Category Archives: Sekitar Kita

Internet[dot]org Internet Tanpa Pulsa Untuk Semua

Internet gratis

Dunia penuh Kesempatan

Dipertemukan kembali dengan teman yang sudah lama tak bersua tentu sangat menyenangkan. Setelah sekian lama mencari jejak keberadaannya, ternyata dipertemukan oleh dunia maya, facebook misalnya.

Ada yang pernah mengalaminya? Saya pernah. Dan bisa saling sapa dengan mereka merupakan kebahagian yang luar biasa.

Lalu bayangkanlah! Tentu kesenangan ini juga merupakan hak bagi mereka, saudara-saudara kita di pelosok sana. Mereka mendapatkan akses informasi lebih mudah dan tahu perkembangan dunia hanya dengan sekali klik.

Maka dengan semangat itulah, pada 17 April 2015, Indosat bersama facebook meluncurkan INTERNET.ORG di Indonesia, tepatnya di Djakarta Theatre.

Internet.org adalah sebuah inisiatif dari facebook yang bertujuan untuk membuat akses internet tersedia bagi 2/3 populasi dunia yang belum terhubung dengan internet. Di Indonesi, Indosat merupakan operator pertama yang menyediakan layanan akses internet mudah tanpa pulsa bagi masyarakat Indonesia. “Internet Tanpa Pulsa untuk Semua” sejalan dengan misi dari program CSR Indosat untuk memberikan manfaat dari akses internet bagi masyarakat Indonesia.  Read the rest of this entry

Manjakan Mata Dan Lidah di Food Truck Festival (Summerecon Digital Center –Serpong)

Food Truck Festival SDC Serpong

Food Truck Festival SDC Serpong

Memasuki kawasan Summerecon Serpong hal pertama yang saya tangkap adalah suasana “nyaman”. Sepanjang jalan tidak ada yang namanya penumpukan kendaraan. Jalanan lancar dan teratur. Demikian juga dengan tata kotanya. Rapi. Banyak ruang terbuka hijau serta terawat. Ah, pokoknya semua orang pasti betah tinggal di kawasan ini. Andai saya punya duit yang banyak.. hahha

Mengikuti Food Truck Festival merupakan kali pertama bagi saya, meski sebenarnya konsep food truck sendiri sudah ada sejak 2012 lalu. Jangan bayangkan truk-truk sayuran atau pengangkut pasir atau truk-truk  besar di jalanan itu deh ya. Karena truk yang digunakan untuk food truck ini sangat berbeda dari apa yang kalian bayangkan. Hehe. Sebagaimana namanya, makanan di festival ini dijajakan dengan truck yang lucu, dengan design yang menarik. Kebersihan jajanan yang ditawarkan bisa dijamain meski hampir semua kegiatan penjual terjadi di dalam truck, lho.  Read the rest of this entry

Personal Branding : Bersosial Media Yang Bermanfaat

eposter-sunday-sharing-13

Hari Minggu (18/1/2015) sukses diadakan kembali Sunday Sharing yang ke-13. Setelah saya perhatiakan, makin kesini peminat Sunday Sharing semakin ramai saja. Dan memang rugi kalau melewatkan sharing pengetahuan ini. Kita hanya bermodal kehadiran saja. Karena acara ini gratis, dijamu pula oleh detik.com. untuk kesekian kalinya saya bilang detik/blogdetik itu baik banget. Haha.

Berbeda dari Sunday Sharing ke 12 lalu, yang diadakan secara special karena diadakan di luar kantor detik dengan tema special pula. Kali ini Sunday sharing diadakan di kantor detik di daerah warung buncit. Saya kalau kesana taunya naik busway, arah ragunan. Hahah.

Oya sedikit mengenang, saya kenal dengan blogdetik di awal tahun 2013. Dalam rangka ikut acara 100 blogger nonton bareng IMB. Setelah itu berlanjut ikut acara perayaan hari jadi blog detik yang ke -4. Lalu berlanjut dengan bikin blog di detik.

Pernah kepikiran, bahkan sampai sekarang, pengen aktif ngeblog di detik. Tapiiii…. Ah sudahlah.

===

Sunday sharing kali ini mengangkat tema : Konsisten dengan Personal Branding dan Dari Ngetwit Bisa Dapat Duit.

Tema pertama diisi langsung oleh mba Puteri [@putriKPM]. Disini mba puteri juga merangkap sebagai ketua kelas, dan wakil ketua kelasnya ada @anjarsetya1 . Jadi di Sunday sharing itu PIC-nya diganti perbulan. Sehingga semua orang bisa belajar mengorganizer sebuah acara. Mulai dari cari tema yang asik, sampai nyari pembicara yang bersedia sharing pengalaman/pengetahuan ke para blogger.  Read the rest of this entry

Sebercanda Itukah Memerintah Sebuah Negara?!

koruptooor

Jujur saya tidak begitu faham dengan hal berbau perkonomian. Pengetahuan standar saya adalah, ada uang ada barang. Semakin banyak uang maka semakin banyak barang yang dapat diperoleh. Semakin mahal harga barang maka semakin besar nominal yang harus dikeluarkan. Semakin banyak nominal uang yang dibutuhkan maka semakin besar uang yang harus dihasilkan.

Berbicara tentang ekonomi tentu tak luput dari kata sejahtera. Dan dengan alasan demi kesejahteraan rakyat Indonesia, akhir tahun kemarin Pemerintah menaikkan harga BBM. Tak tanggung-tanggung. Padahal harga  minyak bumi sedang turun.

[ngomong-ngomong tulisan ini kelamaan mengendap di draft..heheh]

Namun bulan lalu pemerintah menurunkan harga BBM.

Rakyat merasa dipermainkan.

Bagaimana tidak, kenaikan harga BBM kemarin sudah berdampak pada kenaikan harga dan biaya di berbagai sektor. Lalu tiba-tiba harga BBM diturunkan kembali. Sebagian harga dan biaya yang sudah terlanjur melambung tersebut bisa dipastikan tidak bakalan ikut turun.

Mengapa pemerintah menaikkan harga BBM ketika harga minyak dunia justru turun?

Rasionalitas saya sebagai warga negara yang baik, yang berusaha berbaik sangka dengan Read the rest of this entry

Bayangan di Balik Cahaya

topeng

“Semakin lama kau hidup kau akan semakin menyadari bahwa dunia ini hanya dipenuhi penderitaan, kesengsaraan serta kekosongan. Dengarkanlah! Di dunia ini setiap kali ada cahaya pasti juga akan ada bayangan.” =Uchiha Madara – Naruto Shippuden=

Mungkin kenyataan ini pula yang mendorong seorang filsuf Yunani merapal kata berikut:

“Nasib terbaik adalah tak pernah dilahirkan
Yang kedua, dilahirkan tapi mati muda
Dan yang tersial adalah berumur tua
Berbahagialah mereka yang mati muda.”

Dan kalimat tersebut menjadi salah satu kalimat yang disukai Soe Hok Gie, hingga akhirnya ia mati muda.

Tentu bukan tanpa alasan. Karena memang demikianlah faktanya.
Semakin lama kita hidup di dunia maka semakin banyak kita menyaksikan penderitaan, kesengsaraan serta kekosongan. Yang disebabkan oleh janji-janji palsu para penguasa negara ini.

Gemerlap yang di janjikan namun gelap yang mereka berikan.

Protect Paradise – Belajar Melalui Tanda

save earth

Diambil dari @GreenpeaceID

Kalau dipikir-pikir, kenapa sih kemajuan itu identik dengan kerusakan? Dalam hal ini, kerusakan alam – lingkungan.

Majunya Jakarta ditandai dengan semakin menjamurnya bangunan-bangunan pencakar langit, berhimpit-himpitan menjulang tinggi. Masyarakat sekitar melengkapinya dengan berlomba-lomba mengoleksi kendaraan pribadi. Tidak ada penetralisir bagi asap-asap knalpot, asap itu merangsek masuk paru-paru.

Di Kalimantan, lagi-lagi hutan dijamah tak berperikemanusiaan. Berhektar-hektar hutan diinvasi untuk mengeruk emas hitam yang ruah. Tanpa peduli dampak yang ditimbulkan penambangan-penambangan gila itu bagi lingkungan dan sekitar. Belum lagi lahan yang dibabat untuk dijadikan lahan perkebunan kelapa sawit, semakin menjadi.

Dan di Papua. Ya tuhan, haruskah kita bangga mendapati kenyataan negara ini teramat kaya potensi alamnya? Bagiku itu sebuah dilema. Meskipun Papua penghasil emas terbesar di dunia, jangan kira penduduknya sejahtera. Perusahaan yang mengeksploitasi tanah Papua sampai ke perut bumi memang memberikan semacam upeti pada pemerintah. Tapi jangan harap upeti itu dirasakan oleh masyarakat sekitar. Terlalu banyak cukong yang bercokol, yang hanya mementingkan hajatnya sendiri dalam urusan tersebut. Masyarakatnya masih saja tertinggal, miskin, tak banyak yang mampu mengecap bangku sekolah.

Lalu di Riau sana, hutan dibakar kemudian diganti dengan perkebunan kelapa sawit yang entah siapa pemiliknya. Asap hitam mengepul, membaur dengan udara yang dihirup masyarakat. Tak jarang asap hitam itu berhasil kita ekspor ke luar negeri. Tertawalah, jika ekspor asap itu membanggakan.

Pekan lalu kita dikejutkan kabar, kembali terbakarnya hutan di Riau. Owh ayolah? Apa yang salah? Ini musim hujan, teman, tapi kok bisa ada kebakaran hutan?

Dan tahukah teman? Hal pertama yang ada dalam otak saya, satu-satunya penyebab kebakaran ini pastilah mafia dan ujung-ujungnya kasus ini tidak akan terselesaikan.  Politisi sibuk berdebat, sedangkan para pengusaha cuci tangan.  Pemerintah lebih banyak berdebat kusir siapa yang patut disalahkan dibandingkan mengerahkan kemampuan untuk menghentikan titik api dan memulai menegakkan hukum. [Referensi]

Adakah yang memiliki pemikiran serupa dengan saya? Muak, ya – saya muak. Tapi tidak ada yang bisa saya lakukan untuk memperbaiki borok yang telah beranak, mengakar dan menyatu dalam aliran darah manusia – kita. Uppsss…

Tapi setidaknya, saya tidak akan melakukan apa yang mereka lakukan. Membakar hutan untuk meninggikan pundi-pundinya, lalu dengan pundi-pundi mereka yang menggunung itu mereka gunakan untuk membeli beberapa kebijakan – uang begitu berkuasa. Jika ada konsep Protect Paradise dalam benak mereka, maka yang mereka maksud adalah pundi-pundi kekayaannya.

 Ada apa sebenarnya dengan negara ini? Semuanya kacau balau, tak lebih baik dibanding jaman batu ketika manusia masih hidup berpindah-pindah yang artinya disana berlaku hukum alam, siapa yang kuat dialah yang menang, berkuasa dan bla bla bla bla – kita sudah faham betul pelajaran tersebut. Tapi setidaknya Read the rest of this entry

Sampahpun Jadi Ladang Korupsi

Sorry, lagi-lagi saya melempar artikel dari blog orang lain. :mrgreen:

Bicara korupsi memang tidak ada habisnya. Sepertinya semua orang berpeluang jadi koruptor kalau otaknya tidak bersih, termasuk saya dan Anda. Namun saya tidak sampai berpikir bahwa sampahpun bisa dijadikan ladang korupsi. :O

Menilik pada bisik-bisik keributan tentang kekecewaan Wagub Jakarta terhadap DPRD yang tidak menyetujui pengadaan truk sampah beberapa waktu yang lalu, menggerakkan seorang aktivis sekaligus citizen reporter untuk mengecek ke lapangan secara langsung. Bagaimanakah hasil temuannya, silahkan disimak – sampai habiiiiissss. #maksa :mrgreen:

[Iwanpiliang] SABTU, penghujung Januari 2014, pekan lalu saya ke kawasan Bantar Gebang, Bekasi, ke Tempat Penampungan Akhir (TPA) sampah DKI Jakarta. Kawasan lebih 108 hektar milik Pemda DKI itu, di gerbangnya tampak bagai hanggar gudang, ada tulisan TPA, dan judul sebuah perusahaan PT swasta.

“TPA ini milik Pemda, tapi ada pula tulisan perusahaan swasta?”

Demikian pertanyaan sumber menemani saya.

Siapakah pihak swasta itu?

Di bawah bangunan bak hanggar itu, truk-truk pembawa sampah ditimbang. Jumlah tonase truk berikut sampahnya, menjadi acuan total sampah masuk ke TPA ini. Itu artinya berat truk dihitung sebagai sampah. Tidak ada penimbangan truk kosong saat keluar.

Ketika mengamati lalu lintas truk sampah ke luar dari pintu tol Cibubur, hampir sebagian besar truk pengangkut sampah bak terbuka hanya ditutup plastik tebal itu, tidak memiliki tanda uji layak muatan angkutan atau dikenal KIR. Jadi truk kecil riil bermuatan 1,5 ton, mereka main-cantumkan di penimbangan 5 ton. Truk ukuran 6 ton mereka katakan 14 ton. “Ini bagian cara menggelembungkan tonase sampah itu,” ujar sumber saya merinci.

“Timbangan itu hanya basa-basi. Memenuhi persyaratan administrasi.”

Dugaan sumber saya itu, lebih 3.500 ton sampah sehari, angka akal-akalan, alias balon angin, bin haw-haw.

Ia meyakini jika dihitung maka hanya sekitar 2.600 ton saja sampah Jakarta sehari, bukan 6.500 ton. Penggelembungan ini, angka tambun dari kolusi oknum Pemda dengan pihak swasta pengelola telah puluhan tahun menambang “emas” sampah.

Dalam istilah keren saya, oknum Pemda DKI selama ini, melakukan transfer pricinguang APBD, Pemindah-bukuan APBD ke pengelola swasta. Swasta kembalikan dalam bentuk bagi-bagi angpao.

Maka setiap tahun angka sampah DKI ditambah, agar dana bisa dihisap dari penguapan tonase kian besar. Biaya dikeluarkan pemda DKI Jakarta untuk mengangkut sampah ke TPA itu Rp 253. 387 per ton. Anda hitung sendiri jika angka itu dikalikan 3.500 sahaja.

Sekadar gambaran untuk Anda, jika 6.500 ton sehari, maka dalam 2 hari, volume sampah DKI Jakarta, setara dengan volume Candi Borobudur. Volume seukuran Candi Borobudur itu, memang dapat dilihat dari total tumpukan sampah menggunung di dalam kawasan TPA. Namun Read the rest of this entry

%d blogger menyukai ini: