Mengenangmu – Ayah

ayah

“Mereka yang bahkan tidak ingat hari lahirmu, akankah mengingat hari matimu..??, Mereka yang tak pernah mendoakanmu dimasa hidupmu, akankah mereka kirim doa untukmu yang kini dalam keabadian?? ,dan bicara tentang ikhlas – aku sedang mencobanya, lagi dan lagi” [sepotong dialog dalam diam, mengenang dia yang telah hilang]

Senja menjelang, pada tanggal yang sama seperti hari ini berita itu serupa hantu yang membuatku hanya mampu terpaku. Ingin menyangkal dan tidak percaya, bahkan ingin rasanya menuntut Dia yang telah mengatur sandiwara kehidupan ini, betapa tidak adilnya skenario yang Dia tentukan untukku kali ini. Aku berdiam, mencoba berdamai meyakinkan diri bahwa semua baik-baik saja, tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja, ini tidak buruk semua orang bahkan semua anak akan mengalami hal yang sama. Jangan bersedih, tak perlu kau khawatirkan masa depan kalian berlima sebab ada Dia yang akan mengurusi semua keperluan kalian. Sudahlah, doakan saja.

Setelah berdamai dengan keadaan satu-satunya hal yang aku ingin lakukan adalah belajar ikhlas, tapi siapa sangka ternyata ikhlas hanya mudah dikata, mudah dilidah, semua upaya rasanya percuma. Sebab hati masih bertanya, masih menyesal dan masih merasa salah.

Salahku, adalah tidak melihat wajahnya untuk yang terakhir kalinya. Sebuah kesalahan fatal yang membuat rasa sesal tak pernah surut hingga rasa ihklas rasanya enggan menyapa hati dan pikiran yang tak pernah bisa diajak kompromi ini.

Ingin rasanya mengulang waktu, akan kulawan ego yang mengusai pikiranku saat itu, harusnya aku pulang saja ketika libur semester, tapi berbagai alasan menahanku untuk tetap disini.

Puncaknya ketika kabar itu sampai ditelinga. Owhh tidak, ini pasti hanya mimpi. Bahkan ketika tubuh yang terbujur kaku terbungkus kain kafan itu selangkah didepanku, aku tidak berani melihatnya – itulah kesalahanku. Kesalahan yang membuat penyesalan tak pernah berakhir.

Bahkan hingga hari ini, aku masih menyesal.

Tidak hanya menyesal karena tidak bisa melihatnya untuk yang terakhir kali, tapi menyesal karena belum sempat menunjukkan bakti padanya. Belum sempat kubuat dia tersenyum bangga, belum sempat kubawakan cahaya dirumah itu.

Satu-satunya yang membuatku sedikit terhibur, petang itu setelah sholat magrib, aku menghabiskan waktu lebih banyak dari biasanya untuk memohon padaNya, bahkan tentang kematian. Setidaknya aku berharap doaku menyertai Ayah saat-saat terakhir dia melawan maut disela tidurnya sore itu.

Buat kalian yang orang tuanya masih lengkap, jangan sia-siakan waktu kalian. Berbuatlah yang terbaik untuk keduanya, sebab waktu takkan pernah terulang.🙂

Semoga Allah/Tuhan, selalu melimpahkan kasih dan sayang yang tiada terkira kepada keduanya sebagaimana keduanya memberikan kasih sayangnya dikala kita kecil dulu hingga sekarang. Aamiin

===

Ayah dengarkanlah, aku ingin berjumpa, walau hanya dalam – mimpi

Allah, peluklah ia dalam rahman dan rahim Mu. Tempatkanlah ia disebaik-baik tempat disisiMu. Ampuni segala dosa dan khilafnya dan terimalah amal ibadahnya selama ini. Orang lain mungkin menilainya ayah yang buruk, tapi bagiku dan saudaraku, kau adalah ayah terbaik sejagad raya ini.

Miss you dad..😦

===
Re-post
@Salemba 25 Agustus 201318

About azzuralhi

Ketika Anda tidak percaya tentang keindahan, selama itu pula Anda tidak akan pernah menemukan keindahan.

Posted on 25 Desember 2013, in 30 Hari Nonstop Ngeblog, Catatan. Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. Semoga ayahanda bahagia disana, semoga ayahanda diterangkan jalannya dan dimudahkan semua urusannya… Semoga keluarga yang ditinggalkan juga senantiasa dalam keadaan baik-baik saja, walau memang, rasa kangen itu akan terus ada… d.~

    Suka

  2. Aamiin…
    Terimakasih atas doanya kawan, semoga kebahagiaan selalu menyertaimu..🙂

    Terimakasih telah sudi berkunjung😀

    Suka

  3. wah, saya juga kangen banget sama ayah saya. 24 agt kemarin tepat setahun kepergian ayah. kisahnya saya posting di sini: http://akuai.blogdetik.com/2013/08/24/tentang-kehilangan-kedua/

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: