Protect Paradise – Belajar Melalui Tanda

save earth

Diambil dari @GreenpeaceID

Kalau dipikir-pikir, kenapa sih kemajuan itu identik dengan kerusakan? Dalam hal ini, kerusakan alam – lingkungan.

Majunya Jakarta ditandai dengan semakin menjamurnya bangunan-bangunan pencakar langit, berhimpit-himpitan menjulang tinggi. Masyarakat sekitar melengkapinya dengan berlomba-lomba mengoleksi kendaraan pribadi. Tidak ada penetralisir bagi asap-asap knalpot, asap itu merangsek masuk paru-paru.

Di Kalimantan, lagi-lagi hutan dijamah tak berperikemanusiaan. Berhektar-hektar hutan diinvasi untuk mengeruk emas hitam yang ruah. Tanpa peduli dampak yang ditimbulkan penambangan-penambangan gila itu bagi lingkungan dan sekitar. Belum lagi lahan yang dibabat untuk dijadikan lahan perkebunan kelapa sawit, semakin menjadi.

Dan di Papua. Ya tuhan, haruskah kita bangga mendapati kenyataan negara ini teramat kaya potensi alamnya? Bagiku itu sebuah dilema. Meskipun Papua penghasil emas terbesar di dunia, jangan kira penduduknya sejahtera. Perusahaan yang mengeksploitasi tanah Papua sampai ke perut bumi memang memberikan semacam upeti pada pemerintah. Tapi jangan harap upeti itu dirasakan oleh masyarakat sekitar. Terlalu banyak cukong yang bercokol, yang hanya mementingkan hajatnya sendiri dalam urusan tersebut. Masyarakatnya masih saja tertinggal, miskin, tak banyak yang mampu mengecap bangku sekolah.

Lalu di Riau sana, hutan dibakar kemudian diganti dengan perkebunan kelapa sawit yang entah siapa pemiliknya. Asap hitam mengepul, membaur dengan udara yang dihirup masyarakat. Tak jarang asap hitam itu berhasil kita ekspor ke luar negeri. Tertawalah, jika ekspor asap itu membanggakan.

Pekan lalu kita dikejutkan kabar, kembali terbakarnya hutan di Riau. Owh ayolah? Apa yang salah? Ini musim hujan, teman, tapi kok bisa ada kebakaran hutan?

Dan tahukah teman? Hal pertama yang ada dalam otak saya, satu-satunya penyebab kebakaran ini pastilah mafia dan ujung-ujungnya kasus ini tidak akan terselesaikan.  Politisi sibuk berdebat, sedangkan para pengusaha cuci tangan.  Pemerintah lebih banyak berdebat kusir siapa yang patut disalahkan dibandingkan mengerahkan kemampuan untuk menghentikan titik api dan memulai menegakkan hukum. [Referensi]

Adakah yang memiliki pemikiran serupa dengan saya? Muak, ya – saya muak. Tapi tidak ada yang bisa saya lakukan untuk memperbaiki borok yang telah beranak, mengakar dan menyatu dalam aliran darah manusia – kita. Uppsss…

Tapi setidaknya, saya tidak akan melakukan apa yang mereka lakukan. Membakar hutan untuk meninggikan pundi-pundinya, lalu dengan pundi-pundi mereka yang menggunung itu mereka gunakan untuk membeli beberapa kebijakan – uang begitu berkuasa. Jika ada konsep Protect Paradise dalam benak mereka, maka yang mereka maksud adalah pundi-pundi kekayaannya.

 Ada apa sebenarnya dengan negara ini? Semuanya kacau balau, tak lebih baik dibanding jaman batu ketika manusia masih hidup berpindah-pindah yang artinya disana berlaku hukum alam, siapa yang kuat dialah yang menang, berkuasa dan bla bla bla bla – kita sudah faham betul pelajaran tersebut. Tapi setidaknya manusia-manusia jaman batu itu mengambil sekedar apa yang mereka butuhkan, sisanya dijaga dengan baik. Karena mereka sadar alam beserta isinya adalah sahabat yang harus dijaga.

Apa sebenarnya yang pikirkan oleh penjahat-penjahat lingkungan itu? Ya Tuhan! Saya sadar ini pertanyaan bodoh yang tidak seharusnya saya tanyakan, pertanyaan yang tidak hanya membuat saya bodoh dimata orang lain tapi juga bodoh dimata saya sendiri. “Jangan pernah menanyakan pertanyaan yang jawabannya sudah kamu ketahui – buang waktu”. Begitu bunyi status saya beberapa waktu lalu.

Namun dari sekian banyak kebodohan di dunia ini, berharap bukanlah hal bodoh. Jadi mari kita berharap orang-orang yang hanya mementingkan kepentingan dirinya sendiri makin berkurang, semakin banyak yang sadar untuk menjaga alam dan lingkungan. Tidak seharusnya kita menyakiti bumi yang telah memberi kita penghidupan – tidak seharusnya, jika kita masih berharap masih ada kehidupan yang lebih indah dimasa datang, untuk generasi penerus kita.

hutan rusak

Diambil dari @GreenpeaceID

Semakin rusak lingkungan kita, maka negara besar ini akan semakin kehilangan identitasnya. Identitas sebagai paru-paru dunia, dengan hutan yang kaya akan flora dan fauna langka dan istimewa. Hilang pula identitas negara agraris, karena tidak ada lagi tanah subur yang menjadi kebanggaan. Yang ada hanyalah tanah tandus dan gersang. Tidak ada lagi negara maritim yang kaya akan biota laut, air laut tak lagi cukup bersih bagi berbagai spesies untuk bertahan hidup. Maka sebelum itu benar-benar terjadi, lets Protect Paradise. Mulai dari hal-hal kecil, mulailah dengan menumbuhkan rasa peduli. Kalau bukan kita, siapa lagi??

Yang hangat, pada tanggal 13 Februari kemarin kita dikejutkan letusan dahsyat gunung kelud. Lagi-lagi musibah alam menyapa kita. Yang lucu, masih saja ada yang menghubung-hubungkan bencana dengan berbagai mistis. Bencana itu peringatan bagi manusia, bahwa alam juga punya kuasa untuk marah. Diatas itu, Tuhan ingin kita membaca – belajar melalui tanda.

About azzuralhi

Ketika Anda tidak percaya tentang keindahan, selama itu pula Anda tidak akan pernah menemukan keindahan.

Posted on 15 Februari 2014, in Personal, Sekitar Kita. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: