Idul Fitri : Saatnya Bergembira

dul-fitri

Idul fitri, tidak salah bila disebut hari kemenangan. Setelah 1 bulan penuh melaksanakan puasa, tak hanya menahan haus dan lapar, tapi hawa nafsu secara keseluruhan. Menjaga perilaku dan lisan walau berat namun kita harus mencoba untuk menjadi lebih dan lebih baik lagi. Meningkatkan amalan-amalan yang mana jika dilakukan diluar ramadhan amalan itu mendapat ganjaran 1x lipat, sedangkan dibulan ramadhan diberikan ganjaran yang berlipat-lipat. Maka sampailah kita pada fitri/fitrah kembali suci.

Dan yang sudah menjadi tradisi bagi kita orang Indonesia identik dengan yang namanya pulang kampung, salaturahmi, kue, baju baru dan THR. Tak lupa zakat bagi si papa sebelum jatuhnya 1 syawal agar mereka juga ikut merasakan kegembiraan hari kemenangan nan suci tersebut, Intinya semua orang bergembira-ria.

Yang pertama memang sulit untuk dilupakan, meski ada yang kedua, kesepuluh ataupun kelima puluh. Tetap pertama yang paling berkesan.

Bicara tentang idul fitri pertama, saya tidak ingat pastinya, yang jelas saat saya masih SD. Semuanya tidak ada yang luput dari kegembiraan. Rasanya senang sekali waktu sanak saudara yang sudah lama tidak kelihatan tiba-tiba ada dirumah, tidak lupa mereka membawa oleh-oleh yang aduhai. Semuanya begitu menyenangkan dimata seorang anak kecil, bahkan acara bersih-bersih rumah bersama keluarga (moment lebaran idul fitri memang waktu yang pas buat bersih-bersih, entah sudah tradisi atau tidak sempat atau malas, entahlah)😀

Berangkat ke lapangan cepet-cepetan, biar dapat tempat yang strategis, sebab kadang yang terlambat datang malah tidak dapat tempat.

Selesai sholat, hal yang paling aneh bagi saya melihat orang-orang yang bersalam-salaman, berpelukan lalu bertangis-tangisan. Entah apa yang mereka tangisi, saya kira itu kebiasaan orang dewasa dan sudah jadi tradisi bagi mereka (namanya pikiran anak SD yang masih lugu). Lalu beberapa tahun yang lalu saya mulai mengerti, mengapa mereka menangis bahkan jika kita tidak ingin menangis air mata itu tetap saja mengalir. Ya, pada idul fitri pertama tanpa Ayah. Seorang ayah dalam sebuah keluarga adalah tiang utama, dan betapa rapuhnya bangunan disekitarnya tatkala tiang itu telah tiada. [Semoga orang-orang terkasih kita yang telah tiada mendapat syafaat ramadhan yang penuh berkah ini, semoga diampumkan segala dosa-dosa mereka dan diterima segala amal ibadahnya, ditempatkan disebaik-baik tempat disisi Allah SWT. Aamiin]

Setelah ikut bersalaman tentu saja yang ditunggu berikutnya ya THR, hal yang paling penting bagi anak kecil. Dimata anak kecil semuanya sangat menggembirakan, sederhana saja – karena anak kecil memang sederhana. Sederhana pemikirannya dan sederhana kebutuhannya.

About azzuralhi

Ketika Anda tidak percaya tentang keindahan, selama itu pula Anda tidak akan pernah menemukan keindahan.

Posted on 30 Juli 2013, in Personal. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: