Mengapa Harus Kartini?

Mengapa harus kartini?

Mengapa harus kartini?

Pertanyaan itu tiba-tiba menyeruak ke permukaan benak saya setelah membaca sebuah artikel, 1 tahun yang lalu. Ditambah diskusi singkat saya dengan seorang teman, via bbm. Dan, ya, tulisan ini sudah mengendap di draft selama 1 tahun.:mrgreen:

Mengapa harus Kartini?

Padahal ada banyak pejuang wanita yang tak kalah hebatnya, bahkan bmungkin lebih hebat, seperti Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, Rohana Kudus dan yang lainnya?

Padahal Kartini hanya berwacana, bercita-cita, yang ia sampaikan pada pejabat Belanda, kenalannya. Saat pejuang lain tak hanya berwacana, bahkan mereka telah mewujudkannya dengan berbagai sekolah yang telah didirikan jauh sebelum wacana-wacana yang RA Kartini angankan.

Jika kemudian muncul penyangkalan bahwa karena Kartini menulis, who cares. Tahukah kamu bahwa Rohana Kudus adalah seorang Wartawati pertama yang dimiliki Indonesia? Berbagai media telah ia pimpin dan entah berapa puluh artikel yang ia tulis?

Dia hanya tidak beruntung, tulisannya tidak dibuat jadi buku, padahal ia juga punya kenalan pejabat tinggi Belanda – kala itu.

Tulisan-tulisan yang membangun serta bernas telah ia tulis dengan lantang. Tentang kesetaraan gender, pendidikan, tentang kewajiban seorang wanita, tentang keuangan, kepenulisan, hingga mengangkat senjata.

Begitu banyak tokoh pejuang wanita pada masa itu bahkan masa sebelum Kartini yang telah berjuang mengenai kesetaraan gender ini. Lalu kenapa harus Kartini?

Apakah karena ia orang Jawa?

Apakah karena ia punya kenalan petinggi Belanda?

Atau karena ia beruntung sebab surat-surat yang ia tulis telah dibukukan?

Apapun itu, who cares? Mari berpikir dengan kepala dingin.. hehhee

Mengapa harus Kartini?

Sebagai seorang perempuan keturunan Jawa yang adat istiadatnya begitu kuat, apalagi anak dari seorang Bupati masa itu, Kartini tidak memiliki KEBEBASAN. Segalanya serba diatur. Seorang anak perempuan harus begini dan begitu, tidak boleh ini maupun itu.

Seandainya ia memiliki kebebasan, atau setidaknya ia bukan anak seorang bupati, yang lalu harus dijodohkan dengan lelaki yang tidak ia kenal, mungkin kartini juga telah aktif mengikuti berbagai pergerakan.

Kartini ingin melawan. Kartini “sakit” dengan peraturan ini dan itu yang mengekang. Yang tidak membolehkan seorang anak perempuan mengenyam pendidikan formal lebih dalam.

Namun ditengah keterbatasan itu ia berjuang mengumpulkan buku, mengais ilmu dengan caranya sendiri. Mencoba mengulur-ngulur waktu agar ia tidak dipingit dan dipaksa menikah. Ia muak dengan adat istiadat yang terkesan merendahkan perempuan.

Kartini ingin membangkang, tapi tidak dengan cara kasar. Dia melawan dengan cara yang halus karena ia sangat menyayangi ayahnya.

Dan satu-satunya cara yang ia miliki ialah dengan berkorespondensi dengan sahabat-sahabat Belandanya.

Mengapa ia berkorespondensi dengan orang Belanda yang notabanenya adalah musuh yang telah merongrong bumi pertiwinya?

Karena ia tidak punya cara lain. Karena mereka merupakan pintu ilmu bagi Kartini dimasa itu.

Jadi, hal yang harus digaris bawahi adalah.. Kartini tertekan dengan segala peraturan yang terkesan merendahkan kaum perempuan. Yang membatasi gerak dan potensi kaum perempuan.Yang membatasi pendidikan seorang perempuan. Yang harus dipingit dan dipaksa menikah. Andai ia punya kebebasan, mungkin dia telah bergabung dengan berbagai pergerakan.

Dia menyanyangi dan tidak ingin menyakiti Ayahnya yang seorang bupati, yang tak lain hanya kaki-tangan bagi orang Belanda.

Pada akhirnya, para pejuang wanita, sebelum atau sesudah RA Kartini, melakukan berbagai pergerakan dan perlawanan atas dasar kepedulian terhadap nusa-bangsanya, Indonesia. Mereka tidak pernah meminta dikenang sebagai apa dan bagaimana. Mereka hanya ingin Indonesia yang lebih baik. Terlepas dari siapapun yang kemudian ditokohkan.

Hari besar atau perayaan adalah momentum untuk mentadabburi, mengapresiasi, merasai lebih dalam makna yang tersirat pada perayaan-perayaan tersebut. Dan hari Kartini merupakan momentum bagi perempuan untuk lebih mengoptimalkan peranannya dalam tatanan masyarakat, peranan yang berkelanjutan – pastinya.

“Perputaran zaman tidak akan pernah membuat perempuan menyamai laki-laki. Perempuan tetaplah perempuan dengan segala kemampuan dan kewajibanya. Yang harus berubah adalah perempuan harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Perempuan harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan”. Emansipasi yang ditawarkan dan dilakukan Rohana tidak menuntut persamaan hak perempuan dengan laki-laki namun lebih kepada pengukuhan fungsi alamiah perempuan itu sendiri secara kodratnya. Untuk dapat berfungsi sebagai perempuan sejati sebagaimana mestinya juga butuh ilmu pengetahuan dan keterampilan untuk itulah diperlukannya pendidikan untuk perempuan. (Rohana Kudus)

Mengapa harus kartini?

Mengapa harus kartini?

PS : Beberapa hari lalu secara tidak sengaja saya membaca sebuah artikel di Facebook, yang isinya hampir sama dengan tulisan ini. Bahkan juga judulnya. Pastinya hanya kebetulan semata. Saya yakin di luar sana masih banyak yang memiliki pertanyaan yang sama “Mengapa Harus Kartini?”

Sebelum ada yang menduga-duga, makanya saya jelaskan. Saya mah orangnya gitu.:mrgreen:

About azzuralhi

Ketika Anda tidak percaya tentang keindahan, selama itu pula Anda tidak akan pernah menemukan keindahan.

Posted on 21 April 2015, in Catatan. Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. Ternyata emansipasi menurut Rohana Kudus lebih masuk akal ketimbang emansipasi yang didengungkan orang2 hari ini. Tulisan yang mencerahkan🙂

    Suka

    • Terimakasih sudah berkunjung bang..
      Ya, intinya perempuan boleh saja mengembangkan diri semaksimal mungkin tapi harus tetap sadar kodratnya sebagai seorang perempuan, istri dan seorang ibu. Hahah

      Suka

  2. karena dia ngetop? well, banyak orang yang nyanyinya jaauuuhhhh lebih bagus dari syah*ini tapi nggak ngetop. :)))) dan kartini kan punya sekolah juga pada akhirnya..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: