-jauh hari. Hampir 2 bulan sebelumnya. Niat banget ya? Tentu saja. Siapa pula yang tidak tergoda menikmati kearifan budaya yang masih terjaga rapi, ditambah lokasinya juga tidak terlalu jauh dari Jakarta.

Untuk sampai disana kita bisa naik kereta arah merak, turun di Stasiun Rangkas Bitung. Selanjutnya perjalanan ditempuh dengan naik elf ke desa Ciboleger.

Selamat datang di desa Ciboleger..

Selamat datang di desa Ciboleger..

Sepanjang perjalanan menuju desa Ciboleger , kita akan disuguhi panorama alam yang asri, khas perkampungan.

Sebelum memulai pendakian, kita janjian dengan guide orang Baduy Dalam. Ya, tentunya kita harus berkoordinasi karena kita hendak bertamu ke rumah mereka. Orang-orang di sekitar perkampungan ini sangat ramah dan bersahabat, tutur kata lemah lembut dan senyum selalu menghiasi wajah mereka. Damai. Apa adanya. Itulah hal pertama yang saya rasakan.

Jalur menuju Baduy Dalam yang lumayan panjang dan naik turun rupanya memberi ide dan peluang oleh penduduk sekitar untuk menyediakan tongkat kayu bagi pengunjung. Sebatang tongkat dibandrol dengan harga Rp 2.500.

Pintarnya mereka, ketika turun, tongkat-tongkat itu dikumpulkan kembali, untuk dijual pada pengunjung-pengunjung berikutnya. Ya kalau dipikir-pikir buat apa pengunjung membawa pulang tongkat kayu tersebut. Jika ada yang bisa menggunakannya lagi lebih baik tinggalkan saja. Itung-itung untuk membantu menambah pendapatan mereka. Selain itu untuk mengurangi penebangan pohon (sebagai bahan membuat tongkat).

pengarahan sebelum perjalanan dimulai.

pengarahan sebelum perjalanan dimulai.

Setelah mengisi perut, packing ulang, dan sholat, jam 1 siang kami mulai menyusuri jalan setapak. Langkah demi langkah terayun ringan, senada dengan hamparan panorama yang menyejukkan. Rumpun bambu, pepohonan yang rindang, rumah-rumah kayu dengan penduduk yang bersahaja membuat perjalanan ini cukup menyenangkan. Meski tak berapa lama kemudian kami mulai diguyur hujan. Dan perjalanan pun jadi lebih menantang.

 Meski jalan setapak telah dibentuk sedemikian rupa, namun ketika hujan rasanya tetap terasa berat. Sebab medan yang ditempuh merupakan tanah liat nan lengket. Becek.

awalnya biasa saja

awalnya biasa saja

tak lama kemudian hujan mulai mengguyur

tak lama kemudian hujan mulai mengguyur

Setelah lebih dalam memasuki perkampungan, kita akan disuguhi hamparan ladang penduduk Baduy. Saat itu, kebanyakan ladangny kosong, mungkin karena musim panen belum lama berlalu. Kebanyakan isi ladang mereka adalah padi. Tentu diselingi pepohonan sebagai peneduh. 

 Jalanan mulai naik turun. Sulit sekali rasanya menapakkan kaki. Terkadang, rasanya sendal menempel seperti lem, sehingga harus mengeluarkan tenaga ekstra.

tanah liat nan lengket, ketemu air jadilah licin.

tanah liat nan lengket, ketemu air jadilah licin.

 Saat itu, pengunjung didomisi oleh tiga kelompok besar. TO yang saya ikuti pesertanya hampir 100 orang, dan 2 komunitas pecinta alam/pendaki lainnya masing-masing pesertanya sekitar 50 orang. Ditambah kelompok-kelompok lainnya yang tak kalah ramai. Waaooww… betapa riuhnya nanti perkampungan Baduy Dalam.

jalan setapak dilapisi bebatuan. rumah penduduk masih berupa rumah panggung. (masih di baduy luar-sebelum kehujanan).

jalan setapak dilapisi bebatuan. rumah penduduk masih berupa rumah panggung. (masih di baduy luar-sebelum kehujanan).

menenun. salah satu budaya yang masih dilestarikan. (baduy luar).

menenun. salah satu budaya yang masih dilestarikan. (baduy luar).

Sebelum memasuki Baduy Dalam, kita akan melewati perkampungan Baduy Luar. Senyum dan sapa ramah mereka pada para pelintas jalan depan rumah mereka sungguh sangat menyejukkan hati.

Karena hujan sempat melebat, saya dan beberapa teman mampir ke salah satu rumah penduduk Baduy Luar. Sebenarnya kami mungkin tidak berani naik ke pendopo rumah tersebut andai tidak ada Ibu-ibu dari masyarakat luar. Usut punya usut ternyata mereka rombongan dari Bogor. Katanya mereka sudah sering mengunjungi Baduy, tapi selalu mentok di Baduy Luar. Tak sanggup melangkah lebih jauh, maklum sudah berumur. Semacam tempat peristirahatan, menjauh sejenak dari hingar bingar kehidupan kota, begitulah katanya. Melihat keakraban mereka pada pemilik rumah, sudah jelas mereka sering kesana.

semacam janji untuk menjaga kebudayaan baduy. tertempel di dinding rumah tempat kami numpang berteduh.

semacam janji untuk menjaga kebudayaan baduy. tertempel di dinding rumah tempat kami numpang berteduh.

Hari mulai beranjak sore, namun hujan belum menunjukkan pertanda segera reda. Padahal, menurut si Ibu, Baduy Dalam masih setengah perjalanan lagi dari tempat kami berteduh saat itu. Wwaaaooowww…Tak ingin membuang waktu lebih banyak lagi, kami pun berjalan, kembali menerjang hujan.

Pada akhirnya sampailah kami di jembatan bambu yang menandai perbatasan Baduy Luar dan Baduy Dalam. Semua benda elektronik harus mulai dimatikan. off..off..off.

Dan taraaaa.. Setelah menyeberangi jembatan eksotis itu, kami dihadapkan pada sebuah tanjakan yang luar biasa, kemiringannya mendekati 45 derajat. Tingkat kemiringan yang lumayan mengadu nyali berpadu dengan kontur tanah liat  nan licin, lalu hujan rintik-rintik masih setia mengiringi langkah kami membuat perjalanan ini rasanya sangat berat.:mrgreen: Beruntung saat itu sisa bias matahari masih ada, masih belum butuh senter atau penerang lainnya.

Air yang mengalir di bawah jembatan bambu ini jernih dan masih layak konsumsi. untuk menuju baduy dalam kita akan melewati beberapa jembatan.

Air yang mengalir di bawah jembatan bambu ini jernih dan masih layak konsumsi. untuk menuju baduy dalam kita akan melewati beberapa jembatan.

 

Ngomong-ngomong, sebuah foto memang jauh lebih bisa berbicara dari pada sekedar kata-kata. Selanjutnya Berjalan di kegelapan belantara baduy dalam.

About azzuralhi

Ketika Anda tidak percaya tentang keindahan, selama itu pula Anda tidak akan pernah menemukan keindahan.

Posted on 17 Januari 2015, in Journey. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Kalau bawa orang tua bermalam di mana bu ?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: