Arsip Blog

Personal Branding : Bersosial Media Yang Bermanfaat

eposter-sunday-sharing-13

Hari Minggu (18/1/2015) sukses diadakan kembali Sunday Sharing yang ke-13. Setelah saya perhatiakan, makin kesini peminat Sunday Sharing semakin ramai saja. Dan memang rugi kalau melewatkan sharing pengetahuan ini. Kita hanya bermodal kehadiran saja. Karena acara ini gratis, dijamu pula oleh detik.com. untuk kesekian kalinya saya bilang detik/blogdetik itu baik banget. Haha.

Berbeda dari Sunday Sharing ke 12 lalu, yang diadakan secara special karena diadakan di luar kantor detik dengan tema special pula. Kali ini Sunday sharing diadakan di kantor detik di daerah warung buncit. Saya kalau kesana taunya naik busway, arah ragunan. Hahah.

Oya sedikit mengenang, saya kenal dengan blogdetik di awal tahun 2013. Dalam rangka ikut acara 100 blogger nonton bareng IMB. Setelah itu berlanjut ikut acara perayaan hari jadi blog detik yang ke -4. Lalu berlanjut dengan bikin blog di detik.

Pernah kepikiran, bahkan sampai sekarang, pengen aktif ngeblog di detik. Tapiiii…. Ah sudahlah.

===

Sunday sharing kali ini mengangkat tema : Konsisten dengan Personal Branding dan Dari Ngetwit Bisa Dapat Duit.

Tema pertama diisi langsung oleh mba Puteri [@putriKPM]. Disini mba puteri juga merangkap sebagai ketua kelas, dan wakil ketua kelasnya ada @anjarsetya1 . Jadi di Sunday sharing itu PIC-nya diganti perbulan. Sehingga semua orang bisa belajar mengorganizer sebuah acara. Mulai dari cari tema yang asik, sampai nyari pembicara yang bersedia sharing pengalaman/pengetahuan ke para blogger.  Read the rest of this entry

Membangun Karakter Bangsa dengan Keteladanan

Dahulu, sebelum masyarakat Indonesia melek huruf, hampir semua informasi disampaikan dengan lisan. Bertutur dari satu orang ke orang lain. Dengan begitu, masyarakat saling menyapa, sering berkumpul dan bersosialisasi untuk berbagi informasi.

Namun setelah perdaban semakin maju, ketika masyarakat yang melek huruf sudah mencapai 95%, tradisi bertutur semakin ditinggalkan. Digantikan oleh tradisi tulis. Bukan berarti tradisi tulis buruk, hanya saja tradisi tulis bersifat individual sehingga kebersamaan untuk bertutur semakin berkurang.

Semakin ditinggalkannya tradisi bertutur membuat bangsa ini semakin jauh dari jati diri. Masyarakat, terutama anak-anak, kehilangan sumber air keteladanan yang sejatinya fondasi untuk membangun karakter diri.

Kartu Peserta

Kartu Peserta

Berangkat dari keprihatinan tersebut, pada tanggal 15 Januari 2015 lalu diadakan seminar “Menggali Jati Diri Bangsa” di Auditorium Gedung Elnusa, Jl. Simatupang – Jakarta Selatan. Acara ini dibuka oleh Bapak Arlan Septia selaku ketua Nusantara Bertutur. Kemudian acara dibagi menjadi dua sesi.

Sesi pertama, mengusung tema “Karakter Masyarakat Indonesia”. Adapun tema ini diisi oleh:

  1. Dr. Kacung Marijan MA (DirJen kebudayaan Kemendikbud)
  2. Megawati Santoso (Akademisi)
  3. Garin Nugroho (Produser dan Sutradara Film)
  4. Prita Kemal Gani (Komunikasi Massa)

Dan dimoderatori oleh Bapak Gilarsi W. Setiono.

Bapak Kacung memulai pembicaraan dengan mengutip ungkapan seorang  tokoh (Saya lupa namanya). Yang intinya, bangsa yang besar adalah bangsa yang kerasukan virus kemajuan. Yaitu bangsa yang memilih cerita rakyatnya menggambarkan perjuangan, cerdas, tangguh, tidak mudah menyerah, teguh pendirian dan mengajarkan kebaikan.

Bangsa yang besar ibarat industri besar. Besarnya sebuah industri terjadi dengan adanya efisiensi, yang dipengaruhi oleh biaya dan sumber daya manusia. Namun ketika biaya tidak memungkinkan, industri kecil masih bisa dibesarkan dengan kolektif efisiensi. Yaitu kerjasama yang baik antara lembaga-lembaga kecil untuk mengalahkan industri yang besar tadi. Kerjasama. Demikian juga halnya dengan membangun bangsa yang besar juga diperlukan kerjasama.  Read the rest of this entry

%d blogger menyukai ini: