Menyusuri Kearifan Lokal Masyarakat Baduy Dalam (Bagian 2)

Air yang mengalir di bawah jembatan bambu ini jernih dan masih layak konsumsi. untuk menuju baduy dalam kita akan melewati beberapa jembatan.

Air yang mengalir di bawah jembatan bambu ini jernih dan masih layak konsumsi. untuk menuju baduy dalam kita akan melewati beberapa jembatan.

Berjalan Dalam Gelap

Melanjutkan postingan sebelumnya. Kami sampai di perbatasan Baduy luar dan baduy dalam menjelang magrib. Matahari mulai menuju ke peraduannya. Ditambah cuaca yang kurang bersahabat. Namun, beruntungnya saya dan seorang teman melewati tanjakan cinta tersebut masih ada sedikit cahaya senja. Sebab setelah berhasil melewati tanjakan yang PR banget tersebut, kami harus melanjutkan perjalanan yang gelap dan lumanyan mencekam.

Untuk pertama kalinya saya harus menyuri jalan setapak tanpa penerangan. Hanya berdua, cewek pula. Jika diperturut sebenarnya saat itu saya takut. Serius. Ini benar-benar mengerikan.

bad atmosphere onion head

Awalnya kami berdua melangkah bersama teman yang lain. Namun kemudian kami tak bisa mengimbangi langkah mereka yang perkasa, namun kami juga tak mau berlama-lama istirahat seperti mereka yang berada di belakang kami. Jadilah kami melangkah semampunya. Pelan..pelaan..pelaaann… hingga akhirnya hanya ada kami berdua.

Mengenaskan, karena tak satupun diantara kami yang membawa senter. Ooohh God. Save us. Kata itulah yang komat kamit saya panjatkan. Untuk mengusir senyapnya hutan belantara yang mencekam, saya mencoba memancing obrolan dengannya. Entah obrolan apa saja, tanya ini itu. Dan ketika tak ada yang bisa diobrolkan, saya yang tak biasanya berdendang, mulai bersenandung lirih dengan lirik yang tak jelas. Apapun, agar ada suara manusia yang terdengar. 

help onion head

Memang mengenaskan, namun saat itu saya juga menemukan hal yang mengesankan. Ketika kami tertatih, meraba-raba tapakan yang tepat agar tidak tersandung oleh akar pepohonan, agar tak terpeleset pada licinnya tanah liat,  kadang-kadang terkecipak pada genangan air, ada sesuatu yang membantu kami. Berchaya, kerlap kerlip, terbang rendah di sekitar kami. Kunang-kunang.

Sekian tahun saya tak melihat mereka, menikmati kerlip neon yang berpijar dari badan kunang-kunang. Mengingatkan masa kecil yang manis di perkampungan nan jauh disana. Selain itu, disepanjang jalan setapak, ada sesuatu yang nampak bersinar. Entah apa. Mungkin semacam ganggang atau apa. Setitik cahaya tentu mencolok ketika disekelilingnya adalah gelap, itulah mengapa pantulan sinar yang lemah itu tak luput dari perhatian saya.

admire onion head

Sejujurnya dalam keadaan terdesak seperti itu kami bisa saja menyalakan hp. Tapi kami tak berani melanggar ketika teringat pada peraturan yang berlaku di peradatan masyarakat Baduy Dalam. No elektronik. Titik. Pasrah sudah.

Sebenarnya ada satu solusi agar kami tak terperangkap gelap, hal ini terinspirasi dari kebiasaan semasa kecil, menangkap kunang-kunang. Jadikan sebagai penerang. Tapi lagi-lagi, kami berada dalam kawasan kampung adat. Tidak boleh macam-macam. Heeuuhh.

noooo onion head

Maka selanjutnya kami hanya mengandalkan insting. Pantulan sinar bulan  separo yang berhasil menyelinapi dedaunan sangat membantu. Sampai kemudian ada seseorang yang berhasil menyusul kami dari belakang. Peserta dari rombongan BPI-Bogor. Thanks God.

Tapi….rupanya dia pun tak punya senter.. haha. Ah, setidaknya kini kami bertiga, ada cowok. Lebih dari cukup.

Dia tetap mengiringi kami dari belakang, dan saya terseok-seok menemukan pijakan yang tepat. Sampai akhirnya “gdebuuugggh” “uuuggghhh”. Saya terpeleset.

“Jangan langsung berdiri, duduk atau rebahan aja dulu sebentar,” kata si mas. Tapi karena perasaan saya mulai bercampur aduk, suaranya terdengar agak samar. Saya refleks berdiri.

Tak lama kemudian kami bertemu dengan dua orang guide cilik, anak baduy dalam. Dan berdasarkan info dari keduanya, ada satu rombongan kecil yang sedang beristirahat tak jauh di depan sana. Mereka dan kami tidak boleh melanjutkan perjalanan tanpa didampingi orang Baduy Dalam. Sementara kedua anak ini mau turun lagi untuk menjemput catering buat sarapan besok pagi. Setelah berterimakasih pada keduanya, kami melanjutkan perjalanan sampai akhirnya bertemu dengan rombongan yang mereka maksud. Lega, rasanya kami bisa kembali bernafas dengan benar.

Setelah melonggarkan otot-otot yang mulai tegang, akhirnya kami melanjutkan perjalanan lagi, dipimpin oleh guide lokal.

Selang beberapa saat kemudian kami sampai di sebuah jembatan bambu yang tak terlalu panjang, di bawahnya mengalir sungai, yang saya yakin bening dan alami. Inilah perkampungan masyarakat Baduy Dalam. Terdengar riuh dan ramai. Banyak sekali pengunjung.

Hampir jam 8 malam. Thanks god, kami sampai, akhirnyaaa..

sigh onion head

Karena rombongan kami sangat banyak, jadilah kami menyewa 2 rumah penduduk. Istilah kerennya, homestay. 1 khusus untuk peserta laki-laki, satunya khusus untuk peserta perempuan. Setelah membenahi tas, kami membersihkan badan yang belepotan di sungai yang tadi kami lewati. Sejuk, tentu saja. Tak ingin berlama-lama karena badan mulai letih. Salin lalu sholat. Dilanjutkan makan malam bersama, ditambah obrolan-obrolan ringan yang menambah hangatnya suasana. Tak lama kemudian kami mulai terbuai dalam alam mimpi.

 Untuk suhu, disini tidak terlalu dingin. Tak perlu jaket hangat apalagi sleeping bag. Tapi bagi yang tidak biasa hidup ala orang perkampungan, yang tidur hanya beralaskan tikar kusam, silahkan saja bawa perlengkapan tersebut.

****

Untuk lebih detailnya mengenai masyarakat adat Baduy Dalam, akan saya sampaikan di postingan berikutnya. Berdasarkan apa yang saya lihat, ketahui dan rasakan.  See ya. Terimakasih telah menyempatkan diri membaca dan mampir disini. wow1 onion headbye1 onion head

About azzuralhi

Ketika Anda tidak percaya tentang keindahan, selama itu pula Anda tidak akan pernah menemukan keindahan.

Posted on 17 Januari 2015, in Journey. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Memang cukup berat perjalanan tersebut bagi kami yang sudah lanjut usia.Tetapi terbayar sudah kengerian jalan setapak di waktu malam hari,dengan menapaki jalan terjal yang licin.Alam ciptaaan Yang Maha Kuasa memang menakjubkan. Tuhan memberkati. Ignatius Arief Mulyadi.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: