Arsip Blog

Itinerary dan Perkiraan Biaya Perjalanan Ke Prau-Dieng

Postingan ini untuk memenuhi janji di postingan sebelumnya. Buat yang udah expert mungkin ga masalah tanpa itinerary. Tapi buat yang masih belajar – seperti saya, itinerary itu mutlak. Senggaknya dengan itu kita punya bayangan. Mesti gimana, kemana, harus bagaimana, jam berapa. Semacam ruler gitu deh. Biar ngga ngaco. Haha.

Mahakarya Sang Pencipta. Foto dijepret oleh mpok Atik :-*

Mahakarya Sang Pencipta.
Foto dijepret oleh mpok Atik :-*

Exploring Dieng/Prau 19-21 September 2014

Meeting Point : Kp. Rambutan, jam 15:00

Jumat
15.00 – 16.00 : Kumpul di meeting point Terminal Kp. Rambutan
16.00 – xx.xx : Perjalanan menuju Wonosobo

Sabtu
05:00 – 07:00 : Tiba di pertigaan dieng
07.00 – 09.00 : Perjalanan menuju Dataran Tinggi Dieng, mampir ke gardu pandang (optional)
09.00 – 11.00 : Melihat Telaga Warna & Telaga Pengilon dskt & dieng theater
11.00 – 12.30 : kawah sikidang
12:30-14:30 : ishoma & Visit Candi arjuna
14:30– 15:30 : Packing Persiapan Menuju Gunung Prau
15:30 – 18:00 : Treking via PATAK BANTENG (pos ii, pos iii, camp area)
18.00 – 21.00 : Pasang Tenda, Masak, Ngopi
21.00 – 04.30 : istirahat Read the rest of this entry

Exploring Dieng Plateau #OTW

Yang terbaru dari kisah perjalanan saya (padahal udah 2 minggu yang lalu..wkwk).

 Finally bisa menginjakkan kaki di tanah Dieng, khususnya gunung Prau. Perjalanan ke Prau sebenarnya sudah direncanakan sejak awal tahun kemarin tapi baru kesampean menjelang akhir tahun. Fyuuhh… sungguh terlalu.

 Langsung saja, perjalanan ini beranggotakan 12 orang. Sebagian besar merupakan orang-orang yang itu-itu saja. #bosen saya liat kalian… :p Haha.

Setelah melewati musyawarah panjang dan alot, dan berdasarkan pertimbangan ini dan itu, akhirnya kami memutuskan naik bis. Ya, karena pilihan lainnya kita bisa naik kereta. Tapi kalau naik kereta, kita harus turun di stasiun Purwokerto, dari sana baru lanjut naik bis kearah wonosobo, baru kemudian naik minibus ke arah Dieng. Ribetkan? Makanya pada milih naik bis. Jakarta – Wonosobo naik bis SINAR JAYA. Kemarin dapat bis AC, ongkos Rp 80.000/orang.

 Meeting point di terminal Kp Rambutan. Janjian jam 3 sore, sampai menjelang jam 6 orang-orangnya baru komplit. Sempat dagdigdug, takut bisnya ga mau nungguin teman yang masih dalam perjalanan. Tapi beruntung mereka baik hati semua, mau nungguin. Bis yang seharusnya berangkat jam 5 sore, baru jalan menjelang jam 6:30. Haha..super sekalii..

Muka galau nungguin orang-orang koleng yang tak kunjung tiba.. :D

Muka galau nungguin orang-orang koleng yang tak kunjung tiba.. 😀

Saran, sebaiknya booking tiket beberapa hari sebelumnya. Biar aman. Biar pasti, dan supaya kita dapat bangku dengan posisi yang nyaman. Nah, untuk naik bus Sinar Jaya ini, posisinya agak masuuuuk ke dalam terminal, khusus bis tujuan luar kota. Kalau biasanyakan kita ngumpul di pintu keluar terminal atau dekat-dekat halte busway.

 Lalu kenapa pilih armada Sinar Jaya, bukan yang lain? Pertama karena berdasarkan hasil searching, memang Sinar Jaya yang banyak direkomendasikan. Salah satu rekomendasi menyebutkan, “supirnya tidak ugal-ugalan, dan yang pasti aman dan nyaman.” Dan kesan yang kami temukan memang begitu. Supirnya ramah, kondektur, petugas loketnya juga.

Narsis sebelum berangkat. ^_^

Narsis sebelum berangkat. ^_^

Dari apa yang saya lihat, Armada Sinar Jaya memiliki sistem yang bagus, tertata dengan rapi. Mereka memiliki rest area sendiri bahkan tempat pengisian bensin sendiri. Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa Armada ini memiliki manajemen yang bagus.

Ketika perusahaan memiliki manajemen yang bagus, perusahaan memperlakukan karyawannya sebagaimana mestinya, maka dengan sendirinya setiap lini yang ada didalamnya memiliki rasa memiliki dan rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap perusahaan.

 Perkiraan kami, sampai disana jam 5 pagi atau paling lambat jam 6. Tapi kami sempat dihadang macet. Woww..sekali. Jalanan yang cukup sempit itu dipadati oleh kendaraan-kendaraan super besar dengan berbagai muatan. Untung pak supir orang yang cukup sabar. Dalam artian tetap cooling down. Nggak mencak-mencak macam supir angkot, yang dikit-dikit mengeluarkan makian, umpatan, segala macam penghuni kebun binatang dirapal. Belum lagi klakson yang meraung-raung, memekakkan telinga.

Rest Area. Mengisi perut yang mulai meraung.

Rest Area. Mengisi perut yang mulai meraung.

Dan ketika salah seorang teman kebelet pipis, si bapak dengan senang hati mencarikan toilet umum, memarkir sebentar kendaraannya. Lalu ketika kami minta diberhentikan ditempat kami janjian dengan mini bus yang kami sewa, beliau memberikan saran-saran yang bagus.

Hingga tibalah kami dengan selamat, dengan mood yang bagus, dan pastinya petualangan seru yang siap memanjakan mata.

Btw Ini perjalanan jarak jauh yang kedua yang saya tempuh dengan bis (perjalanan ke Jawa, kalau sumatera tak usah ditanya). Perjalanan pertama, ketika saya dan teman-teman pulang dari Malang. Turun dari Gunung Merbabu. Tadinya mau naik kereta. Tapi kalau naik kereta mesti ke Jogja terlebih dahulu. Gak keuber. Akhirnya pasrah naik bis. Malang ke Jakarta.

 Yang saya heran, ongkos bis jadi agak kurang wajar. Rp 95.000/orang dengan kwalitas bis yang jauh dibawah bis yang kami tumpangi ketika berangkat. Keadaan Ac yang buruk, dan bis yang nampak mulai uzur. Padahal pas berangkat ongkosnya cuma Rp 80.000/orang, dengan kwalitas bis yang sesuai dengan harga yang harus dibayar.

#Next Post# :mrgreen:

%d blogger menyukai ini: