Category Archives: Journey

Menyusuri Eksotisme Gunung Prau – Dieng

Postingan ini merupakan inti dari perjalanan ke Dieng, pada tanggal 19-21 September 2014 lalu.

Setelah menjelajahi komplek candi arjuna yang bertabur bunga, menikmati kemilau hijau telaga warna dan pantulan coklat telaga pingilon dari ketinggian, dan yang terakhir menyusuri kemegahan kawah sikidang. Maka tujuan terakhir dan utama kami adalah pendakian gunung prau. Yahhaa…

Karena cuaca mendung, kami bergegas meninggalkan kawasan kawah sikidang. Tak berapa lama kami sampai di Dieng Kulon. Mampir ke Indomart, menambah persedian logistik, minuman dan keperluan tambahan lainnya.

Awalnya kami berencana mendaki via jalur Pathak Banteng. Tapi berdasarkan berbagai pertimbangan akhirnya kami memutuskan naik lewat jalur dieng. Tapi bukan jalur resmi Dieng kulon. Eeuunngg.. apa yaaa.. pokoknya pas naik itu ngelewatin sekolah (SMP) dan pemakaman di samping kirinya.

Waktu itu kebetulan sekolahan sudah masuk jam pulang sekolah jadi sudah mulai sepi. Jadi kami sempat numpang sholat dan packing ulang. Sempat bertegur sapa juga dengan salah seorang gurunya.

***

Jalur ini terbilang landai. Ahhaa.. pertimbangannya adalah karena diantara kami ada pendaki pemula. Dan berdasarkan saran dari guide, menurutnya jalur pathak banteng terlalu berbahaya untuk pendaki pemula. Cari aman, itulah yang kami putuskan. Read the rest of this entry

Hal Yang Harus Kamu Ketahui Jika Ingin Mendaki Gunung Guntur

Sedikit gambaran waktu dan biaya dari perjalanan ke Gunung Guntur:

  1. 1. Dari Jakarta Naik bus (apa saja, yang penting tujuan garut). Turun di depan pom bensin Jatiluhur. Kami berangkat dari Kampung Rambutan sekitar jam 11 malam, sampainya jam 3 pagi. Lama perjalanan sekitar 4 Jam. Ongkos Rp 42.000/orang (kala itu).
  2. Di pom bensin ini ada masjid yang cukup nyaman. Kita bisa numpang bebersih. Yang masih ngantuk silahkan rebahan dulu sembari menunggu pagi. Yang lain silahkan berbenah atau packing ulang.
  3. Jangan khawatir mengenai truk. Banyak. Jadi jangan lakukan negosiasi sebelum pagi. Kalau nggak nanti kalian dikadalin..wkwk. Mereka (truk) yang udah nongkrong manis di pom bensin sebelum jam 6 itu, bisa jadi menakut-nakuti. Seperti ini “akang mau saya antar ga? truknya jarang. nanti akangnya kesiangan lho. nggak mahal kok, cuma 30 ribu per orang.”

Nah lhoo… Bayangin aja, satu truk ngisi 15 orang dikali 30rb/orang. Jumlahnya? Silahkan hitung sendiri.

Nggak masalah sih kalau kalian punya uang lebih dan buanyaak. nggak masalah. Justru bagus. haha. Nah buat rombongan kere seperti rombongan saya kemarin cuma mampu ngasih 50 ribu/truk (isi 13 orang). Itupun akangnya udah seneeeeng banget. hahah.

Pagi di Gunung Guntur

Pagi di Gunung Guntur

Lain cerita dengan biaya pas balik. Soalnya kami minta dijemput, dan diantar langsung ke terminal garut. Kami diminta bayar 200 ribu/truk (isi 13 orang, dan beberapa teman pendaki yang kebetulan kemalaman juga. maka kami ajak bareng).

Minta antar ke terminal Garut (kalau mereka bersedia, kalau nggak ya jangan maksa). Hal ini untuk efisiensi waktu, dan biaya juga sebenarnya.  Read the rest of this entry

Menyusuri Kearifan Lokal Masyarakat Baduy Dalam (Bagian 2)

Air yang mengalir di bawah jembatan bambu ini jernih dan masih layak konsumsi. untuk menuju baduy dalam kita akan melewati beberapa jembatan.

Air yang mengalir di bawah jembatan bambu ini jernih dan masih layak konsumsi. untuk menuju baduy dalam kita akan melewati beberapa jembatan.

Berjalan Dalam Gelap

Melanjutkan postingan sebelumnya. Kami sampai di perbatasan Baduy luar dan baduy dalam menjelang magrib. Matahari mulai menuju ke peraduannya. Ditambah cuaca yang kurang bersahabat. Namun, beruntungnya saya dan seorang teman melewati tanjakan cinta tersebut masih ada sedikit cahaya senja. Sebab setelah berhasil melewati tanjakan yang PR banget tersebut, kami harus melanjutkan perjalanan yang gelap dan lumanyan mencekam.

Untuk pertama kalinya saya harus menyuri jalan setapak tanpa penerangan. Hanya berdua, cewek pula. Jika diperturut sebenarnya saat itu saya takut. Serius. Ini benar-benar mengerikan.

bad atmosphere onion head

Awalnya kami berdua melangkah bersama teman yang lain. Namun kemudian kami tak bisa mengimbangi langkah mereka yang perkasa, namun kami juga tak mau berlama-lama istirahat seperti mereka yang berada di belakang kami. Jadilah kami melangkah semampunya. Pelan..pelaan..pelaaann… hingga akhirnya hanya ada kami berdua.

Mengenaskan, karena tak satupun diantara kami yang membawa senter. Ooohh God. Save us. Kata itulah yang komat kamit saya panjatkan. Untuk mengusir senyapnya hutan belantara yang mencekam, saya mencoba memancing obrolan dengannya. Entah obrolan apa saja, tanya ini itu. Dan ketika tak ada yang bisa diobrolkan, saya yang tak biasanya berdendang, mulai bersenandung lirih dengan lirik yang tak jelas. Apapun, agar ada suara manusia yang terdengar.  Read the rest of this entry

Menyusuri Kearifan Lokal Masyarakat Baduy Dalam (Bagian 1)

Perjalanan menyusuri kearifan lokal suku baduy dalam, sudah saya agendakan sejak jauh-jauh hari. Hampir 2 bulan sebelumnya. Niat banget ya? Tentu saja. Siapa pula yang tidak tergoda menikmati kearifan budaya yang masih terjaga rapi, ditambah lokasinya juga tidak terlalu jauh dari Jakarta.

Untuk sampai disana kita bisa naik kereta arah merak, turun di Stasiun Rangkas Bitung. Selanjutnya perjalanan ditempuh dengan naik elf ke desa Ciboleger.

Selamat datang di desa Ciboleger..

Selamat datang di desa Ciboleger..

Sepanjang perjalanan menuju desa Ciboleger , kita akan disuguhi panorama alam yang asri, khas perkampungan.

Sebelum memulai pendakian, kita janjian dengan guide orang Baduy Dalam. Ya, tentunya kita harus berkoordinasi karena kita hendak bertamu ke rumah mereka. Orang-orang di sekitar perkampungan ini sangat ramah dan bersahabat, tutur kata lemah lembut dan senyum selalu menghiasi wajah mereka. Damai. Apa adanya. Itulah hal pertama yang saya rasakan.

Jalur menuju Baduy Dalam yang lumayan panjang dan naik turun rupanya memberi ide dan peluang oleh penduduk sekitar untuk menyediakan tongkat kayu bagi pengunjung. Sebatang tongkat dibandrol dengan harga Rp 2.500.

Pintarnya mereka, ketika turun, tongkat-tongkat itu dikumpulkan kembali, untuk dijual pada pengunjung-pengunjung berikutnya. Ya kalau dipikir-pikir buat apa pengunjung membawa pulang tongkat kayu tersebut. Jika ada yang bisa menggunakannya lagi lebih baik tinggalkan saja. Itung-itung untuk membantu menambah pendapatan mereka. Selain itu untuk mengurangi penebangan pohon (sebagai bahan membuat tongkat).

pengarahan sebelum perjalanan dimulai.

pengarahan sebelum perjalanan dimulai.

Setelah mengisi perut, packing ulang, dan sholat, jam 1 siang kami mulai menyusuri jalan setapak. Langkah demi langkah terayun ringan, senada dengan hamparan panorama yang menyejukkan. Rumpun bambu, pepohonan yang rindang, rumah-rumah kayu dengan penduduk yang bersahaja membuat perjalanan ini cukup menyenangkan. Meski tak berapa lama kemudian kami mulai diguyur hujan. Dan perjalanan pun jadi lebih menantang.

 Meski jalan setapak telah dibentuk sedemikian rupa, namun ketika hujan rasanya tetap terasa berat. Sebab medan yang ditempuh merupakan tanah liat nan lengket. Becek.

awalnya biasa saja

awalnya biasa saja

tak lama kemudian hujan mulai mengguyur

tak lama kemudian hujan mulai mengguyur

Setelah lebih dalam memasuki perkampungan, kita akan disuguhi hamparan ladang penduduk Baduy. Saat itu, kebanyakan ladangny kosong, mungkin karena musim panen belum lama berlalu. Kebanyakan isi ladang mereka adalah padi. Tentu diselingi pepohonan sebagai peneduh.  Read the rest of this entry

Perjuangan Menuju Puncak Gunung Guntur

Heiiiihooo

This is it, another late (very late) post. ahhaha.
Jadi cerita terakhir dari perjalanan hidup yang singkat ini, beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan ikut teman-teman menjelajahi gunung Guntur 2249 mdpl. Bulan Mei 2014. Itulah mengapa saya bilang very late post. :mrgreen:

Gunung Guntur memiliki ketinggian 2249 Mdpl, terletak di Garut – Jawa Barat. Awalnya, rencana ke guntur itu masih simpang siur. Memilih antara gunung guntur atau gunung cikuray. Beruntung, akhirnya gunung guntur diposisikan untuk didaki setelah pendakian gunung cikuray. Mohon maaf nih cerita ke cikuray menyusul ya..

Pendakian kali ini diikuti oleh 13 orang, sbb:
1. bg rizky (jkt)
2. aqil (jkt)
3. fitri mayeni (jkt)
4. atik (jkt)
5. Pingky (jkt)
6. imam (pwk)
7. Lili (jkt)
8. Temen imam (pwk)
9. sri (jkt)
10. alam (bgr)
11. om Rio(pwk)
12. heri (jkt)
13. lilah (jkt)

Sebagian besar adalah pendaki pemula, terutama fitri dan pingky – ini adalah pendakian pertama bagi mereka. Super sekali. Nggak kebayang capeknya mereka, saya saja yang mendaki papandayan sebagai pendakian pertama merasa sangat lelah dan kesusahan. Papandayan dan Guntur jelas memiliki counter jauh berbeda. Medan di Papandayan jauh lebih ramah untuk para pemula. Sedangkan Guntur sering diibaratkan semeru dari jawa barat. Puncak yang penuh PHP, terlihat dekat namun berjam-jam berlalu, puncak masih belum terinjak.

Miring, kerikil cenderung berpasir, dan minim tempat berpegangan.

Miring, kerikil cenderung berpasir, dan minim tempat berpegangan.

Seperti biasa, kalau tidak seperti biasa berarti bukan saya – packing terburu-buru. Alhasil banyak perlengkapan yang tertinggal. Head lamp, topi, trash bag – lupa dibawa. Ya sudahlah..

Malam itu kami berkumpul di terminal kampung rambutan. Janjinya sih kumpul jam 8 malam, tapi menjelang jam 10 personil masih berceceran di jalan.. hahha

Itulah Indonesia.. :mrgreen:

Oya, untuk kendaraan ke Garut tidak perlu khawatir. Banyak pilihan bis yang bisa ditumpangi. Kemarin kami berangkat menjelang jam 11 malam dan sampai di pom bensin Jatiluhur menjelang jam 3 pagi. Jadi perkiraan perjalanan bis membutuhkan waktu sekitar 4 jam saja.
Sembari menunggu pagi kita bisa beristirahat sejenak, disini ada masjid yang lumayan bisa menampung rombongan pendaki. Yang tidurnya masih kurang bisa dilanjutkan, atau packing ulang.

Antri naik truk

Antri naik truk

Tren pendakian mungkin sudah tak asing bagi masyarakat luas. Dan tren ini tentu jadi lahan pengahasilan bagi masyarakat sekitar. Benar saja, jam masih terlalu dini untuk dikatakan pagi, namun disekitaran pom bensin sudah ada beberapa truk terparkir. Sepertinya faham betul dengan peluang, menambah uang rokok. Sayangnya, saking fahamnya, ada sebagian oknum yang memanfaatkan keadaan. Seharusnya pendaki memberikan bayaran seikhlasnya/secukupnya, namun saat itu ada sebuah rombongan yang harus membayar Rp 30.000,-/orang. Menurut hemat saya sih, itu terlalu berlebihan.

Kita ibaratkan simbiosis mutualisme, antara pendaki dan pemilik truk karena saling membutuhkan dan saling membantu. Memang sih, kalau harus jalan kaki jarak antara gapura dengan lokasi penambangan pasir itu lumayan jauh dan terjal, tapi dengan bayaran segitu tetap tidak masuk akal. Jakarta – garut saja cuma 42.000/orang lhoo.

Saran saja nih, jangan pernah melakukan hal-hal berat dengan perut kosong. Walaupun kami sempat kebingungan mencari sarapan kesana-kemari, tapi akhirnya dapet juga. Kalau mau sedikit bersabar, tepat di depan pom bensin ada yang jualan. Jadi mengenai sarapan tenang saja. Tapi penjual baru akan menjajakan dagangannya jam 6 pagi.
Sedangkan kami, selepas subuh langsung ribut nyari warung nasi.. #tepok jidaaaatt…yaiyah jam segitu belum ada yang jualan.

Masjid dekat gang menuju gunung Guntur

Cuussss… setelah bernarsis ria akhirnya kami dapat giliran naik truk. Jangan khawatir ga dapet truk, karena truk pasir banyak berkeliaran disana. haha. Untuk mempermudah perjalanan pulang, agar pas turun gunung gak bengong nyari truk, mintalah nomor kontak/hp si supir/kenek truk yang kita naiki pas berangkat. Tanyalah, apakah mereka bersedia ngejemput kita pas turun. Repot urusannya kalau kita sampai di penambangan kesorean atau kemalaman. Sebab para truk itu berani hilir mudik di lokasi penambangan hanya sampai jam 4 sore.
Nah lhoooo…mengapa begitu… ada apaa. .dan bagaimana mungkin mereka tidak berani padahal penambangan merupakan daerah mereka sendiri?? Tanya kenapaaa???
Nanti saja :mrgreen:

di sini, tempat teduh merupakan hal mewah.

di sini, tempat teduh merupakan hal mewah.

*****

Kami sampai di lokasi penambangan kira-kira jam 8 pagi. Dengan semangat 45 kamipun mulai menyusuri jalan setapak dengan PERUT KOSONG… #kriiiikk…kriiiikkkk(??)

Yappsss..kami memang sudah membeli sarapan, tapi kami berencana sarapan di pinggir curug citiis, ditemani nyanyian alam, air terjun yang bergemuruh, aliran air yang bergemericik, gesekan dedaunan – melambai seiring desu udara yang menentramkan. Bukankah Read the rest of this entry

Kaleidioskop 2014

Hello world. Selamat tanggal 14 Januari 2015. Angka 5 akhirnya berhasil melengserkan si angka 4.

Selamat tinggal 2014, terimakasih atas segala kisah yang telah engkau goreskan, dalam hari-hari kami, dengan tinta terindahmu. Entah itu kisah suka maupun duka. Yang jelas, semuanya adalah pelajaran. Terimakasih.

Dan selamat datang padamu, 2015. Please, be nice to us. :*

Mengawali postingan perdana di tahun yang baru ini, tentu tak lengkap jika kita tak menelisik apa saja yang telah terjadi tahun lalu. Sebuah tahun yang amat luar biasa.

Awal tahun kemarin saya nekad keluar dari zona aman. Catet. ZONA AMAN. (Zona aman tidak sama dengan zona nyaman).

Keluar kerja guys. Dan setelahnya petualangan pertama pun dimulai. Yaitu perjalanan ke Bromo dan sekitarnya, bersama mereka,

DSC_0159

lewat Smartrip. Trip organizer terbaik yang pernah saya temui. Tolong dicatet lagi bagian yang ditebalkan. Jadi, tidak menutup kemungkinan, masih banyak TO yang bagus diluar sana.

Apa??? Oh! Masih penasaran saya kerja apa? haha. Segitunyaa…

Jadi, saya dan seorang teman buka jasa percetakan. kecil-kecilan. Namanya kecil-kecilan, berati ga besar. haha. Tapi, alhamdulillah cukup.

Bicara masalah cukup atau tidak itu tergantung cara pikir kita, mengatur keuangan, dan tentunya merasa cukup dan bersyukur. Gak ada yang namanya cukup kalau kita gak bersyukur dan ga pernah merasa cukup. Pasti maunya pengen dan pengen lagi..kurang dan masih kurang. Ah..sudahlah.

Nah, sekalian deh – mumpung :*

Buat teman-teman yang butuh jasa percetakan atau untuk keperluan promosi, bisalah hubungi saya. Seperti brosur, flyer, sticker, majalah, kalender, buku agenda dll (offset). Digital juga bisa, seperti spanduk, banner, roll upp banner, pin, pulpen, mug, jam dinding, kaos dll. Baik untuk keperluan pribadi atau perusahaan kalian.. hahah :mrgreen:

Lanjut, singkat cerita, setelah petualangan ke Bromo tersebut, saya tertarik untuk mengunjungi tempat-tempat indah lainnya di Indonesia ini. Maka bertemulah saya dengan mereka, para pendaki rendah hati yang membimbing saya.

Garis takdir mempertemukan kami dipendakian perdana saya di gunung Papandayan (yang kala itu sebagian juga masih pemula seperti saya). Trip Organizernya tak usah dibahas lah ya. takut ada yang sakit hati..haha.

Usai pendakian, kami sesama peserta tetap menjalin komunikasi dan merencanakan perjalanan-perjalanan selanjutnya. Teman yang gabung juga bertambah satu per satu. Dan itu berlanjut sampai sekarang, dan semoga sampai kapanpun. (walau saya pesimis dengan adanya pengadilan waktu. Waktu dapat merubah segalanya).

image

Mereka orang-orang luar biasa, yang datang dari berbagai latar belakang, dengan kepribadiannya masing-masing. Pastinya. :mrgreen:

Point terpenting atas pembelajaran yang saya peroleh dari semua kebersamaan dengan mereka adalah, SEDERHANA. Tak ada yang perlu dibanggakan di dunia ini.

Terimakasih pada kalian, atas semua kebersamaan dan pelajaran berharganya. Kalian adalah salah satu hal terindah yang pernah saya temui.

Tetaplah bersama. Sesekali mungkin kita akan bergesekan, berselisih faham. Tapi semoga hal itu tidak membuat kita memutus pertemanan. Bahkan terkadang berselisih faham itu penting, agar kita tahu seberapa tulus pertemanan yang kita jalin. If you know what i mean..hahah.

image

Saya sendiri tidak berani menafikan kekuatan waktu. Sekali lagi, waktu dapat merubah segalanya. Tapi satu hal, ingatlah bahwa kita pernah bersama. Berbagi tawa dalam hari dan waktu yang sama. Terimakasih. Danke. Syukron. Thanks. Arigatou. Gomapta. Xie xie.

Selanjutnya, berhubungan dengan dunia kepenulisan. he-em, memang saya tertarik dengan dunia yang satu ini. Singkat kata, saya bergabung dengan FLP (Forum Lingkar Pena). Disini saya juga bertemu dengan orang-orang hebat lainnya. Para penulis terkenal dan para calon penulis hebat… ahaha.. Aamiin.

Anehnya, setelah gabung, semangat menulis saya malah lari entah kemana. Tahun kemarin, Alhamdulillah punya dua buku antologi, (antologi = sebuah buku, dimana isinya ditulis oleh beberapa orang) yang lolos seleksi awal tahun kemarin. Artinya sebelum kelas dimulai. Setelah gabung, saya justru lebih rajin nggak nulis, bahkan sekedar nulis di blog. Tanya keunapaaa?? Saya pun tak tahu. Jangan salahkan sesiapapun, salahkan saya yang malas. wkwk

image

Terimakasih pada kalian, yang sudi singgah dalam hidup saya. Terimakasih atas setiap kebersamaan dan pelajarannya.

Selanjutnya, di dunia ini, sehebat apapun pencapaian seseorang, tetap tidak ada gunanya jika tidak memberi manfaat bagi sesama. Sebagaimana yang disampaikan RadulAllah, bahwa sebaik-baik manusia ialah yang paling banyak memberi manfaat/paling banyak membantu sesama.

Hal inilah yang kemudian mendorong saya untuk bergabung dengan Masyarakat Relawan Indonesia (MRI), yang terhubung langsung dengan Aksi Cepat Tanggap (ACT).

image

Ya, ada banyak lembaga kerelawanan di Indonesia. Dan saya memilih ACT bukan tanpa alasan. Salah satunya karena kecepat-tanggapan mereka bertindak dalam setiap bencana, baik dalam negeri maupun Internasional. Dan saya ingin menjadi bagian dari Aksi yang serba Cepat dan penuh keTanggapan tersebut.

Kalau ada yang berpikir, untuk jadi orang yang sering menolong harus bergabung dalam sebuah lembaga, itu salah. Kita dapat berbagi dimana dan bagaimanapun kita. Bahkan senyum adalah salah satu bentuk berbagi yang paling sederhana. Sederhana tapi dampaknya luar biasa. Itulah keutamaan senyum. Menunjukkan jalan bagi mereka yang tak faham jalan. Atau memberi ongkos pada orang-orang yang kepepet yang kita temui di jalan merupakan hal sederhana yang juga luar biasa.

Kepepet disini maksudnya, orang yang keluar rumah/kantor/bepethian, tanpa sadar lupa membawa uang. Atau dompetnya ketinggalan. Atau dia memang tak punya cukup uang untuk ongkosnya sampai ketempat yang mereka tuju. Hal kecil begini dampaknya luar biasa besar.

Kenapa saya bicara begitu? Karena saya pernah ngalamin. Hahhaa.. Dompet ketinggalan di kantor, dan tidak ada sepeserpun uang yang nyelip di dalam tas. Saya depresi seketika. Mau melas sama supirnya, kok ya ga enak. Dia kan butuh uang. Biar kata cuma uang Rp 2000, itu sangat berharga bagi mereka – para supir angkot. Maka bermodalkan sedikit keberanian, dan menebalkan muka, saya mulai berbisik sama mba-mba di samping. Tentunya dengan muka merah padam bercampur grogi. Ooohhh…!! hanya untuk ongkos Rp 2000, saya harus sebegini malu.

Beruntung mba itu bersedia menyedekahkan uangnya buat saya. Huhu. Seketika itu, saya merasa beliau adalah orang yang patut dikenang, atau bila perlu mendapat piagam penghargaan. Wkwk.

See? Betapa sangat terbantunya saya. Maka, besok-besok kalau ketemu orang yang bingung, kehabisan uang di jalan, jangan ragu untuk membantunya. Jangan berburuk sangka. Kita niatkan untuk membantu. Bukankah segala amal itu tergantung niatnya?

Tapi, bagaimanapun, saya hanyalah seseorang yang sedang belajar. Belajar jadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain dan sekitarnya. Saya tidak lebih baik dari siapapun. Maka, mari belajar bersama. Semoga tahun 2015 menjadi salah satu tahun yang luar biasa bagi kita semua. Aamiin.

Exploring Dieng Plateau #Komplek Candi dan Unexpected Meeting

Melanjutkan postingan sebelumnya mengenai perjalanan ke Dieng. (Dan postingan ini judulnya nggak banget, panjang macam kereta) :mrgreen:

Kami seharusnya bertemu dengan mobil jemputan di pertigaan Dieng. Tapi berdasarkan kebijakan setempat, mobil-mobil besar yang tidak berlabel “pariwisata” tidak diperbolehkan memasuki kawasan tersebut apabila sudah menginjak jam 7, pagi. Maka diturunkanlah kami di sebuah persimpangan, dan alhamduliah mobil jemputan sudah menunggu.

 Selanjutnya mulailah kami menyusun carrier dan segala macam bawaan. Mini bus ini berkapasitas 18 orang (18 bangku). Tapi kalau lebih dikit sebenarnya masih oke.

Penampakan Minibus

Penampakan Minibus

Tempat pertama yang kami tuju adalah kompleks candi arjuna.

Di sekitar candi Arjuna banyak homestay yang sepertinya lumayan coozy, nyaman nan apik.

Sepagian itu kami belum ngapa-ngapain. Belum makan dan yang pasti belum cuci muka.. haha. Beruntung di tempat ini ada WC umum yang cukup bersih. Penjaja makanan khas Dieng juga berjejer.

 Dari semua tempat yang kami kunjungi, kompleks candi arjuna merupakan yang paling spesial, bagi saya.. :p

 Pertama, karena berdasarkan informasi, disana saya dapat menemukan Dandelion yang sebenarnya. Maklum bunga ini kebanyakan tumbuh subur dengan baik didaerah adem alias dataran tinggi yang berhawa dingin. Menemukan mereka bahkan di dekat WC merupakan hal istimewa – lupa, apa itu WC. Haha.

Dandelion Whisper ^__^

Dandelion Whispers ^__^

 Surprise.. karena disana bahkan ada bunga Calla/Lily. Omaaaaiggaatt….omaaiigaatt..omaaaaiigaattt…. Benar-benar kejutan yang manis, tak terduga 😀  . Yang selama ini tertanam di benak, bunga ini hanya mungkin bisa saya temui di perkebunan bunga calla/lily di taiwan. Nun jaaauuh disana. Wajar, karena sebelumnya saya sudah mencoba mencari tahu daerah pertumbuhan bunga lily di indonesia, tapi hasilnya nihil. Tidak ada Informasi yang menyebutkan bahwa di dieng Bunga ini tumbuh subur. Dan sempat dapat Informasi bahwa di belakang kompleks candi, ada sebuah lahan yang khusus membudidayakan bunga ini. Sayangnya saya tidak sempat melihatnya langsung. Dan karena alasan ini pulalah yang membuat saya exited, ingin segera kembali berkunjung ke Dieng.  Semoga segeraa.. 😀

With White Calla/Lily ^__^

With White Calla/Lily ^__^

 Setelah cuci muka dan gosok gigi dan sebagainya, kami beriringan menuju sebuah kedai. Sarapan. Jangan khawatir masalah harga, karena masih standar, sekitar 10rb-15rb sekali makan.

Mari makaaan

Mari makaaan

Konon ceritanya, Kompleks candi ini pertama kali ditemukan oleh seorang tentara Inggris bernama Van Kinsbergen pada tahun 1814. Berbeda dengan candi-candi lain yang sebagian besar ditemukan terpendam di dalam tanah, candi-candi di dataran tinggi Dieng ini pada waktu itu terendam air rawa-rawa. Proses pengeringan dimulai lebih dari 40 tahun kemudian. Entah siapa yang memberi ide, candi-candi ini kemudian diberi nama sesuai dengan nama-nama tokoh pewayangan oleh penduduk sekitar. Candi utamanya adalah Candi Arjuna, yang berhadapan dengan candi berbentuk memanjang dengan atap limasan yang sering disebut sebagai Candi Semar.[Dieng.Yogyes]

di depan Kompleks cnadi arjuna

di depan Kompleks cnadi arjuna

Selanjutnya kompleks candi arjuna sering digunakan sebagai area ruwetan budaya, seperti Dieng Culture Festival yang diadakan pada akhir Agustus kemarin.

Dieng Culture Festival meliputi pemotongan rambut anak gimbal Jalan Sehat dan Minum Purwaceng, Pertunjukan seni tradisi, Pemutaran nominator festival film dieng, Pagelaran wayang kulit, Pesta lampion & kembang api,dan Pagelaran Jazz Atas Awan. Menarik untuk dijadikan salah satu tujuan wisata budaya.

Selain karena udaranya yang memang sejuk, suasana disekitar ditambah adem dengan pohon cemara yang menghijau, mengelilingi komplek candi. Rumput rumput halus yang tumbuh subur di sekitarnya juga menambah indah suasana. Beruntung kami sampai disana masih pagi sehingga masih leluasa menikmati pemandangan yang terhampar indah.

Yang istimewa, disini kita bisa foto bersama para ksatria. Yihhaa…

oik

Dan, jangan abaikan keberadaan Teletubis. Mereka terlihat sangat menggemaskan. Bukan begitu?

 IMG-20140923-WA0003

Menjelang Jam 10 siang, kami bergegas. Melanjutkan perjalanan, menuju destinasi berikutnya.

#Next Post# :mrgreen:

%d blogger menyukai ini: