Category Archives: Lampung Sai

Repong Damar (Nasib mu kini)

Damar tidak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat Krui, Lampung Barat. Sudah sejak 100 tahun lebih, warga di pesisir pantai yang menghadap Samudera Hindia ini membudidayakan pohon penghasil getah itu. Dari 70 desa yang tersebar di sepanjang Pesisir Krui, hanya 13 desa yang tidak memiliki repong damar.

Lebih dari separo penduduk Pesisir Krui terlibat dalam produksi damar. Baik sebagai pemilik repong, pedagang pengumpul, kuli angkut, pedagang besar damar, pengusaha angkutan, maupun buruh sortir. Maka, tidak mengherankan 80 persen produksi resin damar Indonesia yang mencapai 10 ribu ton per tahun berasal dari Pesisir Krui.

Repong adalah istilah masyarakat Krui untuk menyebut kebun milik mereka yang berisi aneka tanaman. Seperti lada, kopi, petai, durian, nangka, cempedak, duku, juga tumbuhan kayu hutan. Karena pohon damar mendominasi, maka kebun yang menyerupai hutan alam itu disebut Repong Damar. Read the rest of this entry

Taman Nasional Way Kambas

Taman Nasional Way Kambas, terletak di timur Propinsi Lampung dan berjarak sekitar 112 km dari Kota Bandarlampung. Taman nasional way (sungai) kambas ini pertama kali diresmikan oleh Menteri Pertanian tahun 1982. Dengan luas sekitar 130 ribu ha, tempat ini tidak hanya dihuni gajah2 sumatera (Elephas maximus), tp juga merupakan habitat bagi badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) dan beberapa hewan dilindungi lainnya. Menurut sebuah sumber, objek wisata ini paling baik dikunjungi pada bulan Juli s.d. September.

Perjalanan ke kota bandar lampung dari tempat pendaratan ternyata cukup memakan waktu (sekitar 2 jam). disarankan kamu mengatur waktu jangan sampai melakukan perjalanan di tempat ini saat hari sudah gelap, kecuali berombongan dengan kendaraan2 lain yang turun dari kapal. konon kabar kalau sudah malam memudahkan penjahat menjadikan kamu sebagai korban di jalan yang relatif sepi ini. Read the rest of this entry

Manmade forest of Shorea javanica in Krui West Lampung

Shorea javanica, masyarakat lokal mengenalnya sebagai Damar mata kucing, dikembangkan secara bijak dan lestari oleh masyarakat Krui Lampung Barat sejak sekitar 4 generasi yang lalu (kira-kira tahun 1870an). Penanaman Damar mata kucing ini diintercroping dengan beberapa jenis pohon lokal, antara lain Durian, duku, dan petai.

Damar mata kucing yang dipanen dengan cara penyadapan, dipakai sebagai bahan thinner. Pada saat sekarang ini, jenis pohon ini hampir punah. Manmade forest of Shorea javanica di Krui Lampung Barat ini layak dihargai dan disebut sebagai the best of manmade tropical forest di Indonesia. Beberapa forester dan silviculturist dunia telah mengunjungi dan kagum dengan kearifan lokal ini. Adakah optimisme membangun hutan seperti di Krui ini di lokasi lain? Semua terpulang kepada kita, rimbawan Indonesia!(Saifudin Ansori)

Diambil dari saifudinansori.blog

Fresh And Natural di Lembah Hijau


Menyambut Visit Lampung Year 2009, pariwisata Lampung terus berbenah. Taman Wisata Lembah Hijau yang jadi andalan wisata alam buatan di kota Bandar Lampung, kini semakin ramai dikunjungi wisatawan lokal, nasional, juga wisatawan mancanegara (wisman) mulai melirik lantaran ada taman satwa yang jadi titik perhatiannya.

Taman wisata yang berlokasi di JI. Radin Imba Kesuma Ratu, Kampung Sukajadi, Kel. Sukadanaham, Kec. Tanjung Karang Barat, Bandar lampung, kini menjadi andalan bagi wisatawan yang berkunjung ke Lampung.

Apalagi, Provinsi Lampung secara geografis memiliki posisi strategis, sebagai pintu gerbang masuk dari Pulau Jawa ke Sumatera. Juga, warga Lampung yang butuh tempat rekreasi dan hiburan bernuasa lingkungan.

Fresh and Natural, demikian motto obyek taman wisata ini yang sejalan dengan kondisi lingkungan yang bersih, sehat, nyaman, aman dan alami. Karena itu, menariknya taman wisata ini merupakan perpaduan sebuah Taman Rekreasi pegunungan dan area satwa yang menempati suatu area berbukit, lembah serta sebuah sungai kecil berarus deras yang membelah kawasan wisata ini. Read the rest of this entry

Tantangan Budidaya Damar

Dari tribunlampung.co.id dipostkan pada Minggu, 22 November 2009 | 01:03 WIB

Harga damar mata kucing di Kabupaten Lampung Barat masih bertahan rendah, yakni berkisar Rp6.000- Rp6.500/kg, sementara pasokan komoditas itu tetap lancar.

Beberapa petani yang ditemui di kawasan hutan di lintasan Liwa-Krui Lampung Barat, Sabtu, mengatakan harga damar mata kucing sepanjang 2009 cenderung bertahan rendah sehubungan menurunnya permintaan komoditas itu.

“Saya membeli damar dari petani Rp6.000/kg dan menjualnya ke pengumpul Rp6.500/kg. Harga komoditas ini sudah lama bertahan rendah,” kata salah satu petani di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan Lampung Barat, Zul.

Zul mengaku bisa mengirimkan 500 kg damar mata kucing ke agen (pedagang pengumpul) di Jakarta dalam sekali pengiriman. Sebelumnya, petani damar di Desa Gunung Kemala Kecamatan Karya Penggawa Lambar, Solihin, juga mengatakan harga damar di daerah itu masih rendah.

Harga damar kualitas asalan mencapai Rp.6.500, kualitas AC Rp8.500/kg, kualitas AB Rp10.500/kg dan kualitas ekspor ABC Rp13.000/kg.

Kabupaten Lampung Barat merupakan penghasil utama damar mata kucing di Lampung, termasuk di Indonesia. Produksi damar Kabupaten Lampung Barat tahun 2004 mencapai 6.503 ton, tahun 2005 sebanyak 3.992 ton, tahun 2006 sebanyak 6.518 ton, tahun 2007 mencapai 6.250 ton, tahun 2008 sekitar 5.850 ton dan Januari sampai Mei 2009 telah mencapai 2.469 ton.

Harga damar yang bertahan rendah itu dikhawatirkan bisa mengancam keberadaan pohon damar, seperti pohon damar dipotong dan menjualnya ke pengusaha kayu. Tahun-tahun sebelumnya harga damar sempat mencapai Rp13.000- Rp14.000/kg.

Sehubungan damar bisa dikembangkan sebagai komoditas unggulan hasil hutan bukan kayu, maka berbagai kalangan mengharapkan pemerintah daerah setempat mencari jalan keluar untuk menyelamatkan keberlangsungan tanaman damar di Lampung Barat.

Selain itu, petani damar diharapkan membentuk wadah untuk menstabilkan harga komoditas unggulan Lampung Barat itu.(ant)

Lampung Barat (KRUI) Penghasil Damar Terbesar di Dunia


Kabupaten Lampung Barat (Lambar) menyimpan potensi besar getah Damar Mata Kucing (Shorea Javanica). Total pendapatan per tahunnya antara Rp 38- 39 miliar. Hal ini terungkap dalam Pertemuan Multipihak Pengembangan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) Damar Mata Kucing di Hotel Marcopolo, Selasa (9/6).


Kepala Dinas Kehutanan dan Sumber Daya Alam Lampung Barat, Warsito mengungkapkan, produksi damar mata kucing di Lambar dari Januari – Mei 2009 telah mencapai 2.469 ton. “Jika harga rata-rata Rp 6 juta per ton maka nilai ekonomis pendapatannya setara Rp 14,814 miliar. Harga getah damar mata kucing saat ini sekitar Rp 6.000/kg,” kata dia.



Direktorat Statistik dan Ekonomi Moneter dalam Kajian Ekonomi Regional Provinsi Lampung mencatat ekspor lak, getah dan damar Provinsi Lampung sampai Februari 2009 sebesar 181,922 US dolar. Share market-nya sekitar 0,11%.

Kepala Dinas Kehutanan dan Sumber Daya Alam Provinsi Lampung, Arinal Djunaidi mengatakan, getah damar bisa menjadi komoditas unggulan Lampung dari Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK). Bahkan, getah Damar Mata Kucing bisa jadi ikon Lampung.

“Getah Damar Mata Kucing di Krui sangat potensial untuk dikembangkan. Budidaya damar punya dua manfaat sekaligus yaitu pelestarian hutan dan ekonomi,” ujarnya. Potensi damar yang cukup besar, membuat Lampung Barat menjadi penghasil damar terbesar di dunia. (*)

Sumber http://www.tribunlampung.co.id

Damar dan Cara Masyarakat Krui Melestarikan Lingkungan Hidup

Bagi masyarakat krui, mengumpulkan getah damar tidak hanya pekerjaan laki-laki tetapi juga untuk perempuan. Damar Pinus (Shorea javanica) telah diolah di Krui sejak ratusan tahun yang lalu. Kawasan alami pohon damar telah dikenal di luar negeri sudah sejak lama. Para penguasa Belanda pada masa penjajahan menggunakannya sebagai bahan baku untuk memproduksi berbagai produk seperti pernis, cat, tinta, kemenyan dan kosmetik sebagaimana yang dijelaskan Oyos Saroso HN.

panjat damarHingga kini, masyarakat Krui terus melindungi warisan mereka, nuansa hijau pepohonan Damar Pinus mengisi bukit dan peternakan di wilayah pesisir. Masyarakat krui dalam mengelola perkebunan repong damar mempunyai hukum adat untuk melindungi Damar Pinus. Pohon Damar Pinus tidak boleh ditebang dan setiap orang yang melanggar hukum tersebut menerima hukuman dalam bentuk penanaman pohon Damar baru, Bahkan setiap orang yang akan menjadi calon pengantin harus menanam pohon sebelum menikah. Beberapa orang Krui bahkan percaya bahwa mereka dapat berbicara dengan Damar pinus. Selama bertahun-tahun, orang tua di Krui mengatakan kepada anak-anak mereka, “jika Anda butuh uang untuk membayar biaya sekolah anak-anak Anda, berbicaralah dengan pohon Damar”.

250px-Repong_damar_010813_kry

Pengamat budaya Lampung Anshori Djausal mengatakan bahwa adat tidak memiliki makna denotative, Itu jelas merupakan sebuah pesan kepada anak-anak Krui untuk terus menjaga dan melindungi pohon Damar, dan itu telah terbukti berhasil. banyak orang Krui telah sukses dan memiliki tingkat pendidikan yang tinggi sejak orang tua mereka membudidayakan Damar Pinus. Pohon-pohon adalah sumber utama pendapatan bagi masyarakat Krui. Setiap minggu, para petani mengumpulkan getah dan ketika mereka telah merasa cukup, mereka menjualnya ke pengumpul.

3194070665Ancaman terhadap perkebunan repong damar datang pada saat pembukaan perkebunan kelapa sawit yang mengabaikan hukum adat. Pada akhir tahun 1980-an, banyak pohon Damar yang ditebang untuk membuka perkebunan kelapa sawit, dan para penebang liar mencuri kayu Damar Pinus dengan mencampurkannya dengan kayu biasa sehingga polisi tidak menghentikan mereka, karena mereka tidak menyadari para penebang liar telah mencampurnya dengan kayu ilegal Damar pinus. Namun bagaimanapun juga para penduduk desa di desa Pahmungan tetap memegang teguh tradisi mereka dalam melindungi Damar Pinus, puluhan desa lainnya di Lampung Barat juga masih menjunjung tinggi tradisi yang sama.

Husin, seorang penduduk desa Pahmungan berusia 57 tahun, memelihara beberapa pohon Damar di perkebunannya, yang merupakan warisan dari nenek moyang mereka yang telah dimiliki sejak zaman penjajahan Belanda. “Semakin banyak sesorang memiliki repong Damar, maka semakin tinggi pula status sosial yang dimilikinya,” ujar Husin. Menurut data dari administrasi Kabupaten Lampung Barat, saat ini terdapat sekitar 17.500 hektar repong damar di daerah, terutama di daerah pesisir, dengan 1,7 juta pohon. Pohon-pohon yang tumbuh terutama oleh masyarakat desa, menghasilkan sekitar 315 ton getah per tahun, yang sebagian besar diekspor ke Bangladesh, India, Italia, Pakistan dan Arab Saudi. Orang-orang krui tidak hanya mengisi perkebunan Pinus mereka dengan pohon Pinus saja, mereka mengkombinasikan dengan pohon buah-buahan seperti durian, langsat dan lain-lain.

3194071936Kurniadi aktivis lingkungan hidup, yang bekerja sama dengan petani repong damar, mengatakan bahwa secara ekologis, keberadaan petani Damar Pinus tradisional memiliki nilai tinggi. Selain sebagai daerah resapan air, repong damar juga berfungsi sebagai daerah penyangga bagi upaya konservasi di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.
Pada tahun 1997, Pemerintah memberikan penghargaan Kalpataru kepada masyarakat krui, atas komitmen mereka terhadap kelestarian Damar Pinus melalui hukum adat.
Kurniadi mengatakan bahwa bagi masyarakat Krui, repong damar lebih dari sebuah sumber pendapatan. “Ada ikatan yang kuat antara masyarakat Krui dan repong damar, Itu adalah identitas mereka, “katanya. Peneliti dan aktivis lingkungan hidup mengatakan, keberlanjutan repong damar di Krui adalah contoh harmoni antara manusia dan alam.

Melestarikan repong damar tidaklah mudah bagi masyarakat Krui. Beberapa diantara merek telah tergoda untuk menjual perkebunannya untuk mendapatkan uang untuk membeli peralatan rumah tangga yang modern.
Zulfaldi, salah satu eksekutif dari Pemilik Asosiasi Repong Damar, mengatakan bahwa tanpa pengawasan, repong damar mungkin akan lenyap. Datangnya budaya modern, suka atau tidak, telah menggoda anak-anak muda di Krui untuk bekerja di kota-kota besar dan industri dan meninggalkan repong damar,” ujar Zulfaldi. Dia mengatakan bahwa asosiasi ini bekerja sama dengan lembaga penelitian untuk meningkatkan kualitas Damar untuk membantu penambahan harga jualnya. “Kami sedang berusaha untuk menaikkan harga jual Damar dengan sebuah proses yang dapat memperbaiki kualitas getah yang rendah,” katanya.

menjual-getah-damar Sebuah survei yang dilakukan pada tahun 2004 oleh Pusat Riset Kehutanan Internasional menunjukkan bahwa dengan harga jual sekitar Rp 4.000 per kg, petani Damar bisa memperoleh sekitar Rp 10 juta setahun. Jumlah itu tidak termasuk dengan hasil panen pohon-pohon lain yang tumbuh diantara perkebunan Damar tersebut. Panen repong damar dapat memberikan pendapatan yang relatif baik.

Nur Alipin, seorang petani Damar berusia 63 tahun di Pahmungan mengatakan, harga tertinggi terjadi pada tahun 1998, getah Damar bisa mencapai harga Rp 8000 per kilogram. Menurutnya, Idealnya harga berdasarkan pertimbangan biaya produksi, harga minimal harusnya Rp 15.000 per kilogram. Jika kalaa itu satu kilogram getah Damar dapat membeli tiga kilogram beras, namun lain halnya sekarang, harga satu kilogramnya bahkan lebih kecil dari harga beras.

Sumber http://arthaliwa.wordpress.com/
Diambil dari http://lampungbarat.go.id/

 

%d blogger menyukai ini: