Arsip Blog

Perjuangan Menuju Puncak Gunung Guntur

Heiiiihooo

This is it, another late (very late) post. ahhaha.
Jadi cerita terakhir dari perjalanan hidup yang singkat ini, beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan ikut teman-teman menjelajahi gunung Guntur 2249 mdpl. Bulan Mei 2014. Itulah mengapa saya bilang very late post. :mrgreen:

Gunung Guntur memiliki ketinggian 2249 Mdpl, terletak di Garut – Jawa Barat. Awalnya, rencana ke guntur itu masih simpang siur. Memilih antara gunung guntur atau gunung cikuray. Beruntung, akhirnya gunung guntur diposisikan untuk didaki setelah pendakian gunung cikuray. Mohon maaf nih cerita ke cikuray menyusul ya..

Pendakian kali ini diikuti oleh 13 orang, sbb:
1. bg rizky (jkt)
2. aqil (jkt)
3. fitri mayeni (jkt)
4. atik (jkt)
5. Pingky (jkt)
6. imam (pwk)
7. Lili (jkt)
8. Temen imam (pwk)
9. sri (jkt)
10. alam (bgr)
11. om Rio(pwk)
12. heri (jkt)
13. lilah (jkt)

Sebagian besar adalah pendaki pemula, terutama fitri dan pingky – ini adalah pendakian pertama bagi mereka. Super sekali. Nggak kebayang capeknya mereka, saya saja yang mendaki papandayan sebagai pendakian pertama merasa sangat lelah dan kesusahan. Papandayan dan Guntur jelas memiliki counter jauh berbeda. Medan di Papandayan jauh lebih ramah untuk para pemula. Sedangkan Guntur sering diibaratkan semeru dari jawa barat. Puncak yang penuh PHP, terlihat dekat namun berjam-jam berlalu, puncak masih belum terinjak.

Miring, kerikil cenderung berpasir, dan minim tempat berpegangan.

Miring, kerikil cenderung berpasir, dan minim tempat berpegangan.

Seperti biasa, kalau tidak seperti biasa berarti bukan saya – packing terburu-buru. Alhasil banyak perlengkapan yang tertinggal. Head lamp, topi, trash bag – lupa dibawa. Ya sudahlah..

Malam itu kami berkumpul di terminal kampung rambutan. Janjinya sih kumpul jam 8 malam, tapi menjelang jam 10 personil masih berceceran di jalan.. hahha

Itulah Indonesia.. :mrgreen:

Oya, untuk kendaraan ke Garut tidak perlu khawatir. Banyak pilihan bis yang bisa ditumpangi. Kemarin kami berangkat menjelang jam 11 malam dan sampai di pom bensin Jatiluhur menjelang jam 3 pagi. Jadi perkiraan perjalanan bis membutuhkan waktu sekitar 4 jam saja.
Sembari menunggu pagi kita bisa beristirahat sejenak, disini ada masjid yang lumayan bisa menampung rombongan pendaki. Yang tidurnya masih kurang bisa dilanjutkan, atau packing ulang.

Antri naik truk

Antri naik truk

Tren pendakian mungkin sudah tak asing bagi masyarakat luas. Dan tren ini tentu jadi lahan pengahasilan bagi masyarakat sekitar. Benar saja, jam masih terlalu dini untuk dikatakan pagi, namun disekitaran pom bensin sudah ada beberapa truk terparkir. Sepertinya faham betul dengan peluang, menambah uang rokok. Sayangnya, saking fahamnya, ada sebagian oknum yang memanfaatkan keadaan. Seharusnya pendaki memberikan bayaran seikhlasnya/secukupnya, namun saat itu ada sebuah rombongan yang harus membayar Rp 30.000,-/orang. Menurut hemat saya sih, itu terlalu berlebihan.

Kita ibaratkan simbiosis mutualisme, antara pendaki dan pemilik truk karena saling membutuhkan dan saling membantu. Memang sih, kalau harus jalan kaki jarak antara gapura dengan lokasi penambangan pasir itu lumayan jauh dan terjal, tapi dengan bayaran segitu tetap tidak masuk akal. Jakarta – garut saja cuma 42.000/orang lhoo.

Saran saja nih, jangan pernah melakukan hal-hal berat dengan perut kosong. Walaupun kami sempat kebingungan mencari sarapan kesana-kemari, tapi akhirnya dapet juga. Kalau mau sedikit bersabar, tepat di depan pom bensin ada yang jualan. Jadi mengenai sarapan tenang saja. Tapi penjual baru akan menjajakan dagangannya jam 6 pagi.
Sedangkan kami, selepas subuh langsung ribut nyari warung nasi.. #tepok jidaaaatt…yaiyah jam segitu belum ada yang jualan.

Masjid dekat gang menuju gunung Guntur

Cuussss… setelah bernarsis ria akhirnya kami dapat giliran naik truk. Jangan khawatir ga dapet truk, karena truk pasir banyak berkeliaran disana. haha. Untuk mempermudah perjalanan pulang, agar pas turun gunung gak bengong nyari truk, mintalah nomor kontak/hp si supir/kenek truk yang kita naiki pas berangkat. Tanyalah, apakah mereka bersedia ngejemput kita pas turun. Repot urusannya kalau kita sampai di penambangan kesorean atau kemalaman. Sebab para truk itu berani hilir mudik di lokasi penambangan hanya sampai jam 4 sore.
Nah lhoooo…mengapa begitu… ada apaa. .dan bagaimana mungkin mereka tidak berani padahal penambangan merupakan daerah mereka sendiri?? Tanya kenapaaa???
Nanti saja :mrgreen:

di sini, tempat teduh merupakan hal mewah.

di sini, tempat teduh merupakan hal mewah.

*****

Kami sampai di lokasi penambangan kira-kira jam 8 pagi. Dengan semangat 45 kamipun mulai menyusuri jalan setapak dengan PERUT KOSONG… #kriiiikk…kriiiikkkk(??)

Yappsss..kami memang sudah membeli sarapan, tapi kami berencana sarapan di pinggir curug citiis, ditemani nyanyian alam, air terjun yang bergemuruh, aliran air yang bergemericik, gesekan dedaunan – melambai seiring desu udara yang menentramkan. Bukankah Read the rest of this entry

%d blogger menyukai ini: